Memori bulan puasa

September 24, 2007

Bulan puasa adalah bulan khusus buatku. Ah, kalian gak perlu nyangka aku ini org yg religius. Aku gak belum sebagus itu kok. πŸ˜› Bukan, bukan krn alasan religi. Tapi krn kenangan peristiwa2 sewaktu masa kecil. Walaupun banyak kenangan lain, kenangan saat bulan puasa rasanya lebih berkesan daripada kenangan pada bulan2 biasa. Mungkin krn faktor perubahan kebiasaan se-hari2 yg berbeda dgn hari2 biasa yg membuatnya lebih istimewa.

Salah satu kenangan itu adalah tentang kakek dan nenekku. Aku termasuk salah satu “anak” kakek dan nenek krn secara sejak aku umur 3 tahun sampe lulus SMP, aku tinggal dan -tentu saja- diasuh oleh kakek dan nenek dari ibu. Kakekku orgnya gagah dan tinggi besar. Aku memanggil beliau dengan sebutan ramah, atau romo dalam bhs Jawa, atau bapak dalam bhs Indonesia. Dari sekian banyak cucu, hanya 3 cucu saja yg memanggil dgn sebutan itu, cucu yg lain memanggil mbah kakung (mbah kung). Kakekku -sebagaimana kebanyakan org Madura- berkarakter keras dan tegas, tapi aslinya beliau sangat sensitif dan lembut. Saat kakek sedang mood, kakek sangat humoris dan menyenangkan. Tapi jgn coba2 melawan kalo kakek sedang marah, tembok bisa hancur terkena tinjunya. Bener ini, aku pernah melihat dgn mata kelapaku sendiri! Ini mungkin diwariskan padaku, tapi bedanya… kalo kakek ninju tembok maka yg hancur temboknya, kalo aku… yg hancur tanganku sendiri. πŸ˜›

Seperti pada umumnya pria jaman dulu, kakek juga mantan pejuang kemerdekaan. Selama berjuang, kakek bergabung dalam pasukan muslim mujahidin. Sering kali kakek menceritakan pengalaman saat berperang pada cucu2-nya, terutama 3 cucu yg diasuhnya secara langsung. Setelah kemerdekaan, kakek bergabung dgn partai Masyumi dan sangat aktif di organisasi Muhammadiyah. Jadi wajar aja kalo aku sedikit banyak dididik ala Muhammadiyah. “Musuh besar” kakek adalah Soeharto. Jadi ingat, betapa beliau jadi uring2-an kalo liat Soeharto pidato di televisi. Terutama pas acara Laporan Khusus setelah Dunia Dalam Berita. Lucunya, gitu masih ditonton dan dikomentari juga. πŸ˜€ Peristiwa Supersemar adalah peristiwa yg paling bikin kakekku bete. Kakek bilang, ada konspirasi disitu. Aku waktu itu belom ngerti apa maksudnya, secara aku masih SD. πŸ˜›

Read the rest of this entry »

Advertisements

Jatuhnya terbuka

September 21, 2007

Ini sebuah kemaluan kejadian memalukan sebenarnya. Tapi berhubung aku ini org hebat yg segalanya punya, kecuali 2 hal: isin karo wareg, ya aku ceritakan aja di blog. Toh aku bukan selebritis dan yg baca blog ini juga dikit, so what?! Lagian aku lagi males posting yg serius2. πŸ˜€

Kejadiannya pas acara open together di rumah monster om Gondrong dan tante Upik. Setelah opening, aku keasikan ngobrol ama temen2, gak sadar sholat maghrib berjemaah udah mau dimulai. Bergegas aku ke tempat wudhu’. *Ya ambil wudhu’ buat sholat lah, masa’ mau dugem?* Selesai wudhu’ aku setengah berlari menuju tempat sholat jemaah. Sebenarnya aku bisa terbang, cuman karena lagi banyak orang, jelas aku gak boleh nunjukin salah satu kemampuan spesialku ini. Kasian Superman, ntar gak laku. Tapi melihat jemaah udah mulai, secara gak sadar alias reflek, kemampuan terbangku keluar dikit. Sayangnya aku segera sadar, langsung aku mendaratkan diri ke bumi. Kalo aku gak segera sadar, tentu bakal lain ceritanya. Untung tak dapat diraih, malang tetap di jawa timur… aku mendarat di tempat yg salah, saudara2! Ubin kinclong nan berair tentu bukan tempat yg bagus untuk mendarat, apalagi kondisi kaki juga sedang basah! Pendaratanku gatot hp alias gagal total! Bukan dgn kaki seperti pendaratan normal yg sering aku lakukan, tapi dgn sikut kanan lebih dulu dan dilanjutkan pantat kanan mencium ubin! 😦

Mau tau kejadian yg lebih memalukan? Lanjut…


Tukang Unggah Excel

September 9, 2007
WebUploader NISN v.1.0-P

 
Ini dia! πŸ˜€ Seperti yg pernah aku bilang sebelumnya, aku akan menampilkan screenshot aplikasi yg sedang aku buat menggunakan FPC/Lazarus dan PWU. Aplikasi tsb dinamakan NISN WebUploader (v.1.0). Yg aku tampilkan di atas itu masih versi prototipenya, beberapa fitur/menu lain belum tampil. Kalo pengen tau fitur2 apa yg gak tampil, kamu harus jadi salah satu operator Dapodik Depdiknas. πŸ˜€ Mudah2-an bisa jadi cukup bukti bahwa aku bener2 menggunakan FPC/Lazarus (dibantu PWU) untuk bikin aplikasi web. πŸ˜‰

Aplikasi tsb bertugas sebagai media/alat mengirim data siswa dari daerah yg akan dimasukkan ke database Dapodik. Tentu gak semua data bisa diterima begitu saja. Ada proses pengecekan (verifikasi) thd data2 tsb sebelum diterima dan disimpan ke database Dapodik. Jika data atau format yg dikirim salah, tentu saja ditolak. Aplikasi ini diakses oleh seluruh kantor Dinas Pendidikan Kota/Kab se-Indonesia dgn hit rata2 sekitar 200-300 user per hari. Untuk sementara aplikasi ini hanya menerima data dalam format Excel 97-XP2003 (BIFF-8). Toh, data siswa yg ada di daerah hampir seluruhnya tersimpan sbg file .xls (sebagian besar) atau .dbf. Ke depan akan ditambahkan dukungan untuk membaca file format Excel 95 (BIFF-5) atau format2 lain yg dibutuhkan. Singkatnya seperti itulah kerja aplikasi ini. Sejauh ini unjuk kerja aplikasi ini di zona testing (demo) dan devel masih bagus. Mudah2-an akan lancar seterusnya. Wismilak! πŸ™‚

Untuk membaca file excel, aku menggunakan FlexCel dari TMS yg aku compile ulang (dan sedikit modifikasi) supaya bisa jalan di Linux. Thanks to Adrian (the author of FlexCel) for the support. πŸ˜‰


Kucing buntu

September 6, 2007
Lazarus GTK2 di Ubuntu Feisty

 
Iyak, betul! πŸ˜€ Screenshot di atas adalah Lazarus v.0.9.22 beta-stable (yg aku compile ulang dgn widgetset GTK2) lagi jalan di Ubuntu Linux Feisty. Keren, kan!

Itu adalah hasil kerjaan iseng di tengah kesibukan coding bikin aplikasi web berbasis PSP atau PWU. Yah, sekedar mengalihkan kejenuhan akibat mlototin kode2 pascal terus seharian. πŸ˜€ Ntar deh, kalo kerjaan yg ini kelar, aku bakalan posting screenshot-nya juga. Biar jadi bukti buat org2 yg bilang bahwa pascal gak bisa bikin aplikasi web. Hare gene gitu loh! πŸ˜›

Tentang Lazarus sendiri… versi yg aku pake ini udah sangat stabil kok. Udah cukup layaklah buat coding di Linux. Fitur2 editornya cukup lengkap, debugger-nya jalan dgn baik, form designer-nya bagus, dan seterusnya. Tentu saja jgn dibandingkan dgn Delphi, jelas Lazarus masih kalah, terutama di framework IDE-nya (belum ada OTA [Open Tools API], plugin system, dan dynamic package). Walaupun secara compiler (FreePascal) udah setara. Tinggal masalah kebiasaan (thd keterbatasan) aja sebenarnya, lama2 bisa menyesuaikan diri, bahkan menikmati. It’s just a matter of time and support, biar Lazarus bisa secanggih Delphi. πŸ˜€

Udah, tidur dulu ah. Coding-nya dilanjut besok lagi. πŸ˜›


Buntu bersama

September 2, 2007

Ubuntu Linux Sebagai aktipis TI, tentu aku juga menggunakan Linux. Apalagi aplikasi2 sisi server yg sering aku kami bikin, jalannya di Linux. Tapi ya gitu, krn mentalku masih manja, beraninya cuman dual-boot: Linux dan Windows. Itu pun dgn prosentase pemakaian kira2 Linux 20% dan Windows 80%. Sebagai tukang kebun program Pascal, ketergantunganku pada Delphi masih sangat tinggi, walaupun sudah mulai belajar2 pake FreePascal dan Lazarus. Paling sering ke Linux kalo mau tes program atau (re)compile program. Untuk kegiatan sehari-hari seperti makan, beli rokok, bercinta, browsing, email, dokumentasi, dlsb, masih seringnya di Windows. Udah kebiasaan dari orok kali. πŸ˜€

Tapi hampir selama bulan Agustus ini, kondisi berbalik. Dgn semangat yg tak kalah besar dgn para pejuang kemerdekaan, sekaligus dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Indonesia ke-62, *halah!* aku memantapkan diri untuk lebih sering menggunakan Linux. Walaupun belum berani menghapus partisi Windows dan mungkin belum bisa seperti Dheche dan Meti yg udah sepenuhnya menggunakan Linux (kecuali, tentu saja, untuk maen game πŸ˜› ), tapi setidaknya prosentase pemakaian Linux bisa 80%-lah. Termasuk kegiatan sehari-hari seperti yg aku sebut di atas tadi.

Setelah sebelumnya mencoba-coba beberapa distro Linux, akhirnya aku “buntu” di Ubuntu. πŸ˜€ Beberapa waktu lalu sempat lama juga pake SuSE, tapi krn dalam hal tertentu aku masih merasa kesusehan kesusahan, aku pun pindah ke lain hati distro. Sejauh ini, aku masih terpuaskan dgn Ubuntu. Sejauh ini pula FreePascal dan Lazarus bisa menunaikan haji tugasnya dgn sangat baik. Mudah2-an gak sampe ketemu jalan buntu yg menyebabkan aku pindah jalan distro lagi. Dan mudah2-an juga Linux gak membuatku pegal linux sehingga aku terpaksa kembali ke Windows. *nulisnya belepotan amat sih, gak punya tip-ex ya mas?* πŸ˜›

Thanks to Meti dan Dheche atas support-nya mau aku ajak “buntu” bersama. Wismilak, guys! Eh, AMild aja ding, yg 16 batang. Masih delapan setengah kan? πŸ˜€