Pentingnya Kompetisi Dalam Pendidikan (Dasar)

Diskusi tadi pagi di twitter dengan sahabatku, inisial F, cukup mengusik pikiranku. Sebenarnya, gagasan tentang hal ini sudah lama ingin aku tulis di blog, cuma belum sempat saja. Nah, diskusi singkat tadi pagi mengingatkan sekaligus memberi momen buatku untuk menulis tentang masalah ini.

Awalnya si F ini berkicau tentang anaknya yg masuk sebuah SD (sekolah dasar) di mana SD tsb TIDAK menerapkan sistem ranking berdasarkan nilai di kelas siswa. Aku menimpali kicauannya dengan mengutarakan opiniku, yaitu menurutku metode tersebut kurang bagus. Hal ini karena menurutku metode tersebut justru akan merendahkan kemampuan siswa dalam bersaing secara sehat. Ketika kutanya, apakah sekolah tersebut masih mengadakan kompetisi di bidang lain? Ironisnya, dia menjawab ‘iya’. Loh, ini kan jadi bertentangan dengan tujuan dihilangkannya sistem perankingan di kelas? Menurutku, sekolah ini aneh dan tidak konsisten dalam metode pendidikannya.

Bersaing atau berkompetisi adalah kemampuan dasar alami seluruh makhluk hidup, tentu saja termasuk manusia. Kemampuan bersaing ini adalah salah satu fondasi berdiri dan berkembangnya peradaban manusia. Bahkan kehidupan itu sendiri ditopang dengan semangat kompetisi yg kuat, sejak awal dimulainya. Dengan demikian, mau diajarkan atau tidak di sekolah, setiap anak secara alami akan melakukan kompetisi. Nah, daripada mereka berkompetisi dengan cara2 yg tidak baik, mengapa sekolah tak ajarkan siswa bagaimana berkompetisi secara baik dan sehat? Yaitu persaingan yg jujur, adil, dan terbuka.

Seperti juga masalah seks, siswa yg belajar bersaing secara mandiri (tanpa bimbingan dan arahan yg benar) akan berkemungkinan untuk melakukannya dengan cara2 yg buruk. Alih2 ingin mendidik siswa untuk berprestasi, yg artinya juga bersaing sebagai pemenang, sekolah justru mengarahkan siswa untuk menjauhkan diri dari prestasi. Ironisnya justru di bidang yg jadi tujuan utama berdirinya sekolah: akademik. Bagaimana mungkin sekolah tersebut tak mau menghargai prestasi akademik (nilai) tapi aktif menghargai prestasi non akademik?

Berdasarkan beberapa sumber di internet, para penentang sistem ranking nilai di sekolah berpendapat bahwa sistem ranking punya beberapa dampak buruk, antara lain:

- Siswa menjadi rendah diri karena yg jadi juara hanya segilintir orang saja.

Ya jelas yg namanya juara itu jumlahnya sedikit karena dibutuhkan orang2 istimewa dengan kemampuan lebih untuk bisa meraihnya. Jika semua orang jadi juara, otomatis juara jadi tak ada artinya. Orang pintar ada karena ada orang bodoh. Orang kaya ada karena ada orang miskin. Dan seterusnya. Sesuatu yg istimewa dan spesial selalu lebih sedikit dan lebih berharga dari sesuatu yg biasa2 saja. Ini sudah hukum alam.

Ujaran “semua adalah juara” itu menurutku omong kosong dan cenderung sekadar apologia saja. Buktinya, olimpiade sedunia sejak ratusan tahun lalu, juaranya juga selalu 1 orang di tiap bidang. Dari sini, yg perlu ditanamkan pada siswa dan anak adalah bahwa menjadi juara (punya prestasi) di suatu bidang itu bagus. Tapi dibutuhkan kerja keras untuk menjadi seorang juara. Bukan malah kata2 hiburan bahwa seluruh anak adalah spesial dan dengan demikian otomatis layak jadi juara. Ini pembohongan dini namanya.

Aku pribadi selalu mengatakan pada anakku bahwa dia adalah seorang anak yg unik tapi belum tentu spesial. Dan sebagai orangtuanya, aku bertanggung jawab untuk menjadikan dia sebagai anak yg spesial dan pantas menyandang gelar juara. Akan kutanamkan pada anakku bahwa dia punya potensi untuk menjadi apa pun yg dia inginkan, dengan syarat dia mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Kesuksesan hanya bisa diraih dengan kerja keras dan keyakinan yg kuat, tidak otomatis. Man jadda wajada. Tentu baik saja menanamkan optimisme pada anak/siswa, tapi jangan tanamkan optimisme semu nan kosong.

- Siswa menjadi bermental pecundang, bukan bermental pemenang.

Ini alasan yg menurutku aneh. Bagaimana kompetisi akademik akan membuat siswa bermental pecundang? Jadi pecundang karena gagal jadi pemenang? Jika demikian maka ada yg kurang dalam proses pendidikan siswa. Sekolah bertanggung jawab dalam mendidik siswa, tak hanya siswa yg spesial saja, tapi seluruh siswa yg diterimanya. Tentu saja tak semua siswa bisa jadi juara kelas. Tapi jika siswa yg tak jadi juara mendapatkan pemahaman yg benar, mereka tak akan menjadi pecundang. Justru kegagalan bisa dijadikan pemacu bagi mereka untuk meraih kesuksesan. Lihat saja Regina, pemenang Indonesia Idol 2012 baru lalu, yg tak kenal menyerah terus mendaftar sebagai kontestan walau pun telah gagal dalam 6 usaha sebelumnya. Bagaimana jika Regina menyerah pada usaha kedua atau ketiganya? Mungkin saat ini dia cuma sibuk manggung dari kafe ke kafe, atau meniti karir di bidang lain dan mengabaikan potensi menyanyinya yg luar biasa itu.

Orang yg bermental pemenang bukan orang yg SELALU sukses jadi pemenang. Orang bermental pemenang adalah orang yg tak sombong saat menang dan tak minder saat kalah. Orang bermental pemenang adalah orang yg bisa menerima kekalahan dan menjadikannya sebagai batu loncatan untuk meraih kemenangan di langkah selanjutnya. Ini juga harus ditanamkan pada siswa oleh para pendidik di sekolah. Tak jadi juara bukan berarti tak berkesempatan lagi untuk jadi juara.

- Siswa akan menghalalkan segala cara untuk jadi pemenang.

Ini juga alasan bodoh. Kompetisi di sekolah adalah kompetisi yg terawasi dan terkontrol, bukan kompetisi liar. Berarti ada peran besar dari sekolah dan pendidik supaya kompetisi berlangsung dengan sehat. Jika siswa bisa menang dengan cara2 tak sehat, lah itu gurunya ngapain aja di kelas? Tidur? :D Alasan bahwa siswa akan menghalalkan segala cara dalam kompetisi justru menunjukkan ketakmampuan pendidik dan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan yg baik dan benar. Tanamkan pada siswa bahwa menjadi juara sejati itu tak sekadar meraih nomor 1, tapi juga harus meraihnya dengan cara2 yg sehat dan sportif. Justru yg meraih nomor 1 dengan cara2 yg buruk dan kotor adalah sejatinya pecundang.

Aku punya prinsip, proses yg benar selalu menuntut hasil yg baik. Aku tak percaya ujaran “tak apa gagal, yg penting prosesnya benar” karena itu tak masuk akal. Kecuali, jika melibatkan hal2 yg memang tak masuk akal. Kegagalan, aku yakin, pasti hasil dari proses yg salah atau setidaknya kurang benar. Ini yg aku ajarkan pada anakku dan menanamkannya dalam bentuk evaluasi dan perbaikan diri. Jika anakku mendapat nilai buruk dalam sebuah mata pelajaran, hal pertama yg aku tanyakan padanya adalah “mengapa”. Kegagalan itu harus diakui dulu. Dari situ kami –aku dan anakku– akan lakukan evaluasi bersama dan perbaiki semua kesalahan dan kekurangan yg terjadi. Dengan begitu dalam ujian selanjutnya dia bisa mendapatkan hasil yg lebih baik. Ini yg aku harapkan pula dari sekolah dan guru2-nya.

- Tak semua juara akademik itu menjadi orang sukses.

Biasanya yg sering dijadikan contoh adalah Bill Gates –pendiri Microsoft– atau yg baru2 ini Mark Zuckerberg –pendiri Facebook– yg sukses walau pun tak lulus (drop out) perguruan tinggi. Aku sering senyum sendiri jika ada orang beralibi seperti itu. Jika memang menurutnya orang sukses tak perlu kemampuan akademik jalur formal, lalu ngapain repot2 mendaftarkan anaknya ke sekolah? Kenapa tak langsung saja anaknya dididik sesuai minat dan potensinya secara mandiri? Abaikan saja seluruh sistem dan penilaian pendidikan formal yg berlaku. Gampang kan? And I’d say: good luck with that! :D

Sistem pendidikan formal dibangun karena ada alasan yg melatarbelakanginya. Dengan sistem itulah ilmu pengetahuan bisa diterus-kembangkan secara tertata dan berkesinambungan lintas generasi. Perkara sekarang sistem itu dalam pelaksanaannya di negeri kita ini menjadi buruk dan amburadul, itu soal lain. Salahkanlah pemerintah kita yg gagal menyelenggarakannya, bukan menyalahkan sistemnya. Tapi secara umum, dari sistem pendidikan formal inilah peradaban manusia modern berkembang semakin maju. Seluruh teknologi yg kita nikmati saat ini, dibangun oleh orang2 cerdas lulusan perguruan tinggi. Bill Gates boleh saja tak lulus perguruan tinggi, tapi tetap saja sistem operasi Microsoft Windows dibangun oleh 4.500 (!) lebih sarjana lulusan perguruan tinggi. Yg merancang, meluncurkan, dan mengoperasikan sistem komunikasi yg kita nikmati sehari-hari melalui telepon genggam, seluruhnya adalah lulusan perguruan tinggi.

Lagipula, berapa persen sih orang yg sukses dari jalur pendidikan non formal? Bahkan Bill Gates dan Mark Zuckerberg pun harus mengenyam pendidikan formal juga. Mereka tak melanjutkan sekolah formal di level tertinggi yg sudah mengarah pada spesialisasi. Tapi siapa bisa menjamin mereka berdua akan bisa sesukses sekarang jika SAMA SEKALI tak mengenyam pendidikan formal? Anda bisa menjamin? :) Jika memang tak lulus perguruan tinggi menjamin kesuksesan, seharusnya sekarang ini di negeri kita ini banyak sekali orang sukses. Jumlah mahasiswa putus kuliah di negeri ini masih tinggi loh! Tapi nyatanya, satu saja orang seperti Bill Gates kita tak punya. :D

- Kemampuan setiap anak berbeda, tak semuanya pintar di akademik.

Aku sepakat dengan itu, JIKA kita bicara di tingkat (setidaknya) pendidikan menengah ke atas. Tapi di tingkat pendidikan dasar? Aku tak sepakat. Untuk profil siswa pada umumnya materi pendidikan dasar seharusnya bisa dikuasai seluruhnya oleh siswa. Kemampuan akademik dasar dibutuhkan oleh setiap anak, apa pun kelak pilihan kemampuan yg akan dikembangkannya (spesialisasi). Matematika, bahasa (Indonesia), pengetahuan alam, pengetahuan sosial, juga moral, dst. dalam kapasitas dasar akan dibutuhkan oleh siapa pun, bahkan oleh seniman sekalipun! Seniman boleh tak suka matematika, tapi ia tetap butuh kemampuan berhitung (matematika dasar).

Dalam skala 1 hingga 10, seharusnya seluruh siswa bisa mendapat nilai minimal 6 untuk seluruh mata pelajaran pendidikan dasar. Jika ada siswa yg gagal mencapai itu, perlu dilakukan evaluasi. Bisa jadi ada masalah dengan pribadi siswanya, atau metode mengajar gurunya, atau keterbatasan fasilitas belajar dari sekolah, dan sebagainya. Jika sampai kurikulumnya yg salah, berarti pemerintahnya yg perlu dievaluasi. Aku yakin PASTI ada yg salah. Materi pendidikan dasar harus bisa dikuasai oleh seluruh siswa secara umum. Namanya juga pendidikan dasar. :)

- Belajar kok motivasinya cuma mengejar ranking? Yg benar itu belajar untuk mencari ilmu.

Pendidikan adalah proses transfer ilmu pengetahuan dan informasi dari guru ke siswa. Karena merupakan proses maka harus ada tolok ukur keberhasilan dari proses yg dilakukan tersebut. Inilah mengapa ada penilaian akademik yg menjadi indikator keberhasilan pendidikan di sekolah. Penilaian yg baik adalah penilaian yg kuantitatif (terukur secara numerik) agar penilaian bisa dilakukan dengan seobyektif mungkin. Bukan penilaian kualitatif (non numerik) karena bias subyektivitas bisa mempengaruhi. Jika tak ada tolok ukur keberhasilan, bagaimana kita akan mengetahui dan menilai proses pendidikan yg dilaksanakan telah berhasil mencapai tujuan yg diinginkan?

Karena ada penilaian, secara otomatis kompetisi akan terjadi dengan sendirinya. Mau atau tidak sekolah memberikan peringkat kelas berdasarkan nilai, siswa dengan sendirinya juga akan saling membandingkan di antara mereka. Bukan tak mungkin orangtua siswa juga akan saling membandingkan antar anak2 mereka. Dan itu wajar saja. Kan sudah kubilang kompetisi itu kemampuan dasar alami makhluk hidup. Jadi, menyembunyikan peringkat tapi tetap memberi nilai sebenarnya tak ada gunanya. Nah, daripada kompetisi itu terjadi di luar kendali (yg berpotensi siswa saling bully), lebih baik sekolah jadikan itu sebagai kompetisi formal yg terkontrol dan terawasi.

Di SD anak si F sahabatku itu, kompetisi non akademik juga terjadi. Artinya di sekolah tersebut tetap ada ajang kompetisi. Kompetisi non akademik apalagi dengan tolok ukur kualitatif yg bias justru bisa berdampak buruk pada capaian prestasi akademik siswa, terutama pada siswa yg punya semangat kompetisi tinggi. Siswa2 seperti itu bisa jadi motivasinya malah teralihkan untuk mencari prestasi non akademik daripada prestasi akademik (yg lebih utama) karena prestasi non akademiknya justru lebih dihargai sekolah. Sistem penilaian kualitatif berpotensi memunculkan persaingan tak sehat antar siswa karena penilaian yg bias. Menurutku, sekolah lebih baik tetap mengutamakan kompetisi akademik daripada kompetisi non akademik. Toh fungsi utama sekolah adalah memberikan pendidikan akademik.

- Untuk anak usia SD, kemampuan kompetisi belum penting dikembangkan.

Anak usia SD punya banyak potensi yg perlu dikembangkan. Di usia seperti itu, pemilihan fokus pengembangan lebih ke arah potensi2 yg bersifat mendasar baik secara motorik, kognitif, psikososial, dan bahasa. Menurutku, kemampuan berkompetisi sebagai kemampuan dasar juga perlu diberikan di usia ini. Tentu saja bukan berarti cukup itu saja. Harus dibarengi juga dengan kemampuan2 dasar lainnya, seperti percaya diri, membangun kerja sama, bertoleransi, dan sebagainya. Demikian juga kemampuan2 dasar akademik, seperti aritmatika, mengenal alam sekitar, etika bergaul, menyampaikan pendapat, seni, dan sebagainya.

Aku belum mendapat penjelasan lebih rinci dari si F apa alasan sekolah tersebut mengesampingkan kompetisi akademik. Padahal untuk masuk ke sekolah itu saja, aku yakin si anak telah berkompetisi dengan calon2 siswa lainnya. Bahkan sekolah pun juga berkompetisi agar menjadi sekolah pilihan favorit para orangtua siswa di kota tersebut. Orangtua tentu memilihkan sekolah terbaik untuk anaknya, artinya orangtua juga harus berkompetisi dengan orangtua lain agar anaknya bisa diterima di sekolah pilihannya. Lihatlah… kompetisi terjadi di mana pun, dilakukan oleh siapa pun, bahkan mungkin setiap detik terjadi milyaran kompetisi di atas Bumi ini! Lalu mengapa kemampuan ini tak diajarkan sejak dini pada anak2?

Jadi, tak perlu takut untuk mengajarkan kompetisi pada anak sejak usia dini. Percayalah, mereka punya kemampuan lebih dari yg kita bayangkan. Orangtua seringkali meremehkan (underestimate) kemampuan anaknya sendiri. Secara biologis memang anak adalah “produk” orangtua, namun dalam skala kosmik, anak adalah “produk” semesta. Mereka telah dibekali alam berbagai potensi kemampuan terbaik untuk menjalani kehidupan mereka masing2. Tugas kita sebagai orangtua, dibantu oleh sekolah berikut para gurunya, adalah mengeluarkan seluruh potensi yg mereka miliki menjadi kemampuan yg nyata sehingga mereka bisa memanfaatkannya di jalan dan tujuan yg benar. Kemampuan mana yg akan mereka pilih untuk ditekuni kelak, biarkan mereka sendiri yg memilih.

Tapi… a big but here, I warn you… sebagaimana hal lainnya, kita juga harus melihat dan mengajarkan kompetisi pada anak/siswa secara proporsional. Jangan berlebihan sehingga anak merasa HARUS menjadi juara di segala bidang. Karena seorang juara lari belum tentu bisa menjadi juara tenis, atau sebaliknya. Dan secara alami, apa pun yg berlebihan itu tidak baik. Kompetisi itu penting dan perlu, tapi jangan sampai anak kita menjadi budak kompetisi. Aku memahami kompetisi bukan sebagai ajang untuk mengalahkan orang lain (to beat), melainkan sebagai media untuk menjadi lebih baik dari orang lain (to be better). Menurutku, pelajaran terpenting dari kompetisi bukanlah bagaimana menjadi pemenang, tapi bagaimana mempunyai mental pemenang; yaitu yg tak sombong saat menang dan tak rendah diri saat kalah.

Malang, 9 Juli 2012

“Children must be taught how to think, not what to think.” ~Margaret Mead

13 Responses to Pentingnya Kompetisi Dalam Pendidikan (Dasar)

  1. Oguds says:

    Ini kompetisi masuk SD ya? Penting kompetisinya atau penting pendidikan dasar untuk semua anak ? Masuk SD memang diranklng dari umur, yang tidak bisa dikompetisikan. Salah sendiri ada anak tidak cukup umur, ingin menerobos hak yg lain. Ini bukan masalah kompetisi lagi, tapi keadilan memperoleh pendidikan dasar bagi semua anak.

    Negara memang belum mampu memenuhi hak tersebut untuk semua anak sesuai keinginan semua orang. Ada anak umur 5th ingin masuk SD, itu salah siapa? Tapi itulah kehidupan bukan? Jadi, kayaknya tulisan di atas hangus semua deh. Kecuali, maksudnya kompetisi di tingkat SD. Juara kelas atau sekolah gitu?

    Kalau kelas 1 s/d 4, di mana anak lagi lucu-lucunya bermain, saya pikir kompetisi tidak perlu. Sekedar ada sih silakan saja, daripada muncul kompetisi liar dan anak bikin gank motor di jalanan. Namun untuk kelas 5 s/d 6, karena ingin lanjut ke jenjang berikutnya, kompetisi harus digiatkan. Ini masalah persaingan merebut kursi.

    Tapi kalau dikasih pilihan, Beat vs Spacy, pilih mana? :-)

    • Bee says:

      Hmmm… kurang jelas ya? Maksudku kompetisi di tingkat SD. Juara kelas gitu. Menurutku, sejak awal sekolah, kompetisi juga mulai perlu dikenalkan. Tinggal caranya aja supaya lebih menyenangkan buat anak2.

      Errr… aku pilih Mio aja deh. :P

  2. Nggak ada gunanya kompetisi kalau soal nilai raport. There’s no race there, so what kind of winner do you expect? :P

    Kompetisi biasanya dimanfaatkan dalam metode belajar, misalnya ketika menggunakan permainan. Namanay permainan, maka suka ada kompetisi. Tapi bukan bagian penting dalam pendidikan itu sendiri, hanya metode yang bisa dipilih bisa juga tidak.

    • Bee says:

      Iya, soal nilai rapor. Pemenangnya tentu yg nilainya paling baik. Bukan masalah menang atau kalahnya, om. Tapi sebagai motivasi utk mendapat nilai yg terbaik dgn cara yg baik pula.

      Kalo tak ada kompetisi dlm meraih nilai terbaik, bagaimana siswa termotivasi utk menguasai pelajaran sebaik mungkin? Bagaimana membuktikan bahwa ia sudah menguasai pelajaran dgn baik? Penilaian subyektif guru?

      Trims udah berkenan mampir dan komentar. :)

      • “Bagaimana membuktikan bahwa ia sudah menguasai pelajaran dgn baik? Penilaian subyektif guru?”

        Ketika membuat RPP, guru yang harus menjammin siswa paham dengan materi yang diberikan. Subyektif? Nggak juga. Ilmu evaluasi bisa memastikan pencapaian anak terhadap tujuan pembelajaran: Tercapai atau tidak. Kalau tujuan tidak tercapai, siapa yang salah? Anak?

        Guru yg bertanggung jawab. Jangan salahkan “korban” :D

  3. Maximillian says:

    Lah, ini sampeyan sudah menulis seukuran ini, ya tidak perlu referensi lain lah, cukup keren ini, dengan sudut pandang personal malah lebih asyik buat dikunyah, lebih jujur.

    Pertama, kompetisi itu rasanya asyik kalau menang, dan nggak asyik kalau kalah.Kenapa bisa paham ? Karena pernah mengalami, proses pembelajaran dan pemahaman dari substansi pengetahuan, adalah pengalaman empiris. Homo sapiens junior harus dipahamkan, bahwa masa hidup mereka ke depan, bakal bertemu dengan sesama spesies yang suka berebut sumber daya, entah disengaja atau tidak oleh sistem sosial yang dibuat. Sejak berusia dini, sebaiknya Homo sapiens junior dibiasakan menjadi “pemburu” atau “petani” yang punya nilai/ adab. Karena ini adalah bagian dari proses untuk bertahan hidup, mencegah kepunahan spesies kita.

    Kedua, bedanya spesies kita, Homo sapiens, dengan spesies lain, adalah adanya konsensus nilai, untuk saling membangun ( konstruktif), atau saling menghancurkan (destruktif). Nah, sebaiknya pahamkan bahwa kita hidup dalam masyarakat sosial yang punya nilai untuk saling membangun, tetapi sebenarnya dalam populasi Homo sapiens yang berkepentingan untuk saling membangun, ada beberapa ekor spesies Homo sapiens yang ingin menghancurkan bangunan sosial ini. Cara terbaik buat memahamkan bagaimana ? Ajak untuk berkawan sekaligus berkompetisi, rasakan persahabatan dan pengkhianatan dalam waktu yang tidak jauh beda. Di situlah pusat kesadaran ( consciousness) akan terbentuk proses untuk membangun keputusan : Fight or Flight.

    Ketiga, argumen nomor 1 dan 2 diatas boleh tidak dijadikan bahan hipotesis, soalnya saya belum melakukan proses reproduksi, dalam rangka mencegah kepunahan spesies kita. Namun jika ditanya kenapa pengalaman berkompetisi sebaiknya terjadi saat masa pertumbuhan ? Maka mudahnya adalah : Realitas ketidakpastian di masa hidup Homo sapiens adalah sebuah kepastian yang nyata, oleh karena itu, apapun yang akan terjadi di masa depan, adalah kewajiban generasi sekarang untuk melakukan transfer nilai, kepada generasi yang berikutnya. Demi melanjutkan eksistensi spesies kita juga sebenarnya.

    Manusia boleh punah, tapi kecoa dan bangsa insecta lain tak boleh punah. Manusia punah pun Planet Bumi akan tetap lestari, tapi kalau kecoa punah, maka Bumi akan hancur oleh bangkai spesies lain.

    Saya tidak mau keberadaan spesies kita tidak lebih penting dibanding kecoa dan spesies mereka, mari kita pertanggungjawabkan keberadaan kita di Planet Bumi, sesuai anjuran sesuatu yang bilang bahwa Dia yang telah menciptakan kita dan semesta.

    Mari :)

    • Bee says:

      Betul, kang. Beberapa org sepakat dgn yg dikatakan Mr Smith dlm film The Matrix bahwa manusia sebenarnya adalah virus bagi Bumi. Hehehehe…

      Anyway, ttg destruktif dan konstruktif, ada satu hal yg lupa aku tuliskan di artikel. Aku ajarkan anak utk memandang kompetitor bukan sbg musuh (enemy) tapi sbg mitra (partner). Ketika anak “kalah” dlm suatu kompetisi, aku malah anjurkan dia utk mendekati dan berteman dgn si pemenang dan pelajari apa kelebihannya sehingga bisa jadi pemenang. Kasarnya biar “ketularan” pinternya gitu. Itu juga yg aku lakukan semasa aku sekolah dulu. Kan konon dikatakan teman2-mu menentukan siapa dirimu. Maka berteman dgn para juara membuat kita berkesempatan menjadi juara pula.

      Tapi, aku tetap belum bisa paham dgn pendapat yg mengatakan bahwa kompetisi bagi anak itu merugikan. Semua keberatan mereka sudah aku jawab di atas. Ada yg bisa bantu memberiku pencerahan?

      Trims sudah mampir dan berkomentar, kang Max. :)

      • Maximillian says:

        [ Tapi, aku tetap belum bisa paham dgn pendapat yg mengatakan bahwa kompetisi bagi anak itu merugikan. Semua keberatan mereka sudah aku jawab di atas. Ada yg bisa bantu memberiku pencerahan? ]

        Peer group bisa memberikan induksi kepada karakter Homo sapiens, hanya ukuran replikasinya yang masing- masing kita beda. Gladwell memberikan studi kasus yang baik, antara Carl Langham dengan Oppenheimer, yang basisnya ber-IQ tinggi, tetapi dibesarkan di lingkungan dengan status ekonomis dan sosial yang berbeda. Setidaknya, peer group paling dekat, keluarga pun, beda dalam menyikapi bakat masing- masing anak tadi, ketika dalam usia pertumbuhan.

        Yang berpendapat merugikan, mungkin mereka punya memori traumatik, yang cenderung disikapi sebagai penyebab destruksi psikis, saat mengalami kekalahan. Kata psikolog “Child Burnout”. Anehnya, kasus “burnout” juga terjadi pada anak- anak yang terlahir jenius lho. Sampeyan bisa lihat, bahwa anak- anak yang super jenius, ketika lingkungan tidak bisa menerima argumen mereka, saking cerdasnya, justru secara psikis mereka merasa kehilangan aspek penerimaan dari lingkungannya, dan itu tidak baik untuk pengembangan karakter.

        Kalau masih berawan ( belum cerah juga), mungkin di situ memang masih musim penghujan, coba cek kalender ya :P

  4. Bee says:

    @prajnamu:

    Ketika membuat RPP, guru yang harus menjammin siswa paham dengan materi yang diberikan. Subyektif? Nggak juga. Ilmu evaluasi bisa memastikan pencapaian anak terhadap tujuan pembelajaran: Tercapai atau tidak. Kalau tujuan tidak tercapai, siapa yang salah? Anak?

    Guru yg bertanggung jawab. Jangan salahkan “korban” :D

    Kok arahnya anak sbg korban sih kang? Menurutku, bukan ke situ mikirnya ya.

    Pola “jaminan” guru dan RPP itu sifatnya cenderung searah dan memperlakukan siswa sbg obyek pasif yg seragam. Dan evaluasi searah begitu cenderung tidak reliable. Iya kalo gurunya bener2 jalankan RPP dgn benar? Iya kalo RPP sesuai dgn karakter anak yg beda2 itu? Kalo tidak? Bagaimana evaluasi balik thd guru? Kalo guru gagal menjalankan, sapa yg salah? Anak?

    Siswa bukan benda mati. Dia aktif, dinamis, dan berkarakter. Gmn kalo anaknya yg nakal tak indahkan pelajaran sementara guru sudah maksimal jalankan RPP? Salah siapa? Guru? Bagaimana umpan balik siswa thd guru? Bagaimana peran ortu thd guru dan sekolah? Apalagi jika ortunya juga tak mau peduli, pasrah sepenuhnya pada sekolah. Salah siapa? Guru lagi? Atau anak juga?

    Kalo tak ada penilaian terukur, bagaimana membedakan anak yg paham krn dia memang cerdas dan mampu belajar mandiri (dan dibantu ortu) walaupun guru tak jalankan RPP, dgn anak yg kemampuannya pas2-an shg sulit paham walaupun guru telah jalankan RPP? Siapa yg bertanggung jawab di sini? Guru yg gagal penuhi target RPP? Atau siswa yg tak bisa paham dgn metode RPP?

    Saya bukan guru, jadi saya kurang tau bgmana implementasi riil RPP di sekolah. Namun kasus anak teman saya menunjukkan bahwa RPP tak bisa menjamin siswa bisa menyerap pelajaran dgn baik. Anak teman saya ini, nilai matematikanya selalu rendah di 3 th pertama SD. Kata gurunya, si anak kurang berminat dgn matematika dan itu sudah perolehan optimalnya. Lalu ortunya berinisiatif memberi les pada si anak. Setelah les, hanya dlm 1 bulan, ternyata anak bisa meraih nilai bagus. Bahkan jadi suka dgn matematika yg sebelumnya dibenci. Si anak jadi lebih pede dan meningkatkan semangat belajarnya. Setelah 6 bulan les, dia bisa masuk 10 besar. Sebelum itu, dia selalu ada di 10 kecil (10 besar dari bawah). Nah, mana bukti jaminan RPP yg sampeyan bilang itu? Gurunya selama ini ngapain aja? Padahal itu termasuk sekolah favorit di kota saya, yg katanya lebih bermutu drpd sekolah2 lainnya.

    Kasus anak temen saya itu juga membuktikan bahwa rendahnya nilai dan peringkat jadi indikator adanya sesuatu yg kurang beres dalam pendidikan anak di sekolah. Jika nilai dan peringkat ini tak ada, bgmana ortu akan bisa memantau perkembangan pengetahuan dan pemahaman anak? Diuji sendiri oleh ortu di rumah? Parameter bandingnya kemana? Pengetahuan ortu? Bagaimana ortu bisa evaluasi thd metode guru di sekolah? Makin gak jelas ini.

    Menurut saya, evaluasi harus dilakukan secara aktif oleh semua pihak krn pendidikan anak itu tanggung jawab bersama. Ya siswa, ya guru, ya ortu, ya sekolah. Perbaikan dilakukan dimana memang perlu dilakukan perbaikan. Nilai dan peringkat adalah salah satu tolok ukurnya. Jika nilai anak rendah, evaluasi bareng. Apa anak yg tak mampu serap pelajaran? Atau guru yg cara mengajarnya gak beres? Atau ortu yg abai thd anak? Gak keburu saling menyalahkan begitu saja.

  5. Imam Ms says:

    Saya setuju dengan sistem kompetisi – ranking nilai – dsb.
    Hanya saja .. saya kurang setuju jika tanpa indikator apa-apa .. tanpa progress report harian/mingguan/bulanan .. tau-tau akhir semester divonis : Anak Anda rangking sekian .. prestasinya kurang karena bla-bla-bla …

    Rangking nilai, bagi saya itu penting … paling tidak untuk mengetahui perkembangan dan posisi anak. Sangat penting untuk penentuan langkah selanjutnya. Namun sayangnya implementasi perangkingan sangat tidak saya setujui. Guru terlalu malas untuk melaporkan (Maaf jika kurang berkenan) … atau mungkin karena ribet, gak didukung dg sistem pendukung yg bagus ..

    Dan tidak kalah penting adalah pemahaman rangking prestasi bagi siswa (ortunya juga :D ), jangan sampai terjadi siswa rangkingnya anjlok terus dipukuli .. atau sampai bunuh diri segala .. naudzubillahi min dzalik ..

    • Bee says:

      Adanya ranking bukan utk menghukum atau menyalahkan, apalagi anak/siswa. Ranking lebih utk kepentingan evaluasi oleh dan dari semua pihak yg terlibat dalam pendidikan anak. Jika ranking kemudian disalahgunakan utk menghukum/menyalahkan, berarti dia kurang paham apa fungsi dasar dari ranking thd kompetisi dlm pendidikan. Ya itu salah dia, bukan salah rankingnya. :)

  6. Oguds says:

    Apa yang kita lakukan pada anak kita, tentulah berasal dari pengalaman dan harapan kita sendiri. Nah, saya sendiri sejak SD rasa-rasanya tidak pernah memikirkan soal ranking. Pernah 10 besar, pernah 20 besar, dst, tapi tidak pernah membuatnya sebagai motivasi untuk berkompetisi secara sehat. So what gitu lohh. Barangkali, akibatnya jadi keblangsak seperti sekarang, haha.

    Jangan lupa, kompetisi melihat juga kondisi ikan dan kolamnya. Apakah ikan besar tapi di kolam yg kecil, atau ikan kecil di kolam yg besar. Fenomena ini banyak terlihat di perguruan tinggi. Siswa yg selalu ranking dari SD s/d SMA, ketika diceburkan di kolam besar, bisa terdemotivasi akibat ranking semu yg selama ini dia dapatkan. Sebenarnya, ranking tidaklah berarti apa-apa, tapi seperti kata D’Masiv: “tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik”.

    Hidup yg selalu berkompetisi juga melelahkan. Seperti yg saya komen di atas, berkompetisilah seperlunya. Misalnya kelas 1 s/d 4, buat apa toh selalu mendapat ranking 10 besar. Apa dapet piring cantik begitu ? Nah, tapi ketika terjadi perebutan mendapat bangku, kompetisi akan terjadi dengan sendirinya. Seperti balapan MotoGP, tentu sangat mengenaskan 29 lap selalu nomor satu, tapi di tikungan terakhir jatuh terjengkang.

    Saya jadi ingat hukum seleksi alam dari Charles Darwin. Apakah manusia harus selalu saling mengalahkan? Ini perlu dikritisi, karena belum tentu alam diciptakan seperti itu. Seperti firman Tuhan, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” Berkompetisi dalam harta, tahta, apalagi wanita (haha) hanya akan menjerumuskan. Lupa tujuan hidup sebenarnya. Saya lebih setuju, kita hidup secara harmonis, saling melengkapi dan memberi manfaat. Mengalah untuk menang itu maknanya dalam sekali lho.

    Kembali ke Beat vs Spacy vs Mio, kira-kira kalau diadu balap mana yg menang ya? :-)

    • Bee says:

      Baca paragraf terakhir saya kang Mpu. :) Ranking dan kompetisi adalah alat atau media utk evaluasi dan perbaikan selama proses pendidikan. Bukan tujuan pendidikan itu sendiri. Mengagungkan sistem ranking dan kompetisi juga sama salahnya dgn sama sekali menghilangkannya.

      Seperti saya bilang di artikel, kompetisi seharusnya lebih utk mendidik anak/siswa bermental pemenang, bukan utk selalu menjadi pemenang. Menang tak sombong, kalah tak minder.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: