Berbagi Diri

Akhirnya aku berkesempatan juga nonton film Berbagi Suami. *basbang!!!* Biarin, suka2 aku lah mau nonton film apa kapan.😛 Walaupun aku gak terlalu tau teknis dan penilaian film, rasanya gak berlebihan kalo aku nilai ini film bagus. Ceritanya enak diikuti, mengalir, gak bosenin, natural, dialog dan narasinya gak terlalu mendetil tapi pesan2-nya bisa dengan mudah dipahami. Pemeran2 (utama) yg dipilih pun rasanya pas dgn masing2 karakter yg diperankan. I really enjoy watching this movie. Nia Dinata emang oke punya kalo bikin film. 4 jempol deh buat Nia Dinata dan Berbagi Suami. TOP!🙂

Terlepas dari film itu sendiri, secara pesan moral yg disampaikan oleh film ini, aku gak setuju. Kalo aku liat, film ini berusaha menunjukkan bahwa gak ada satu pun nilai positif yg bisa diambil dari poligami. Dari 3 cerita poligami yg disampaikan, semuanya tampak buruk dan gagal. Cerita pertama keluarga Pak Haji menggambarkan poligami yg sah, tetapi gak rukun, walaupun “bersih”. Cerita kedua keluarga Pak Lik menggambarkan poligami yg sah, (sangat) rukun dan kompak, tapi “kotor”. “Kasus” antara istri kedua dan ketiga (Siti) Pak Lik bahkan nampak agak sedikit “dipaksakan”. Sedang cerita ketiga tentang keluarga Koh Abun menggambarkan poligami yg (kurang) sah, sembunyi2, dan berbau matre. Padahal aku berharap sekali ada satu (saja) contoh keluarga poligami yg sukses bisa ditampilkan juga. Pokoknya poligami itu digambarkan gak ada bagus2-nya deh.😦

Nampaknya Nia Dinata masih perlu menambah wawasan tentang dunia perpoligamian, atau memang sengaja menutup mata dan telinga? Masih banyak contoh keluarga poligami yg baik, yg sah, yg rukun, yg tulus, dan bersih. Lalu pada kemana cerita2 keluarga poligami yg sukses? Ketidakobyektifan media massa kita yg “pilih kasih” terhadap poligami, mem-besar2-kan berita kegagalan keluarga poligami dan menyembunyikan berita kesuksesan keluarga poligami, seharusnya gak bisa jadi alasan untuk mengambil kesimpulan bahwa poligami identik dengan keburukan dan kehancuran rumah tangga. Seharusnya orang sekaliber Nia Dinata bisa melakukan penelitian dan pengamatan yg lebih komprehensif tentang poligami.

Tapi, bagaimanapun juga aku masih bisa memaklumi Nia Dinata. Secara dia adalah perempuan yg memang wajar2 aja kalo keberatan dimadu, sekaligus juga sebagai sutradara film. Memfilmkan keluarga yg rukun dan baik2 saja pasti dirasa kurang “menggigit”, kurang kontroversi, dan -tentu saja- kurang komersil. Lagian apanya yg mau difilmkan kalo gak ada masalah? Mengingat sebuah film harus mempunyai masalah yg ditampilkan dan diolah sedemikian rupa sbg daya tarik cerita film itu sendiri, walaupun belum tentu selalu disertai dgn solusinya. Dan karena tema utama yg diangkat dalam film ini adalah tentang poligami, jadi maklum aja kalo cerita yg dipilih adalah (hanya) poligami yg bermasalah.😉

Anyway, salut buat Nia Dinata!🙂

One Response to Berbagi Diri

  1. whiteknight says:

    om, ada yg luput tuh yg menurut saya justru paling vital
    kalo menurut gw seh
    “lebih baik mana antara poligami dengan selingkuh”

    poligami walaupun kelihatannya kekurangannya (dalam hal harta) toh mereka hidup berkecukupan dan tentram , hal ini berlawanan 180 derajat dengan selingkuh

    btw back to personal seh
    CMIIW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: