Object Pascal atau Java?

cd cover
Sebuah buku kembali lahir meramaikan etalase toko buku di Indonesia. Sebenarnya biasa aja sih, tapi berhubung yg nulis adalah salah teman baikku, rasanya jadi luar biasa.πŸ˜€ Buku ini tentang programming, judulnya Dari Pascal ke Java, karya Wisnu Widiarta. Buku ini aku beli langsung ke penulis dan udah aku terima dgn baik beberapa hari yg lalu. Tentu saja, disertai tanda tangan asli penulis.πŸ˜€

Buku ini adalah karya pertama penulis (CMIIW). Secara penulis, kayaknya gak perlu diragukan lagi deh kemampuan dan pengetahuan programming-nya. Kemampuannya juga dibuktikan dgn sederet sertifikasi, prestasi, dan award di bidang programming. Beliau juga cukup dikenal malang-melintang di dunia perkodingan Indonesia, khususnya di komunitas programmer Delphi dan Java. Jadi gak perlu heran kalo kemudian buku ini akan laku di pasaran dan jadi acuan banyak programmer Delphi atau Java.

Secara garis besar, buku ini bercerita tentang perbedaan dan perbandingan dua bahasa programming yaitu Delphi (object pascal) dan Java. Penulis mengharapkan buku ini bisa membantu programmer Delphi memahami Java atau sebaliknya. Tapi dari judulnya, buku ini jelas lebih menitikberatkan pada programmer Delphi yg ingin memahami Java, daripada sebaliknya. Secara tema, buku ini cukup unik krn jarang sekali penulis yg “berani” membandingkan dua bahasa (atau lebih) secara langsung. Dan menyusun buku dgn tema seperti ini jelas tidak mudah, dibutuhkan kemampuan dan pemahaman yg komprehensif terhadap masing2 bahasa sehingga penulis tidak terjebak pada salah satu bahasa yg menyebabkan tulisannya jadi kurang obyektif.

Bahasan yg menjadi perbandingan cukup lengkap. Buku ini berisi 18 bab, tetapi bahasan perbandingan programming dimulai dari bab 6 (IDE yg digunakan) dan diakhiri pada bab 17 (database). Sebagai pembuka, bab 2 dan 3 bercerita sedikit tentang teori OOP (object oriented programming) yg didukung oleh dua bahasa yg dibandingkan. Bab 4 dan 5 bercerita tentang sejarah dan karakteristik Java, tanpa diikuti materi yg sama tentang Delphi. Ini sekaligus membuktikan bahwa buku ini lebih cenderung pada programmer Delphi yg ingin memahami Java daripada sebaliknya. Bab 1 dan bab 18 isinya sangat singkat (2-3 halaman saja) sekedar sebagai pembuka (pengantar?) dan penutup (kesimpulan?). Bab 1 rasanya lebih cocok sebagai isi dari Kata Pengantar, sedang Kata Pengantar itu sendiri lebih cocok dijadikan sebagai Ungkapan Terima Kasih (acknowledgement?).

Secara penulisan, gaya yg dipilih penulis adalah gaya bercerita sehingga cukup nyaman diikuti dan relatif mudah dipahami. Bahkan ada satu-dua kalimat bernada humor sebagai selingan agar pembaca tidak selalu “tegang” saat membaca buku ini.πŸ˜€ Tapi buku ini sama sekali tidak untuk pemula. Beginners, I’ve warned you!πŸ˜‰ Dari judulnya saja sebenarnya sudah cukup menunjukkan bahwa buku ini memang bukan untuk pemula. Buku ini tidak memandu (guiding) atau mengajari (tutoring) pembaca, tapi menjelaskan (explaining). Pembaca sudah harus mengerti dasar2 Delphi dan Java (termasuk jargon2 masing2) untuk bisa memahami isi buku ini. Pembaca juga sudah harus tau dasar2 bekerja dgn Delphi dan Java untuk bisa mempelajari contoh source code yg disertakan. Dalam buku ini, tidak ada panduan bagaimana menginstal Delphi/Java, tidak ada pelajaran bagaimana memasang menu/button di form, tidak ada pelajaran tentang fungsi/class yg digunakan dalam contoh, dan lain sebagainya. Tapi mengingat tema yg diangkat oleh buku ini, maka hal ini adalah wajar. Seorang programmer Delphi yg mulai mempertimbangkan untuk menggunakan Java (atau sebaliknya), kemungkinan besar adalah programmer Delphi yg sudah cukup “mapan”. Sedang programmer pemula, kecil sekali kemungkinan seperti itu, krn dia sudah cukup direpotkan mempelajari satu bahasa yg sedang dihadapinya.πŸ˜€ Walaupun demikian, akan lebih baik jika buku ini disertai indikator level pembaca yg dituju, apakah beginner, intermediate, atau advanced, seperti yg telah dilakukan oleh penerbit Gramedia, supaya calon pembeli (programmer pemula) tidak kecewa setelah membeli. Mungkin ini lebih merupakan saran buat penerbit daripada buat penulis.πŸ˜‰

Perlu pula dicatat bahwa pascal yg dimaksud oleh penulis dalam buku ini adalah terbatas pada pascal ala Borland (sekarang CodeGear) yg lebih dikenal dengan sebutan Delphi daripada (object) pascal. Dengan batasan tsb, rasanya judul buku ini lebih cocok menjadi “dari Delphi ke Java“. Dan dgn batasan itu pula, perbandingan yg dilakukan penulis menjadi valid. Tapi jika kita perluas pengertian pascal, maka ada beberapa informasi dalam buku ini menjadi kurang valid. Jika batasan ini diketahui dan lebih ditekankan oleh penulis pada pembaca maka diharapkan bisa mencegah asumsi (salah) dari pembaca bahwa “Pascal = Delphi” karena faktanya memang “Pascal <> Delphi“, terlepas Delphi sbg IDE dan compiler pascal yg paling terkenal dan banyak digunakan (saat ini). Java dikenal sebagai bahasa sekaligus compiler dalam satu produk sehingga keterikatan kemampuan bahasa terhadap compiler hampir2 tidak dapat dipisahkan. Tapi tidak demikian dgn pascal. Perlu dibedakan pascal sbg bahasa dan Delphi sbg IDE dan compiler. Delphi hanya salah satu compiler dan IDE pascal, selain beberapa compiler/IDE yg lain. Salah satu contoh informasi kurang valid dalam buku ini -jika kita memperluas pengertian pascal- adalah batasan dukungan platform. Secara bahasa, baik Java atau pascal, adalah sama2 multiplatform (platform independent). Berbeda dgn Java yg membawa konsep “write once, run everywhere“, konsep multiplatform pascal adalah “write once, compile everywhere“. Bagaimana pascal bisa goes multiplatform? Gunakanlah IDE/compiler pascal yg multiplatform, salah satu contohnya adalah Free Pascal. Sebagai seorang pascal warrior, aku merasa perlu untuk menekankan hal ini.πŸ˜€

Setelah menyelesaikan membaca keseluruhan isi, ada hal menarik dari buku ini. Jika memang buku ini diharapkan akan menarik programmer Delphi untuk bekerja dgn Java, aku kurang menangkap key points yg benar2 mampu memotivasi programmer Delphi untuk mulai menggunakan Java. Dalam buku ini, beberapa kali penulis sendiri menyatakan bahwa untuk pembuatan desktop-based applications, Delphi lebih unggul dari Java. Namun, contoh2 program yg disertakan dalam buku ini adalah aplikasi desktop (berbasis Swing). Lalu, dimana relevansi judul “dari Pascal ke Java” jika contoh2 yg diberikan tidak memotivasi programmer Delphi untuk mulai bekerja dgn Java? Sebelum mulai membaca buku ini, aku sangat berharap materi2 dalam buku ini adalah contoh2 solusi dan kasus dimana Java lebih cocok/tepat dipakai daripada Delphi. Kesan akhir yg aku dapatkan setelah membaca buku ini adalah bagaimana programmer Delphi bisa membangun (mengkonversi?) aplikasi desktop menggunakan Java. Setelah hal ini dipahami, diharapkan akan menarik programmer Delphi lebih lanjut mempelajari Java untuk hal2 dimana Java lebih baik dari Delphi. Tapi, kesan ini pun aku rasakan kurang kuat tersampaikan. Jadi, mungkin beberapa pembaca akan menarik kesimpulan: “terus? kalo cuman untuk aplikasi desktop ngapain aku belajar Java?“. Apakah ini disengaja? Sebagai strategi penulis untuk persiapan materi (sekuel) buku selanjutnya? Jika memang benar demikian, aku angkat topi buat penulis.πŸ˜€

Salah satu hal yg aku suka dari buku ini adalah penulis secara tidak langsung memberi pelajaran pada pembaca bahwa teknologi software dan programming tidak akan pernah mati dan terus selalu berkembang semakin canggih. Teknologi sofware, baik yg gratis atau komersil, baik yg open source maupun yg closed source, baik yg didukung perusahaan besar maupun hanya komunitas, semuanya mempunyai kesempatan yg sama untuk menjadi lebih baik. Pemahaman ini membebaskan kita dari fanatisme terhadap teknologi tertentu. Tidak ada teknologi yg mampu memberikan solusi terbaik untuk segala jenis permasalahan. Klaim bahwa teknologi tertentu lebih baik dari teknologi yg lain, bisa jadi benar dalam kondisi dan situasi tertentu, tapi tidak mungkin benar untuk segala kondisi dan situasi. Solusi terbaik ditentukan oleh pengguna teknologi, bukan teknologinya itu sendiri.πŸ˜‰

Kesimpulannya… aku memberi3.5 of 5 starsuntuk buku ini.πŸ™‚ Namun perlu diingat, penilaianku ini sangat personal dan subyektif sehingga sangat tidak layak untuk dijadikan acuan. Ini cuman ulasan gombal dari seorang programmer biasa yg cuman suka mbaca, jelas gak level lah sama penulis buku ini. Kalo Anda punya ulasan lain, tentu bisa jadi masukan berharga baik bagi pembaca maupun penulis.πŸ˜‰

Ayo kita tunggu buku selanjutnya dari bung Wisnu, yg pasti akan lebih menarik!πŸ˜‰

12 Responses to Object Pascal atau Java?

  1. bee says:

    Ah, baru inget mau ngomentari paragraf kedua di hal. 2, ttg studi pakar OOP yg mengatakan bahwa OOP di Java walaupun secara sintaks lebih dekat ke C++ tapi secara konsep lebih dekat ke Pascal. Aku cuman nebak aja sih, kemungkinan yg dimaksud penulis adalah studi dalam bentuk paper oleh Marco Cantu berjudul “Comparing OOP Languages: Java, C++, Object Pascal“. Lebih lengkapnya, isi paper tsb. bisa di baca di http://www.marcocantu.com/papers/ooplang.htm. Memang isi paper itu udah agak out-dated sih (ditulis Nov 1997), mengingat masing2 bhs terus dikembangkan hingga saat ini, tapi poin2-nya masih kena lah.

  2. Kecret says:

    aq juga beli buku itu langsung dari mas wisnu, emank kekurangan buku beliau adalah kurangnya membahas ‘kelebihan’ java itu sendiri dibanding object pascal yaitu di J2EE , untuk desktop buat apa pake java sementara masih ada delphi/lazarus….. moga2 akan dibahas oleh beliau

  3. WishKnew says:

    Wow. Thanx banget buat reviewnya Bee. Indeed, yang kamu ulas sudah benar. Terutama pada bagian yang terakhir.

    Berikut jawaban atas komentar di atas:

    Alasanku tidak menonjolkan J2EE di buku ini, karena memang syarat untuk J2EE adalah J2SE. Bisa bengong nanti pembaca yang belum pernah tahu Java sama sekali langsung dikasih konsep J2EE. Saat ini aku sedang membuat draft untuk sekuel dari buku ini. Namun masih tentang Swing Advanced dan pembuatan report. Semoga bisa diterbitkan juga. Trilogi dari buku ini adalah pengantar J2EE yang mungkin baru akhir tahun ini atau awal tahun depan bisa selesai.

  4. bee says:

    Tuh kan… bener dugaanku! Pasti bung Wisnu udah punya rencana untuk bikin lanjutannya, gak tanggung2… trilogi!πŸ˜€ Mudah2-an cepet kelar bukunya dan kita bisa menikmati ilmu dari beliau.πŸ™‚

  5. WishKnew says:

    Untuk masalah Pascal dan Delphi, sebenarnya tadinya saya mau menuliskan judul Dari Delphi ke Java. Namun karena Delphi sendiri adalah IDE dan bukan bahasa (apalagi sudah ada Delphi for PHP), akhirnya saya tuliskan Dari Pascal ke Java. Karena toh bahasa yang digunakan di Delphi sendiri adalah Object Pascal yang notabene adalah superset dari Pascal biasa, yang kompatibel dengan Delphi itu sendiri. Itulah mengapa saya lebih prefer dengan judul Dari Pascal ke Java, ketimbang dari Delphi ke Java. Karena Delphi setara dengan Eclipse dan NetBeans, sedangkan Pascal setara dengan Java.

  6. bee says:

    @wishknew:
    Sebenarnya gak ada masalah dgn judul itu, bro… asal lebih ditekankan di awal bahwa pascal yg dimaksud adalah Delphi. Akan lebih bagus lagi kalo juga diinformasikan bahwa pascal tidak hanya Delphi, sehingga gak timbul salah persepsi seperti yg aku maksud di atas. Setidaknya komparasi yg dilakukan bisa lebih jelas dan lebih fair gitu.πŸ˜‰

  7. Idham says:

    saya gak semaniak mas bisma klo ke delphi saya cuma User tapi setelah baca buku ini kok aq malah jadi pengen lebih mendalami java abis bukunya masih kurang membandingkan kelebihan javaπŸ˜€ jadi ada kesan sesuatu yang di sembungikan (hehehe). Dah gitu dari kemaren ngurusin jeni.jardiknas.org sama si frans jadi ngeliat langsung juga kecanggihan java.
    btw thx dah mampir masπŸ˜€ & saya bukan maniac internet saya hanya kebetulan menikah dengan ITπŸ˜€ tapi pacarannya blom bener2 jadi blom mendalami semuanyaπŸ˜€

  8. bee says:

    Buat anak jaman sekarang, buzz words yg didengar saat ini lebih berdampak drpd fakta apa yg terjadi sebenarnya di masa lalu. Mungkin mereka akan heran kalo tau bahwa Pascal amat sangat berperan dalam sejarah Java dan Unix. Bahkan, pembuat dan pendiri Java dan Sun Microsystems, dulunya adalah programmer pascal! Editor paling banyak dipake di Unix, yaitu vi, versi pertamanya dibuat menggunakan pascal!πŸ˜€ Jadi, salah kalo C adalah “ibu” dari Java dan Unix, yg benar adalah pascal.πŸ˜‰ Tapi, kesalahan mereka juga, skrg pascal justru kalah populer dibanding C dan turunan2-nya.

  9. Mpu Gondrong says:

    Menanggapi yg terakhir, Pascal amat berperan, saya koq cenderung kurang setuju. Banyak di antara kita yg dulu adl prgmer Cobol, Fortran, Basic hingga Assembly, tapi apakah terus menggunakan bhs itu atau menganggap bhs itu berjasa, itu soal lain. Yg terjadi adl semua berjalan sesuai perkembangan jaman. Bersambung.πŸ™‚

  10. bee says:

    @Mpu Gondrong:
    Konteksnya bukan begitu, Mpu. Yg saya maksud disini adalah pengaruh dari teknologi sebelumnya terhadap perkembangan teknologi selanjutnya. Jika, misalnya, si pembuat Java sebelumnya adalah programmer Cobol, tapi kemudian Java yg dia buat mengacu pada Pascal, jelas klaim bahwa Cobol berperan dalam pembuatan Java adalah klaim yg ngawur.πŸ˜›

    Ini jelas beda kasusnya dgn kita. Misalnya kita semula programmer Cobol kemudian pindah ke Java. Ini beda konteks, sebab kita adalah “user” bukan “creator”. Tentu saja user (yg baik) akan selalu mengikuti perkembangan jaman.πŸ˜›

  11. hersyanno says:

    pny rfensi buku c and delphi ga
    klo ad aq minta donk ato u comment k fs gua hersyanno_oclif@yahoo.co.id
    sori klo gua ngrepotin coz aq lagi btuh nih
    THANK YOU !!!!!!!!! VERY MUCH??????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: