Sastra dan Pemrograman

Hehehehehe… judul yg “aneh”.😀 Mungkin kalian akan menyangka bahwa gak ada hubungan sama sekali antara sastra dan pemrograman. Kalian mungkin mengira sastra adalah karya yg menuntut adanya kemampuan non-logis yg melibatkan hati, emosi, dan perasaan. Sedang pemrograman adalah pekerjaan yg menuntut adanya kemampuan logis yg melibatkan otak, logika, dan analisa. Mungkin karena asumsi tsb, maka jarang sekali ada programmer (org yg membuat program) yg berjenis kelamin wanita. Programmer biasanya diidentikkan dgn pekerjaan laki2, bukan krn kemampuan ototnya, tapi krn kemampuan berlogikanya.

Bisa jadi asumsi di atas benar. Tapi jika kita amati bagaimana programmer dan sastrawan berkarya, maka sebenarnya apa yg dilakukan sastrawan dan programmer gak jauh berbeda. Lah kok bisa? Tentu saja bisa. Walaupun sampai saat ini belum ada sastrawan yg sekaligus berprofesi sbg programmer, bukan berarti sastra dan pemrograman adalah dua hal yg sama sekali bertentangan secara kekaryaan. Gak percaya? Ayo kita bahas buktinya satu persatu.

Kreativitas

Membuat karya sastra maupun program, sama2 membutuhkan kreativitas yg tinggi. Tanpa kreativitas gak akan mungkin menghasilkan karya sastra atau program yg bagus. Beragamnya jenis sastra sama seperti beragamnya algoritma pemrograman. Itu sebabnya kenapa banyak sastrawan atau programmer yg handal ternyata gak selalu berasal dari bidang studi akademis yg sesuai. Untuk menjadi sastrawan atau programmer yg baik bisa dicapai secara mandiri (otodidak) asal ada kemauan, keyakinan, dan -tentu saja- kreativitas. Gelar akademis (sarjana) akan gak ada maknanya kalo si penyandang gelar gak memiliki kreativitas yg tercermin dalam karya2-nya.

Menulis

Membuat karya sastra maupun program, sama2 merupakan kegiatan menulis. Tentu saja menulis yg dimaksud disini bukan sekedar merangkai huruf dan kata menjadi tulisan atau kalimat biasa. Kalo cuma seperti itu, semua org yg pernah bersekolah pasti juga bisa. Menulis yg dimaksud disini adalah kegiatan untuk mengejawantahkan isi kepala si penulis ke dalam bentuk tulisan yg bermakna. Walaupun si penulis bisa menuliskan apa pun isi kepalanya dgn bebas, tapi tetap ada kaidah2 atau aturan2 tertentu yg harus ditaati dan dipenuhi oleh si penulis. Jika tidak demikian, tulisan yg dihasilkan gak akan bisa dipahami oleh siapa pun, bahkan oleh si penulisnya sendiri. Tulisan yg dibuat sastrawan atau programmer sifatnya sangat personal. Ada sebagian diri dan jiwa sang penulis yg hadir dalam tulisannya. *halah!* Itu sebabnya kenapa jika kita membaca suatu karya sastra maupun source code program, kita bisa tau siapa yg membuatnya. Kalo kita gak kenal, setidaknya masih bisa mengira-ngira bagaimana karakter si penulis.😀

Inspirasi

Baik karya sastra maupun program, seringkali membutuhkan inspirasi/ilham/ide dalam proses penyusunannya. Inspirasi menjadi salah satu pemicu (trigger) bagi programmer dan pekerja sastra dalam berkarya. Istilah “lagi buntu”, “mampet”, “belum ada ide”, “nunggu wangsit”, dan istilah lain serupa, merupakan istilah2 yg sering kali dipakai di kalangan pekerja sastra dan programmer. Untuk “memancing” munculnya inspirasi, acapkali pekerja sastra dan programmer mempelajari karya koleganya. Karena itu, karya sastra atau source program yg baik adalah yg mampu memberi inspirasi atau bahkan pencerahan pada pembacanya. Jika inspirasi hilang pada saat benar2 dibutuhkan (dikejar deadline misalnya😀 ), seringkali mereka melakukan hal2 yg “aneh” dan ekstrim untuk memancing munculnya inspirasi, misalnya gak tidur 7 hari 7 malem, mandi kembang 7 rupa, dlsb. *maksa!*😀

Tidak hanya untuk diri sendiri

Sastrawan atau programmer belum diakui sebagai sastrawan atau programmer jika karyanya gak bisa dinikmati oleh org lain. Tentu sah2 saja jika ada sastrawan atau programmer yg berdalih sastra untuk sastra atau code for code dan menyimpan karyanya untuk diri mereka sendiri. Tapi pengakuan terhadap profesi gak akan ada jika karya2 mereka belum bisa dinikmati org lain, setidaknya terbatas di lingkungan tertentu. Sebagai makhluk sosial, keinginan agar karya mereka bisa dinikmati org lain adalah sebuah keinginan yg wajar dan alamiah sebagai wujud kebutuhan pengakuan eksistensi diri dalam lingkungan sosial. Mirip dgn pernyataan matematikawan asal Perancis, René Descartes: “I think, therefore I am” (aku berpikir maka aku ada), maka programmer punya pernyataan: “I code, therefore I am” atau sastrawan dgn pernyataan: “I write, therefore I am”. Keberadaan mereka akan diakui jika ada indikatornya, yaitu hasil karya mereka.

Walaupun demikian, tentu saja ada perbedaan antara sastra dan pemrograman. Menurutku, satu2-nya perbedaan adalah bahasa yg digunakan. Sastra dibuat menggunakan bahasa manusia, sedang program dibuat menggunakan bahasa komputer. Bahasa komputer, sebagaimana juga bahasa manusia, ada banyak sekali jenisnya. Bahkan, seperti juga bahasa manusia, dalam bahasa yg sama masih mungkin adanya perbedaan dialek dan perbendaharaan kata. Di sinilah kelebihan programmer dibanding sastrawan, karya tulis (source program) programmer gak hanya bisa dipahami oleh manusia (yg sama2 programmer), tapi juga bisa dipahami oleh komputer.😀

Nah… dari alasan2 di atas, bisa disimpulkan bahwa sastra dan pemrograman adalah sama2 kegiatan yg membutuhkan daya seni dan imajinasi. Dengan demikian, hasil karyanya sama2 bisa disebut sebagai karya seni. Itu pula sebabnya, programmer seringkali tampil (dan bertingkah laku) sama anehnya (dan sama gilanya) dengan seniman.😀

5 Responses to Sastra dan Pemrograman

  1. Quote: “Itu pula sebabnya, programmer seringkali tampil (dan bertingkah laku) sama anehnya (dan sama gilanya) dengan seniman”. Kayaknya ada deh seniman terkenal yang bunuh diri pada akhirnya, mungkin menganggap bunuh diri adalah juga semacam seni. Ingat seni bunuh diri Jepang harakiri. Hi..hii.. naudzubillah min dzalik jangan sampai nempel ke aku deh😀

    I don’t want to die as an programmer.

  2. bee says:

    Gak ada salahnya die as a programmer. Tergantung gmn matinya… mau mati wajar, syukur2 terhormat, dan (mudah2-an) khusnul khotimah, apalagi karya2-nya bisa jadi amal jariyah, walaupun tetep sbg programmer, apa masalahnya? Tapi, meskipun jadi presiden tapi kalo matinya terhina dan (mudah2-an dijauhkan) shu’ul khotimah, naudzubillah min dzalik.

    Ah, bung Ivan terlalu jauh menanggapi kalimat “Itu pula sebabnya, programmer seringkali tampil (dan bertingkah laku) sama anehnya (dan sama gilanya) dengan seniman”. Maksudku gak sampe sejauh itu kok. Biasa aja deh, mas.😀

  3. WishKnew says:

    Dosenku dulu bilang, kemampuan seseorang mempelajari suatu bahasa, berbanding lurus dengan kemampuan abstraksi pemrograman dan melakukan pemrograman itu sendiri. Keduanya memiliki grammar tertentu yang wajib dipatuhi agar komunikasi berjalan lancar. Bahasa Inggris membuat penutur bahasa internasional itu mengerti maksud kita, bahasa pemrograman membuat komputer mengerti apa yang kita inginkan.

    Kode program juga merupakan wujud cara berpikir, bereksperimen dari programmernya. Jadi meski isinya perintah instruksi kepada komputer, kreativitas dan jiwa programmernya terlihat dari hasil karyanya.

  4. Herboy says:

    Mr Bee..

    tolong bantu saya, saya dalam kebingungan……

    saya punya printer HP Deskjet 4160 dan bersmasalah…

    setiap saya mau prrit, misal ngerprint 1 halaman yang keluar 2 halaman, halamn kedua kosong…. begitu seterusnya…..

    tolong bantu saya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: