Miskin kultural

Khutbah Jum’at di mesjid Raden Patah tadi siang, topiknya tentang hijrah. Singkatnya, aku menangkap inti dari khutbah ada 2 hal, yaitu:

  • Tidak ada yg tidak mungkin jika kita benar2 berkemauan kuat untuk berusaha mewujudkannya.
  • Kita harus adaptif terhadap perubahan dan mau melakukan perubahan jika ingin sukses dalam hidup, baik dunia maupun akhirat.

Khatib juga menyinggung bahwa hanya faktor waktu yg bisa menghentikan usaha dan perubahan, selain itu hanyalah alasan atas kemalasan. Hmmm… rasanya secara konsep gak jauh berbeda dgn apa yg pernah aku tulis sebelumnya.

Setelah sholat Jum’at, entah angin apa yg membuatku bertemu dgn kakak angkatanku semasa kuliah. Namanya adalah Handoko. Semasa kuliahnya, dia dikenal sbg aktivis kampus khususnya di bidang sosial dan politik. Sebagaimana umumnya aktivis kampus, kuliahnya juga keteteran. Kondisi dia saat ini, boleh dibilang cukup makmur dan sukses.

Kami pun kemudian makan siang bersama dan saling berbagi cerita tentang kabar kami selama ini. Dari obrolan ngalur-ngidul, ada sekelumit kisahnya yg menurutku cukup menarik. Diawali dari nostalgia dia selama jadi aktivis kampus, bagaimana dia dulu berpandangan bahwa kemiskinan yg terjadi di Indonesia adalah kemiskinan struktural. Kemiskinan terjadi akibat pemerintah salah dalam mengurusi rakyatnya. Korupsi menjadi kesalahan terbesar pemerintah. Itu sebabnya dulu dia getol sekali mendemo pemerintah dan kebijakan2-nya yg tidak berpihak pada masyarakat kecil.

Kisah pun berlanjut setelah dia keluar dari kampus. Dia dan teman2-nya kemudian mendirikan LSM dgn motivasi utama untuk membantu mengentaskan kemiskinan. Setelah sekian lama aktif di LSM tsb dan langsung berinteraksi dgn masyarakat miskin, dia terhenyak. Pandangan yg selama ini betul2 dia percayai, bahwa kemiskinan di Indonesia adalah kemiskinan struktural, ternyata tidak sepenuhnya benar. Bahkan secara umum, itu salah. Menurut dia, kemiskinan di Indonesia bukan struktural tapi kultural. Artinya budaya masyarakat kita pada dasarnya adalah budaya orang miskin. Masyarakat kita miskin karena mereka mengkondisikan dirinya sebagai orang miskin. Memang, pemerintah juga berperan menciptakan kemiskinan melalui jalur struktural, tapi menurut dia pemerintah jadi seperti itu krn pemerintah juga lahir dari masyarakat yg memiliki kultur orang miskin.

Tentu saja, tidak semua org Indonesia seperti itu. Namun secara umum, sebagian besar masyarakat kita, memiliki budaya dan mental orang miskin. Dia mencontohkan beberapa kasus. Misal tentang bagaimana seorang tukang becak memilih tetap jadi buruh becak dan menjual becak bantuan yg diperolehnya cuma2. Juga tentang salah seorang rekannya yg mengorbankan karir cemerlang di perusahaan swasta demi sebuah sertifikat PNS. Juga tentang bangkrutnya sebuah usaha krn yg diberi tanggung jawab sudah merasa “cukup” dan tidak mau lagi melakukan inovasi. Juga tentang beberapa kenalannya yg koruptor kaya raya tapi selalu merasa kekurangan. Dan contoh2 lainnya.

Buatku, kesimpulan ini sebenarnya bukan hal baru. Tapi aku gak menganggap kesimpulanku valid mengingat sumber yg aku peroleh terbatas pada pengamatan di internal kampusku. Aku sering melihat sendiri bagaimana orang tua mahasiswa yg secara ekonomi sangat berkecukupan tapi masih mau pontang-panting kesana-kemari mencari keringanan biaya kuliah (yg tidak seberapa) untuk anaknya, dgn alasan kurang mampu secara ekonomis. Sementara anaknya ke kampus mengendarai mobil dan bergaya hidup mewah. Juga tentang sebagian besar temen2 kuliahku yg berasal dari kalangan elit (ekonomi sulit), yg minder dan gak mau bergaul untuk mengembangkan wawasan serta personal network mereka. Juga tentang cita2 sebagian besar teman2 kuliahku, yg kalo gak jadi PNS, ya kerja di perusahaan besar. Jarang sekali aku bertemu dgn teman2 dari kalangan elit tapi bermental wirausaha. Justru yg sering aku temui adalah anak orang kaya yg bermental wirausaha, kebanyakan berasal dari keluarga Tionghoa.

Budaya di kampusku juga gak jauh berbeda. Terlepas kampusku bervisi sbg enterprenual university, apapun artinya itu, namun pada kenyataannya suasana di kampus sangat gak kondusif untuk itu. Misal, para alumni yg jadi PNS (pejabat) atau karyawan perusahaan swasta nasional dianggap lebih “terhormat” daripada alumni yg mampu membangun usaha sendiri walaupun dalam skala daerah. Padahal kalo mau hitung2-an materi, rasanya gak terlalu jauh berbeda. Kurikulum dan fasilitas pendidikan di kampus juga sangat kurang mendukung untuk pembentukan mental seorang enterpreneur. Masih kental anggapan bahwa punggawa (dianggap) lebih sukses daripada pedagang.

Makanya aku gak heran, di Indonesia, yg kaya semakin kaya, yg miskin semakin miskin. Umumnya, krn yg kaya berkemauan dan berusaha keras untuk tetap kaya. Sementara yg miskin sebaliknya, pasrah dan menyerah pada nasib sbg orang miskin tanpa ada keinginan (yg kuat) untuk mengubah nasib mereka. Seperti yg dikatakan tukang becak di atas ketika ditanya kemana becak dari bantuan LSM… “Mau gimana lagi, Mas. Saya ini orang miskin yg bisanya cuman ngayuh becak. Becak dari sampeyan itu saya jual, buat beli televisi.”😛

14 Responses to Miskin kultural

  1. WishKnew says:

    Bener Bee. Mental masyarakat kita juga mesti dibenahi, dan mulai “dibetulkan” di bangku pendidikan, baik formal maupun non formal. Mestinya ini jadi tanggungjawab kita semua, ta iye?

  2. Abu Fikri says:

    ktemu sama Handoko ???
    Waah … berarti mau beli mobil baru ya ??
    Avanza ? Yaris ?? Innova ???
    slamat deh … makan-makan dong !!!

  3. bee says:

    @abufikri: Wong ketemunya gak sengaja, kok dikira mau beli mobil.😛 Mentang2 udah punya mobil baru.😀 Pengennya beli Jaguar sih, tapi belum nemu. Belum nemu duit yg cukup maksudnya. Hehehehe…😀

  4. Qenthank says:

    hehehe … dalam beberapa debat dengan para aktifis dan orang2 idealis. Bangsa Kita ini adalah “Bangsa yang bangga dengan kemiskinan” lebih suka di beri daripada memberi.
    Banyak dweeeh contoh aneh2 .. yang kaya ngakunya miskin .. yang miskin pengen tetep dianggep miskin.. wakakaka. Pantes aja pemerintah juga mumet (apa ikutan miskin juga yak .. hahaha)

  5. Idham says:

    Hare gini ngomongin kemiskinan😀 gak ah
    mending statementnya gini ..
    Indonesia itu masyarakatnya Kaya
    kaya orang miskin maksudnya

  6. bprasetio says:

    @bee:
    “Pengennya beli Jaguar sih, tapi belum nemu. Belum nemu duit yg cukup maksudnya. Hehehehe…”

    yaaa.. kalo *nemu*duit ya jelas susah bee….. apalagi untuk beli jaguar… 🙂

    Apa mungkin juga kemiskinan kultural ini disebabkan oleh penjajahan yang sudah membudidaya selama ber-ratus-ratus tahun, baik penjajahan konvensional maupun modern?

  7. Hmmm… memang serba salah! Diajak ‘kaya’ maunya tetep miskin,
    dari dulu ampe sekarang ujung2nya menjengkelkan yg ngajak😀

    Tapi selama bukan saya yg miskin, biarkan aja! mereka maunya begitu…
    Justru kalo ngga’ gitu; (kaya semua) kemana ntar kita akan bersedekah?
    Kepada siapa akan kita bagikan daging kurban?

    Hehe, takutnya ntar cari pahala jadi susah; karena pahala yg paling mudah adalah menyisihkan harta kita utk disedekahkan (dng ikhlas)…🙂

  8. bee says:

    @Indra Gunawan:
    Idealnya, semua org harus kaya. Target sedekah gak melulu pada org miskin. Kalo gak ada org miskin bukan berarti kita gak perlu sedekah lagi. Ketika udah gak ada org miskin, target sedekah adalah fasilitas publik. Sedekah bisa digunakan untuk membangun jalan raya, membangun rumah sakit, membangun tempat ibadah, membangun sekolah murah, dlsb, yg ujung2-nya juga kembali pada yg memberi sedekah. Hal seperti ini juga yg dilakukan negara maju melalui mekanisme pajak.

    So, ajakan agar semua org jadi kaya dan selalu bersedekah tetap berlaku, terlepas kondisi masyarakat miskin atau kaya.😉

  9. manggoapi says:

    Menilai orang sebaiknya secara cermat, teliti, dan dengan informasi yang lengkap dan akurat, jangan cuma dari kulitnya. Saya yakin setiap tindakan ada alasan rasional. Mungkin tidak sejalan dengan cara berpikir kita. Kalau kita tidak paham dengan cara berpikir orang lain, maka kita tidak beda dengan orang yang kita cela. Kalau kita memahami cara berpikirnya, kita punya peluang untuk memperbaiki. Kalau cuma sekedar kaya, ngerampok juga bisa. Banyak orang ngerampok tetapi berpenampilan pengusaha. Statusnya entepreneur, tetapi tekniknya ternyata menipu.

    Cara bercocok tanam dengan teknologi sederhana yang dulu dianggap tidak efisien, ternyata sekarang diberi label “kearifan lokal”. Jangan heran juga kalau yang sekarang dicap miskin kultural akan mendapat julukan yang lain yang lebih keren di kemudian hari.

    Perlu juga berempati, sehingga kita tau mengapa becak sumbangan dijual, atau kambing sumbangan dipotong dan dijual dagingnya bukannya dipelihara supaya beranak-pinak. Sama pula, mengapa ada yang masih ogah beralih ke kompor gas. Ada beberapa yang melakukan hal yang “aneh” karena salah paham, tapi ada yang melakukannya dengan sangat rasional, dan kitalah yang tidak paham cara berfikir mereka.

  10. venus says:

    iya, setuju. midset kita udah telanjur salah kali yak? trus gimana ini, pak? kita demo? *halah malah ngajak guyon. gak duwe wedi, hahahah…*

    apa kabar, bee? suwe gak mrene😀

  11. bee says:

    @mangoapi:
    Sepakat! Namun seberbeda-berbedanya jalan pikiran org, pasti ada pattern/pola yg bisa kita perkirakan, tanpa harus berburuk sangka atau menghilangkan empati. Lagipula, yg saya sampaikan adalah pengalaman dari seseorang (mas Handoko itu) yg saya pikir sudah cukup berpengalaman di bidangnya serta melalui pengamatan yg cermat, teliti, dan lengkap. Ini bukan sepenuhnya pendapat saya, tapi pengalaman mas Handoko memperkuat pendapat saya.

    Sebagai contoh, seorang/keluarga yg secara lahiriah jelas2 tampak kaya (sekeluarga bawa mobil, pakaian mentereng, perhiasan lengkap, dlsb) terlepas sumbernya halal atau haram, tapi mau pontang-panting mengurusi keringanan biaya kuliah (yg gak seberapa dibanding kekayaannya), kira2 cara berpikir positif apa yg sekiranya bisa menjelaskan knp org tsb melakukan itu?😛 Kalo masalah kompor gas dan minyak tanah, itu sih mudah dipahami, apalagi saya termasuk yg masih memilih minyak tanah.😀

    @venus:
    Apik, mbok. Aku sik sering dolan nang nggone sampeyan loh. Sampeyan ae sing jarang mrene. Maklum kok, mbok… sampeyan lak blogger seleb.😀

  12. emhade says:

    Jadi kaya ato miskin itu soal pilihan plus “takdir”. Kaya dan miskin itu juga soal tafsir, yang sayangnya kaya, saat ini, lebih dimaknai ukuran fisik melulu dan dimaksudkan sebagai berlebih. Masalah kita bisa jadi bokan soal ke-miskinan, tapi ke-fakiran. Maknanya beda lho…

  13. benny says:

    kenapa org byk khotbah di mesjid.. lalu mangguk-mangguk dengerin khotbah gk bisa di intrupsi.. trus byk org bilang benar benar.. hmm buktinya??? banyak bicara lalu cuci tangan untuk yg tersesat heh?

  14. bee says:

    @benny:
    Logika yg aneh. Org yg udah dikasi tau jalan yg bener, trus masih tersesat juga, kok yg disalahin yg ngasih tau seh? Hare gene masih ada org salah dgn alasan gak tau? Itu mah org males aja, atau budek, atau bebal. Jgn org lain dijadikan kambing hitam atas kesalahan/ kebebalan diri sendiri, mas. Malu!😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: