Orang-orang yg aneh…

Kadang aku gak habis pikir, seseorang yg melakukan sesuatu yg sudah jelas-jelas diperbolehkan (tentu saja gak dilarang) oleh syariat agama kok malah dihujat bahkan sampe didemo segala. Ya, aku lagi ngomongin Aa Gym yg lagi heboh diomongin krn melakukan poligami. Walaupun aku bukan fans Aa Gym, tapi aku mendukung beliau krn apa yg beliau lakukan itu sudah benar, sah, dan hak beliau. Kita gak perlu ngurusin latar belakang dan alasan beliau melakukan poligami, mau nafsu kek, mau harta kek, itu urusan dan tanggung jawab beliau sendiri pada Tuhannya. Dan kita gak berhak mengurusi hal itu apalagi sampe menjustifikasi benar atau salah krn alasan itu. Yg penting, poligami yg Aa lakukan udah sah dan benar. Titik!

Di sisi lain, seseorang yg sudah jelas-jelas (cetho, Jw) melakukan hal yg juga jelas-jelas dilarang bahkan dilaknat syariat agama hingga masuk kategori dosa besar, kok kita malah adem-ayem. Alasan kita, yg “itu urusan pribadi dia” lah, yg “itu tanggung jawab dia sendiri” lah, yg “ah… itu udah biasa” lah, dan lain sebagainya. Hello… bukannya gak kebalik nih?😛 Ya, aku lagi ngomongin si Yahya Zaini, anggota DPR dari Partai Golongan Karya seksi Kerohanian (!) yg terekam sedang melakukan zina. Belum lagi rencana UU untuk legalisasi aborsi, dukungan terhadap kawasan prostitusi, dan lain sebagainya. Coba, apa tindakan kita? Masya Allah, mau jadi apa bangsa ini?😦

Khusus buat para wanita Islam (apalagi yg menggunakan atribut keislaman) yg menolak (bahkan turut menghujat) poligami, tolonglah pelajari lagi agama Islam. Hanya orang-orang bodoh tak berilmu yang menolak poligami yg dilakukan dengan benar dan sesuai syariat. Terlalu banyak alasan yg bisa membuktikan kebenaran solusi poligami, tapi aku gak mau repot-repot menuliskan di blog ini.😛

38 Responses to Orang-orang yg aneh…

  1. WishKnew says:

    1000% agree. Kalo dengan poligami berbuat aniaya, kan pasti dibales juga. Kalo dengan poligami banyak hikmah dan pahala, kan ada ganjarannya juga.

    Kalo nggak suka sate kambing, ya nggak usah makan. Kalau suka sate kambing tapi punya tekanan darah tinggi dan kolesterol banyak, ya jangan maksa. Tapi jangan bilang makan sate kambing itu HARAM.

    Tahu diri aja masing-masing… gak usah ngejudge deh.. apalagi gak ngerti ilmunya…

  2. Priyadi says:

    yang lebih salah lagi itu sebenarnya generalisasi yang berlebihan. istri yang setuju poligami dianggap bersedia untuk dipoligami. suami yang setuju poligami dianggap mau poligami. atau mengkritik perlakuan masyarakat terhadap kejadian ini dianggap sebagai pro aborsi/zina, atau pro/anti poligami, atau apalah🙂

  3. Ardie says:

    Setuju bro, bangsa kita ini memang aneh.
    Walaupun bisa didebat, menurut gue ini bukti begitu kuatnya budaya barat yg meletakkan “perasaan” diatas segala2nya di masyarakat kita. Ya seperi yg Bee bilang, klo pergaulan bebas asal suka sama suka ga diributin terutama di masyarakat perkotaan, tp begitu seseorang melakukan sesuatu yg ga masalah menurut agama tapi berat untuk perasaan, malah dihujat habis2an.
    Apakah kita sudah mulai menuhankan perasaan?

  4. Ravn says:

    generalisasi…(sate kambing…)
    justifikasi…(pe-warta dengan opininya yg gak didukung ilmu yg mumpuni…atau malah menggiring opini publik)

    mending makan sate kambing muda plus jus duren…

  5. bee says:

    @priyadi:
    Setuju, dan memang gak harus begitu. Saya pribadi mendukung poligami semata-mata ingin menghilangkan kesalahpahaman yg berkembang di masyarakat kita bahwa:
    1. Poligami itu salah. Krn poligami -sepanjang dilakukan sesuai syariat- adalah benar.
    2. Zina adalah tanggung jawab pribadi (trus dikaitkan ama HAM). Krn zina sebenarnya adalah tanggung jawab bersama, justru untuk mendukung HAM.
    Tapi saya tidak ada niatan untuk melakukan poligami, eh… belum tepatnya, soalnya gak ada yg tau masa depan.🙂

  6. Fany says:

    yah benar dan salah dalam hal itu hanya Tuhan yg tau, kalo syaratnya sudah sesuai sama ajaran agama sih mgkn benar.
    tapi pengetahuan saya soal poligami belum begitu mendalam sih, jd saya gak ngerti dan gak bisa bilang benar-salah🙂
    Dan memang masyarakat seharusnya gak boleh lgs nge-judge ‘salah’ gitu..
    tapi kalo sah atau tidak, ya itu benar sah, menurut saya🙂

  7. Santi says:

    Poligami aagym jangan dikait-kaitkan dengan ajaran Islam, khawatir malah terjadi perpecahan dan menurunkan nilai-nilai Islam.

    Sama seperti terorisme jangan dikaitkan2 dengan ajaran Islam. Apalagi pakai ngutip2 ayat secara parsial/sebagian saja. Musyrik jadinya.

    So, kalo mau poligami jangan pakai kedok agama dong!
    aagym sudah memberi contoh yang SANGAT-SANGAT BURUK!

    Semoga aagym cepat menyadari kekeliruannya, tidaksombong, tidak takabur, tidak kebinger, mampu menjaga hati, dan SEGERA mohon ampun pada Alloh.

  8. Ahmad says:

    Kalau pakai dalil agama jadi pada mundur, nggak berani nentang poligami nih???
    Apalagi yg melakukannya (selain Nabi Muhammad SAW) orang yg ’sok’ suci, dianggap ilmu Islam-nya sudah tinggi… orang lain kagak berani ngelawan deh…

    Padahal poligami itu kan jelas-jelas menyengsarakan istri pertama? Ajaran Islam yg benar adalah Islam yg membawa manfaat bagi banyak orang. Bukan Islam yg seakan-akan mengharuskan poligami!

    kasihan deh agama Islam selalu jadi ‘kedok’ buat KEJAHATAN.
    Ane haqul yakin Islam yg bener nggak setuju poligami & poliandri.

  9. Jayadi says:

    Pendapat saya sebagai muslim yg sudah sepuh…

    Efek negatif kalo ‘merasa’ ilmu agama paling tinggi adalah “meng-klaim bahwa pikirannya sudah sesuai dengan keinginan Allah, sesuai Al-Quran”. Orang lain yg tidak sepaham dianggap belum mengerti Al-Quran. Itulah yg namanya “KEBLINGER”.

    Poligami harus dipandang secara mendalam, bukan hanya mengutip SEBAGIAN ayat dalam Al-Quran saja. Pemahaman secara dangkal seperti ini sangat berbahaya! Manusia yg picik akan cenderung menganggap dirinya sudah sesuai dengan ajaran Allah/Al-Quran. Termasuk dalam menyikapi suatu kejadian sebagai “KEHENDAK ALLAH”, padahal kejadian tsb adalah “KEHENDAK MANUSIA” itu sendiri.
    Itulah yg namanya “AGAMA DIPAKAI SEBAGAI KEDOK” pembenaran atas perbuatan maksiat. Berbahaya sekali! Contohnya nggak usah jauh2, semua teroris/pengebom azahari/noordin m. top, semuanya merasa melakukan perintah Allah/Al-Quran. Wow… Allah tidak bisa di-klaim serendah itu. :exclaim:

    Demikian Nabi Muhammad tidak bisa dianggap rendah dengan melakukan poligami, karena setting waktu & tempat yang berbeda dengan keadaan sekarang. Intinya Nabi justru melakukan kebaikan dengan poligami-Nya. Nah kita semua ‘manusia biasa’, janganlah sok-sok an dengan menyetarakan diri seperti Nabi, berpikiran seperti Nabi. Itu namanya KEBLINGER!.

    Apalagi sebagai pemimpin sebuah pesantren yg ‘dulu’ ngetop (sejak poligami langsung gak ngetop lagi deh, kawatir jadi “pesantren poligami”). Mengatakan “aa ingin memberikan contoh poligami yang baik” Wah.. kebablasan bener nih. Bagaimana contoh yg baik, bisa muncul dari tindakan yang ‘buruk’, disebut buruk karena:
    1. ternyata aa tidak melakukan prosedur yg benar menurut Al-Quran.
    2. ijin poligami aa, baru diurus kemarin, setelah berita “istri simpanan’ terekpos oleh media masa. (saya lebih cenderung menyebut rini sbg istri simpanan)
    3. perselingkuhan sudah terjadi 3-5 tahun yang lalu tapi ijin poligami baru kemarin.
    4. prasayarat poligami tidak dipenuhi oleh aa (istri tidak mampu punya keturunan, istri sakit, istri meninggal, ijin dari istri pertama yg terlambat)👿
    5. istri kedua ternyata bukan janda yg memerlukan banyak bantuan (janda2 korban perang, janda bencana tsunami, janda korban gempa, dll).👿
    6. tidak ada manusia biasa yg bisa adil terhadap istri-istrinya. (kalo MERASA bisa adil mah banyak…😀 )
    7. poligami aa ternyata ‘nafsu syahwat’ belaka😆 jadi nggak pantas untuk ditiru, apalagi ingin jadi panutan… keblinger banget…

    Demikian sedikit pendapat saya, semoga menjadi jernih dan jelas.

    Kalangan NU dan Muhamadiyah pun sudah sejak tahun 1928 tidak melakukan praktek poligami lagi.

  10. bee says:

    @all:
    Saya gak pernah bermaksud menghakimi apa yg dilakukan Aa Gym itu dhalim apa tidak. Tapi yg jelas Islam tidak melarang dan juga tidak menganjurkan poligami. Ada yg bisa menunjukkan referensi yg jelas bahwa Islam melarang poligami?😛

    So, selama tidak dilarang, kenapa kita yg justru sewot? Sebodo-bodonya Aa Gym, rasanya masih lebih bodo kita deh, yg ilmu masih semata kaki tapi udah sok menghakimi ulama. Kan lucu (sekaligus bego juga), kita menuduh Aa Gym sok suci dan sok pinter, tapi kita sendiri melakukan hal sama untuk masalah yg berbeda. Perkara niat asli Aa Gym itu nafsu, harta, atau apalah, itu bukan urusan kita, itu urusan beliau sama Tuhan.

    Setuju kalo para pelaku bom lokal itu cenderung berkedok agama, krn mengorbankan sesama muslim yg tidak bersalah. Tapi dalam kasus Aa Gym, bukan kedok namanya kalo memang “kedok” itu benar adanya dan sesuai syariat. Jgn dilihat Aa Gym-nya saja, lihat konteks perbuatannya. Jgn egois dan picik memahami aturan agama, krn yg membuat agama (Islam) bukan manusia, tapi Tuhan. Tentu saja Tuhan lebih tau apa yg lebih baik bagi manusia, walaupun kadang2 tampak tidak baik bagi manusia (yg sok tau). Apa bukannya kita yg justru keblinger?

    Ulama2 lain (dari gol manapun) yg tidak melakukan poligami, tidak serta merta berarti poligami itu dilarang. Sepinter-pinternya ulama gak akan bisa mengubah syariat yg benar, terlepas dia mau setuju atau tidak, mau mempraktekkan apa tidak. Acuan Islam jelas, Al Qur’an dan Al Hadist. Lagian, siapa bilang kalangan NU atau Muhammadiyah tidak melakukan praktek poligami?😛

    Buat yg mengatakan bahwa Islam gak setuju poligami, bisa tunjukkan dalil yg valid ttg hal itu?

  11. vicong says:

    Ya saya setuju dengan yang saudara bee utarakan…
    setidaknya aa gym menikah secara sah.
    Yang aneh kok masyarakat malah bersimpati terhadap pelaku zina seperti yahya zaini dan maria eva … dengan alasan pembunuhan karakter-lah, pihak yang dizalimi dsb

  12. Ardie says:

    Waduh dah telat ya..?Gpp deh, komen sedikit aja.

    Yg keblinger itu biasanya orang2 yg mengaku2 sepuh, menghakimi orang tanpa dalil2 yg jelas, menggunakan prasangka2 untuk menghakimi dan mengada2kan syarat2 tambahan yg lagi2 tanpa dalil2 yg jelas.

  13. jeff says:

    maap.. baru baca.. kekekekekeke

    yaa.. kita tunggu aja keputusan Tuhan, apakah langkah yang diambil oleh aa gym itu memang kehendakNya atau bukan…

    gitu aja kok freeport =))

  14. Kodok_Bancret says:

    aku telat juga….

    aku anti poligami karena melihat kenyataannya di masyarakat kita poligami hanya dilandaskan nafsu. kita tidak perlu melihat yang lain, lihat effek nyatanya.

    aku anti poligami karena kenyataannya menyengsarakan istri tua dan anak-anaknya. effek psikologisnya juga parah loh, contoh: anaknya sendiri akan malu lantaran punya bapak tukang kawin, pasti diejek dong oleh teman-temannya.

    praktek poligami yang dilakukan aa gym meresahkan masyarakat lantaran aa gym selama ini merupakan panutan masyarakat banyak. penyejuk jiwa, penyembuh nurani, dll. jangan salah juga, masyarakan non muslim maupun internasional sangat bersimpatik terhadap aa gym.
    😀

  15. bee says:

    @kodok_bancret:
    Sebenarnya males mau nanggepin, tapi kalo gak kok rasanya gak enak juga.

    Apapun motivasi org yg melakukan poligami, mau demi agama kek, mau nafsu kek, mau harta kek, itu adalah urusan pribadi si pelaku. Tapi bukan berarti kemudian poligami jadi salah (disalahkan?) dan ditolak krn motivasi yg salah dari pelaku. Apa Anda juga akan anti sholat kalo ternyata banyak org yg sholat dilandasi oleh riya’? Apa Anda juga akan mendukung pelaku bom bali krn dilandasi oleh semangat jihad?

    Kebetulan saya datang dari keluarga yg juga pelaku poligami. Fakta yg saya hadapi sama sekali berbeda dgn fakta yg Anda ketahui. Keluarga besar kami sangat rukun, gak ada yg disengsarakan, gak ada yg merasa malu, semuanya rukun dan baik2 saja. Bahkan kerukunan itu tetap terjaga hingga sekarang, ketika org2 tua kami sudah meninggalkan kami semua. Dan masih banyak keluarga poligami yg lain yg bisa hidup rukun dan tentram. Bgmana Anda menanggapi fakta ini?😛

    Krn hukum dasar dari poligami adalah mubah (boleh), maka mengharamkan (anti/melarang) atau mensunnahkannya (menganjurkan) tanpa alasan yg syar’i adalah sama buruknya. Suka tidak suka, mau tidak mau, agama Islam tidak melarang dan juga tidak menganjurkan poligami, maka Anda harus terima itu jika masih mau mengakui agama Islam. So, jgn bikin hukum sendiri, apalagi tanpa dilandasi ilmu yg benar.

  16. Ali B says:

    Poligami atas nama agama, membunuh juga atas nama agama. Terorisme atas nama agama. Kenapa menjadi begini?

    Waktu jaman Majapahit, orang Jawa (Gajah Mada, dll) membuat nusantara
    makmur dan jaya. Orang jawa berkebudayaan tinggi, kreatif dan toleran.
    Setelah Islam masuk di Jawa, negara kita hancur korban dari penajahan
    Belanda, Jepang, dsb. Korban dari korupsi, kekerasan/teror, malapetaka. Dan korban dari imperialisme Arab (Indonesia menjadi pemasok turis calon haji yang terbesar di dunia). Orang-orang Arab ini memang hebat telah menemukan cara untuk memasukkan devisa.
    Bagaimana caranya supaya orang Jawa kembali bisa memakmurkan negara kita yang tercinta ini?

  17. bee says:

    @Ali B:
    Sebelum komentar seperti itu, belajar sejarah dulu, bung. Biar gak asbun (asal bunyi).😛

  18. Saleh Aziz says:

    Islam tidak cocok untuk wanita karena Islam menurunkan derajat wanita.

  19. Ali B. says:

    Bee, Mana yang salah? Tolong dikoreksi.

    Benarkah sampai saat ini, hanya Majapahit yang paling jaya dan makmur?
    Benarkah Indonesia adalah negara pemasok jamaah haji yang terbesar di dunia?
    Benarkah kebudayaan orang Jawa sangat tinggi waktu Majapahit?

    Mana yang salah?

  20. Zorion Annas says:

    KRISIS BESAR MELANDA NEGARA IRAN

    Iran adalah salah satu negara terkaya di dunia dilihat dari tambang minyak.

    Tapi sejak para mollah memerintah di negara ini dengan sistim agama yang mencampuri setiap segi kehidupan orang Iran, maka sekarang negara persia ini mengalami krisis besar. Kehidudapan di Iran saat ini sangat susah. Jauh lebih susah dari pada kehidupan waktu di Rusia komunis (USSR). Anak-anak muda sekarang berontak. Jangan-jangan negara ini menjadi seperti Afganistan.

    Gara-gara agama, suatu negara bisa hancur.

    Sayang sekali!

  21. Zorion Annas says:

    POLIGAMI = PELECEHAN WANITA

    Dalam al-Qur’an, ada ayat yang secara eksplisit membolehkan poligami: dua, tiga atau empat orang isteri. Ayat inilah yang selalu menjadi senjata pendukung poligami untuk membenarkannya menurut optik Islam.
    Potongan pertama “ayat poligami” di Qur’an, seakan menyusun tangga jumlah keutamaan pernikahan. Di mulai dari dua, tiga, lantas empat. Yang paling reflek ditangkap logika biasa: cobalah dua dulu; kalau masih berminat, bisa tiga; jika masih ada kemauan dan kemampuan, boleh nambah menjadi genap empat. Bahkan, sementara umat Islam, ada yang sampai hati menjumlahkan bilangan-bilangan yang disebut Tuhan di al-Quran tersebut. Dua plus tiga, plus empat, sehingga menghasilkan jumlah yang fantastis dan menguntungkan kecenderungan pernikahan seseorang. Perbedanaan pemahaman ini tidak lepas dari permasalah hermeneutika (cara tafsir) atas ayat al-Qur’an. Masalahnya adalah, apakah penyebutan dua, tiga, empat, lantas kemudian satu, menunjukkan yang disebut pertama lebih utama (afdlal) dari yang kemudian? Kalau itu dilihat sebagai urutan keutamaan, ya poligami menjadi pilihan.

    Yang sering terlupakan adalah kelanjutan “ayat poligami” ini. Justru, yang terlupakan inilah sebetulnya ruh ayat itu. Yaitu: masalah keadilan. Keadilan atas siapa? Tentu yang dimadu (perempuan). Dari sudut pandang siapa keadilan itu? Ya, jelas sudut pandang perempuan. Sebab, yang menjadi objek poligami adalah perempuan; yang makan hati dan tahu takaran keadilan poligomos adalah perempuan itu sendiri, utamanya yang dimadu (yang terlecehkan).

  22. bee says:

    @Zorion Annas:
    Tentang Iran. Plis deh… jgn buruk rupa cermin dibelah. Kayak anak kecil aja analisanya.😛 Trus yg bisa membuat Rasul SAW dan para Khulafaur Rasyidin sukses mensejahterakan dan memajukan umat dulu pake sistem apa? demokrasi?😛 (ini untuk Ali B juga)

    Tentang “ayat poligami”. Coba dong baca ayat itu dgn teliti, perhatikan kalimat2-nya. Kalo jeli dan mau mikir, pasti bisa nangkep dari sudut pandang mana yg digunakan dalam ayat tsb. Baca dulu yg bener, baru ngomong! Lagian, udah jelas ayat tsb mengijinkan poligami, dgn syarat keadilan. Poin utama posting saya tetap tak terbantah, bahwa Islam tidak melarang poligami, walaupun juga tidak menganjurkan. Anda juga gak bisa membantah bukti nyata bahwa banyak keluarga poligami yg bisa hidup bahagia. Jika ada org yg gak bisa menerapkan poligami yg bener, jgn salahkan poligaminya, salahkan orgnya.😛

  23. B Ali says:

    Ada yang bertanya: Apakah Islam agama teroris?
    Jawaban saya adalah: Tidak ada agama yang mengajarkan umatnya untuk menjadi teroris.

    Tetapi, di dalam Al-Qur’an, ada banyak sekali ayat-ayat yang menggiring umat untuk melakukan hal-hal yang tidak manusiawi, seperti: kekerasan, anarki, poligami dengan 4 istri, anggapan selain muslim adalah orang kafir, dsb. Sikap-sikap tersebut tidak sesuai lagi dengan norma-norma kehidupan masyarakat modern.

    Al-Qur’an dulu diracik waktu jaman tribal, sehingga banyak ayat-ayat yang tidak bisa dimengerti lagi seperti seorang suami diperbolehkan mempunyai istri 4. Dimana mendapatkan angka 4? Kenapa tidak 10 atau 25? Terus bagaimana sakit hatinya istri yang dimadu (yang selalu lebih tua dan kurang cantik)? Banyak lagi hal-hal yang nonsense dan absurde seperti ini di Al-Qur’an. Karena semua yang di Al-Qur’an dianggap sebagai kebenaran mutlak, maka orang muslim hanya menurutinya saja secara taken for granted.

    Banyak pengemuka muslim yang berusaha menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an supaya menjadi lebih manusiawi. Tapi usaha ini sia-sia saja karena ayat-ayat Al-Qur’an itu semuanya sudah explisit sekali. Sehingga tidak bisa ditawar lagi. Jadi umat muslim terjebak.

  24. bee says:

    @B.Ali:
    Nampaknya Anda bukan muslim. Kalo benar begitu, saya rasa diskusi ini gak perlu dilanjutkan krn sudut pandang dan pedoman kita berbeda. Kalo diterusin juga percuma, gak akan ada selesainya juga.
    Tapi kalo Anda muslim, saya sarankan untuk lebih dalam lagi mempelajari Islam. Islam gak sesempit yg Anda kira, bung. Apa jadinya Islam kalo pemeluknya gak bisa memahami agamanya sendiri. Sekali lagi, jgn buruk rupa cermin dibelah.😛

  25. huygens says:

    @B Ali & @Zorion Annas :
    mungkin kita pernah duduk seruangan mendengarkan dari orang yang sama dan membahasnya.

    Jika kita mendapatkan dari sudut pandang yang berbeda, dan teman2 muslim disini sedang ingin membahasnya dari pandangan yang berbeda dengan kita, tolong jangan campuri.

    Lebih baik kita tidak melihat suatu masalah dari satu sisi pandang saja.

  26. hatinurani21 says:

    Di Forum Religiositas Agama, saya menemukan artikel yang menarik sekali. Ini situsnya: http://hatinurani21.wordpress.com/

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen manusia Jawa (MJ). Sayang sekali s/d saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan Kebudayaan Jawa (KJ) dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh pihak2 yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari timur tengah/Arab). Mochtar Lubis dalam bukunya: Manusia Indonesia Baru, juga mengkritisi watak2 negatip manusia Jawa seperti munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestis, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai).
    Kemunduran kebudayaan Jawa tidak lepas dari dosa regim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dkk.) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (Arab). Indonesia saat ini (2007) adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. (mohon dibaca artikel yang lain dulu, sebaiknya sesuai no. urut)

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terusmenerus mengalami penjajahan, misalnya penjajahan oleh:
    – Bs. Belanda selama 300 tahunan
    – Bs. Jepang selama hampir 3 tahunan
    – Regim Soeharto/ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng).
    – Negara Adidaya/perusahaan multi nasioanal selama ORBA s/d saat ini.
    – Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak hati2, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka Timur Tengah/Arab Saudi (melalui kendaraan utama politisasi agama).

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.
    Gerilya Kebudayaan
    Negara2 TIMTENG/ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (TIMTENG/Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu, penemuan energi alternatip akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun Sahara yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara2 Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus-nylamur-tak kentara, orang awam pasti sulit mencernanya! Berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:
    – Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang negatip sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah/Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang Timur Tengah.
    – Artis2 film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’oon politik ini, bagaikan di masukan ke salon rias Timur Tengah/Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    – Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalam…dan wassalam…. Dulu kita bangga dengan ungkapan: Tut wuri handayani, menang tanpo ngasorake, gotong royong, dsb.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah2 asing dari Arab, misalnya: amal maruh nahi mungkar, saleh dan soleha, dst. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bhs. Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik dan licik.
    – Kebaya, modolan dan surjan diganti dengan jilbab, celana congkrang, dan jenggot ala orang Arab. Nama2 Jawa dengan Ki dan Nyi (misal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab2an dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending2 Jawa yang indah, gending2 dolanan anak2 yang bagus semisal: jamuran, cublak2 suweng, soyang2, dst., sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum syariah Islam terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berjilbab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan2 ibadah dan sekolah non Islam.
    – Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh madrasah2/pesantren2. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka lenyap.
    – Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga/rente/riba; istilah ke Arab2an pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat bank syariah.
    – Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri (eselon 1 s/d 3) dikonotasikan/dipotretkan dengan penampilan berjilbab dan naik mobil yang baik. Para pejabat eselon ini lalu memberikan pengarahan untuk arabisasi pakaian dinas di kantor masing2.
    – Di hampir pelosok P. Jawa kita dapat menyaksikan bangunan2 masjid yang megah, dana pembangunan dari Arab luar biasa besarnya. Bahkan organisasi preman bentukan militer di jaman ORBA, yaitu Pemuda Pancasila, pun mendapatkan grojogan dana dari Timur Tengah untuk membangun pesantren2 di Kalimantan, luar biasa!
    – Fatwa MUI pada bulan Agustus 2005 tentang larangan2 yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek keputusan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai
    – Dimasa lalu, banyak orang cerdas mengatakan bahwa Wali Songo adalah bagaikan MUI sekarang ini, dakwah mereka penuh gerilya kebudayaan dan politik. Manusia Majapahit digerilya, sehingga terdesak ke Bromo (suku Tengger) dan pulau Bali. Mengingat negara baru memerangi KKN, mestinya fatwa MUI adalah tentang KKN (yang relevan), misal pejabat tinggi negara yang PNS yang mempunyai tabungan diatas 3 milyar rupiah diharuskan mengembalikan uang haram itu (sebab hasil KKN), namun karena memang ditujukan untuk membelokan pemberantasan KKN, yang terjadi justru sebaliknya, fatwanya justru yang aneh2 dan merusak keharmonisan kebhinekaan Indonesia!
    – Buku2 yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur dan membabi buta ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Timur Tengah ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Timur Tengah yang berbasis intuisi-agamis (berbasis Al-Quran), misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual Nabi Ibrahim, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dst. Masyarakat Indonesia harus selalu siap dan waspada dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    – Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakater (character assasination) budaya Jawa dan meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang amat sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah sangat asing!
    – Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum Syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati/menjaili kaum wanita dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdlatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).

    – Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan/perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing2! Sementara itu aliran setingkat Kejawen yang disebut Kong Hu Chu yang berasal dari RRC justru disyahkan keberadaannya. Sungguh sangat sadis para gerilyawan kebudayaan ini!
    – Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo, lakune koyo macan luwe) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Basyir) mendirikan pesantren Ngruki untuk mencuci otak anak2 muda. Akhir2 ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan baiat. Banyak intelektual muda kita di universitas2 yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah/pesantren di Indonesia yang dijadikan tempat2 cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas SDM bgs. Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya madrasah dan pesantren2. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    – Sejarah membuktikan bagaimana kerajaan Majapahit, yang luarbiasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gn. Bromo (suku Tengger) dan P. Bali (suku Bali). Mereka tetap menjaga kepercayaannya yaitu Hindu. Peranan wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar sekali! Semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!
    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa
    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:
    – Orang2 hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih tertinggal) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    – Orang Barat mempedayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = k.l Rp. 10000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di L.N menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan/produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dikibulin dan dinina bobokan untuk menjadi negara peng export dan sekaligus pengimport terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang maha luar biasa.
    – Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dst. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    – Orang Timur Tengah/Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Asahari, Abu Bakar Baasyir dan Habib Riziq (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    – Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke S’pore, Thailand, Pilipina, dst.). Konyol bukan?
    – Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan/multi level marketing seperti pohon emas, dst., yang tidak masuk akal!
    – Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut2an saja. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    – Sampai dengan saat ini, Indonesia tidak dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimensi), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama2 mengalami krisis sudah kembali sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini (2007) adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington dan Francis Fukuyama.

    Tanpa harus menirukan/menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristen modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Itali dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

  27. bee says:

    @hatinurani21:
    Tidak perlu memposting ulang artikel disini (cross posting), cukup tampilkan saja URL lengkap ke artikel tsb. Itulah gunanya URL.😛

    Tentang isinya, saya setuju bahwa Islam tidak berarti harus menjadi Arab sebab Islam itu universal dan rahmatan lil ‘alamin (berkah bagi alam semesta). Saya juga kurang setuju penggunaan istilah2 Arab yg tidak perlu dan tidak pada tempatnya, seperti penggunaan ana, antum, ikhwan, akhwat, dlsb krn istilah2 tsb bukan istilah2 yg spesifik Islam melainkan istilah umum (bhs) Arab. Termasuk juga atribut Arab yg tidak spesifik Islam, seperti sorban, baju gamis, dlsb. Namun saya juga kurang setuju jika kemudian istilah2 yg memang merupakan ciri khas Islam ikut dihilangkan dgn alasan ke-arab2-an, misalnya salam (diganti selamat pagi, dlsb), krn ini adalah istilah Islam dan bukan istilah Arab.

    Tentang kemunduran MJ dan KJ, kritik saja tidak cukup. Perlu usaha proaktif dari MJ untuk kembali menghidupkan KJ. Dan kemunduran ini sebenarnya bukan salah Islam, melainkan kelemahan MJ dan KJ sendiri. Ganti Islam dgn budaya lain (misal: budaya barat), maka kasusnya akan sama saja. Masalahnya, MJ dan KJ sendiri justru tenggelam oleh datangnya budaya lain, tanpa ada usaha membendung atau setidaknya mengimbangi. Tidak seperti Jepang misalnya yg tetap menerima budaya2 lain tanpa harus kehilangan budaya jati dirinya.

    Setuju sekali jika kita harus bijaksana dan kritis dalam beragama, bahkan itu wajib. Rasul SAW dan para sahabat telah mencontohkan bagaimana beragama (Islam) secara bijaksana dan kritis. Tanpa kebijaksanan dan kritis, keberagamaan kita tak lebih dari keberagamaan org bodoh dan tanpa hati nurani. Namun ini juga perlu hati2 agar kita tidak terjebak dalam sikap kritis yg berlebihan seperti yg terjadi pada saudara2 kita di JIL (Jaringan Islam Liberal).

    Mudah2-an harapan kita semua semoga Indonesia bisa menjadi pusat Islam dan kebangkitan Islam bisa terwujud. Insya Allah.🙂

  28. sejati says:

    Artikel ini menarik sekali. Ini situsnya: http://religi.wordpress.com/2007/03/16/agama-langit-dan-agama-bumi/

    AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

    Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen , maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

    Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

    Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

    Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

    Agama bumi dan agama langit.

    Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuli y ah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

    “Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adala h satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

    Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam a dalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

    Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

    Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pendangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

    Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

    Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah m e milikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

    Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

    Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

    Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-ur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam da ri Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

    Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

    Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

    Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar, dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

    Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

    Masalah wahyu

    Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

    Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

    Pertama, kesalahan mengenai fakta.

    Kitab-suci kitab-suci agama in i, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih da ri tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

    Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

    Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun anta r kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan H agar, budak Ibrahim yang asal Mesir

    Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), seangkan Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

    Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

    Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata – kata atau kalimat-kalimat pe j oratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

    Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

    Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

    Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang m e nurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu keben c ian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

    Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma da ri agama-agama lain, bahkan da ri komunitas yang mereka sebut pen y embah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan ter akhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam da ri leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran da ri agama-agama atau tradisi buatan manusia?

    Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

    Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

    Kesimpulan.

    Tidak ada kriteria yang disepa kati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

    Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan mem falsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci – kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, keb a ikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

    Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat , menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak peoggolongan in i menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

    Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-T uhan mereka adalah buatan manusia.

    Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

    (Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

    Catatan kaki:
    I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
    2). Lihat Kare n Amstrong : A History of God
    3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
    4). Ibid hal 720.

  29. bee says:

    @sejati:
    Artikelnya terkesan menarik, tapi isinya sampah.😛 Terkesan ilmiah (dari banyak sumber), tapi sebenarnya adalah pembodohan. Hanya org bodoh yg kurang wawasan yg percaya thd isi artikel tsb.😛

  30. sejati says:

    @bee:
    Saya berpendapat bahwa uraian artikel yang di atas tsb adalah sangat jernih, murni, obyektif dan gampang dimengerti. Faktanya memang seperti yang diuraikan. Kita melihatnya demikian sekarang. Kalau kita lebih jujur, kita pasti mengakui bahwa kenyataannya memang demikian. Mohon maaf.

  31. bee says:

    Bedakan “fakta”, “opini”, dan “ajaran”. Bisa jadi fakta di atas, menurut Anda, memang demikian, walaupun saya pribadi meragukannya. Bisa jadi dalam tataran opini, apa yg tertulis di artikel tsb ada benarnya. “Benar” disini dalam lingkup keluasan wawasan di si pelontar opini. Tapi, satu hal yg saya tidak bisa terima adalah… menjadi fakta dan opini seolah-olah itulah ajaran dari tiap2 agama yg tersebut. Apalagi yg menulis bukan pemeluk agama yg bersangkutan, dan bukan pula org yg berkompeten untuk menilai scr benar ajaran agama tsb (krn keterbatasan wawasan tadi).

    Tentu saja setiap org non muslim boleh menganggap atau beropini bahwa ajaran Islam itu terkutuk dlsb. Tapi menjadikan opini tsb sebagai landasan penilaian adalah sebuah kesalahan. Justru saya mempertanyakan kembali dimana letak kejernihan, kemurnian, dan obyektifitas opini tsb. Ini ibaratnya seorang bukan ahli IT tapi mengaku sbg pakar IT dan sok tau tentang IT. Org2 awam mungkin mempercayai semua opini “pakar” tsb. Tapi org2 yg paham betul ttg IT, hanya mentertawainya dan menganggap dia tak lebih sbg pelawak digital yg mencari sensasi.😛

  32. sejati says:

    @bee,
    Maaf ya. Untuk lebih kongkritnya, mohon tunjukkan mana poin-poin yang anda tidak setujui dalalm artikel tsb. Terima kasish.

  33. Saleh Aziz says:

    Saya menemukan suatu hal yang sangat mengejutkan hati saya. Ini website-nya: http://agamarasional234.blogsource.com/

    Dalam artikel tsb, di bawah ini adalah salah satu kontradiksi yang dipaparkan:

    “Bila melihat latar belakang kehidupan Muhammad, adalah sulit sekali untuk dapat menerima bahwa ia adalah seorang yang suci. Peri kehidupan sexnya dengan banyak pelayan wanitanya/harem dan terlebih lagi dengan Aisha, gadis yang baru 9 tahun umurnya, sangat mengherankan dan mengerikan. Hubungan sex antara pria umur 54 th (Muhammad) dan Aisha (9 th) bila terjadi saat ini akan disebut kasus pedophili, dan pelakunya (yang dewasa) dapat dituntut hukuman penjara. Hal ini juga merupakan kontradiksi logika yang luar biasa (seorang nabi melakukan pedophili).”

  34. bee says:

    @saleh_aziz:
    Lucu sekali URL yg Anda sebut itu. Menulis dgn gaya sok pintar, bahkan menyebut-nyebut profesor yg gak jelas identitasnya. Tapi isinya justru menunjukkan kalo penulisnya adalah org bodoh dan kurang wawasan, bahkan tulisannya sendiri gak bernalar! Hanya org2 yg sama bodohnya dan sama kurang wawasannya dgn si penulis, yg percaya sama isi tulisan itu.😛

    Tentang usia Aisyah saat dinikahi Rasul, silakan baca: http://id.wikipedia.org/wiki/Pernikahan_Muhammad dan http://harry.sufehmi.com/archives/2005-04-14-879/

    See, Google dan Wikipedia aja lebih pintar dari si pemilik blog “agama rasional” tsb. Komentar Anda hanya bikin blog saya penuh dgn sampah!😛

    @sejati:
    Mengenai klasifikasi agama sih, saya sih setuju2 aja. Dalam pemahaman saya, seluruh agama itu bersumber dari Tuhan. Rasanya saya masih kurang yakin untuk percaya bahwa manusia mampu menyusun ajaran agama, paling banter cuman sampai level etika.

    Yg tidak saya setujui, seluruh poin 1 sampe 4 (atau lima?). Agak susah juga menjelaskan pada org yg “berseberangan”. Sudut pandang dan sumber informasi yg digunakan berbeda. Lagipula terlalu panjang untuk saya jelaskan disini, dan saya juga lagi males nulis panjang2. Silakan googling aja deh, atau silakan bertanya pada ulama Islam yg lebih kompeten untuk menjawab.

  35. Bee says:

    Krn komentar2 yg masuk di posting ini makin lama makin jauh dari topik (dan makin ngaco), sementara saya juga terlalu malas dan bodoh melayani komentar2 tsb. Maka dgn ini komentar di posting ini saya tutup. Ma’af dan terima kasih.

%d bloggers like this: