Madu ternyata masih manis

cover_poligami.jpg

Saya masih belum mengerti kenapa istri yg suaminya menikah lagi diistilahkan dgn “dimadu”. Semua orang pasti tau bahwa madu itu manis dan menyehatkan. Berarti kata “dimadu” secara harfiah bisa diartikan dimanis(kan) atau dibuat manis (dgn sengaja) atau disehat(kan) atau dibuat sehat (dgn sengaja). Lalu kenapa efek yg ditimbulkan dari kata tsb adalah membuat wanita jadi nangis dan stress? Rasanya, jauh banget dari makna harfiahnya. Apa mungkin dulu para istri suka dan mau suaminya nikah lagi, sehingga istilah itu muncul dan digunakan?

Tapi, di halaman awal tabloid Poligami edisi 01, terpampang tulisan “Manisnya Madu” dgn warna kuning cerah. Ah, saya bersyukur ternyata dugaan saya gak salah kalo madu itu manis.😛 Ya, ya, ya… saya memang orang yg super sibuk, saking sibuknya sampai2 tabloid terbitan 2006 baru terbaca tahun 2007 (!).😆 *basbang!!!* Bisa baca tabloid itu pun juga gak sengaja ketika seorang teman membawanya dari salah satu cabang restoran Wong Solo di Malang. Saya memang baru tau kalo Puspo Wardoyo -si pemilik utama restoran Wong Solo- berani menerbitkan tabloid dgn tema itu, walaupun dia adalah seorang pelaku poligami yg sukses.

Tabloid yg memilih tagline “Hak dan Kebutuhan Perempuan” itu tentu saja menimbulkan kontroversi mengingat di Indonesia -yg konon katanya mayoritas warganya beragama Islam- topik poligami masih dianggap tabu. Terlepas agama Islam sendiri gak pernah melarang praktek poligami, asal dijalankan sesuai dgn aturan dan tuntunan yg telah ada. Sebagai salah satu pendukung poligami, tabloid ini tentu saja menarik bagi saya.

kontak_jodoh.jpg

 
Beberapa isi tabloid ini cukup menarik. Gambar di atas adalah salah satunya. Potongan tsb saya ambil dari rubrik “Siap Dimadu?” yg serupa dgn rubrik kontak jodoh di media lain. Dari nama rubriknya jelas menunjukkan perbedaannya dgn rubrik kontak jodoh pada umumnya. Rubrik ini adalah media bagi pria yg telah beristri mencari istri selanjutnya, sedang bagi wanita adalah untuk mencari pria yg telah beristri. Yg unik, ternyata banyak juga gadis muda (yg belum pernah menikah) yg mendambakan pria yg telah beristri, seperti contoh pada gambar di atas. Tentu saja, Anda akan sangat sulit menemukan setia sebagai salah satu kriteria calon pasangan, setidaknya pada edisi ini.😀

Saya bisa ngerti kalo penerbitan tabloid ini bertujuan baik dan positif. Namun demikian, secara umum saya menilai tabloid ini masih kurang bagus dalam penulisan dan penyampaiannya. Beberapa artikel/materi bahkan terkesan maksa dan membabibuta membela poligami, sehingga keuntungan poligami justru gak nampak dan solusi poligami jadi keluar dari konteksnya. Ini bisa jadi sasaran empuk buat para aktivis feminis untuk men-jelek2-kan solusi poligami, atau lebih parah lagi, men-jelek2-kan agama Islam. Misalnya, artikel di halaman terakhir yg berujung pada kesimpulan bahwa poligami menjadi kewajiban bagi pria unggul, tanpa menjelaskan apa definisi dan kriteria bagaimana laki2 yg unggul. *Hayo, sapa yg bernama Unggul? Ngaku!*😀

Bagaimanapun juga, tabloid yg saya baca ini masih edisi perdana. Kekurangan dan kesalahan di sana-sini masih wajar. Mudah2-an edisi2 selanjutnya tabloid ini bisa terus terbit, dgn isi dan penyampaian yg lebih baik, elegan, dan profesional. Mudah2-an harapan si penerbit untuk menjadikan tabloid ini sebagai media edutainment (media informasi yg mendidik dan menghibur) bisa terwujud. Dengan demikian, kita -umat Islam pendukung poligami- bisa dgn baik membantah tudingan2 negatif seputar poligami. Amin.🙂

doping_poligami.jpg

 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 

Karena saya tidak belum pernah melakukan poligami, saya gak tau apakah setiap pria yg ingin memenuhi hak dan kebutuhan perempuan harus mengkonsumsi obat tertentu, seperti iklan pada kanan atas halaman sampul tabloid ini.😀

7 Responses to Madu ternyata masih manis

  1. Tausyiah 275 says:

    wah, saya sendiri belum pernah baca…artikel tahun lalu itu juga hanya melihat iklannya saja (cover majalah).🙂

  2. Kiyat says:

    Hehehehhe.. kalo Sastro Wardoyo memang lagi tergila gila ma poligamy, di dukung dengan suksesnya bisnis Wong Solonya.. yah.. begitulah..

    Kalo soal madu itu manis, maksudnya.. yang minum madu kan yang memang merasakan manis, kalo si madu itu kan cuman.. “ya memang dia manis”.. tp tidak bisa merasakan kalo dia manis.

    Semua perempuan pasti akan nangis kalo suaminya akan beristri lagi (berhubung aku laki2, kata kata ini aku ambil dr kata2 peremuapn di koran ataupun di tivi hehhe)..

    Tapi ya madu memang manis.. bagi yang menghisapnya😀

  3. qenthank says:

    Sejatinya akan bribet kalau hukum di campur adukkan dengan perasaan.😀.
    Dan sejatinya perasaan itu biasa nya berhubungan denga ego. Dan ego itu … au’ ah

  4. idur says:

    yah..begitulah. Biar gimana juga, Poligami boleh kok dalam Islam, berhubung mubah, berarti boleh iya, boleh nggak…
    Kalo aku…boleh gak yah sama calon istriku, ntar aku tanya dulu ah sebelum menikah..:D “dek, kamu mau gak kalo nanti dimadu ?” …. kita tunggu saja jawaban calon istriku itu…:D

  5. irdix says:

    bikin petisi aja mas bee… petisi mendukung poligami.. :p

  6. […] kalian gak perlu bilang, aku tau sebagian filem yg aku tonton itu udah basbang! Kan aku udah bilang, aku tuh orang yg amat super sibuk sekali. Saking sibuknya sampe gak ada […]

  7. lilik sintawati says:

    weleh weleh weleh……koq ya ada zaman sekrg mau di madu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: