Bangga berbahasa

Pernah denger atau baca kata “selebrasi”, atau “sekuritas”, atau “donasi”, atau “destinasi”? Saya pernah, sering malah. Dan terus terang, saat pertama kali saya dengar atau baca kata2 itu, saya bingung. Walaupun dgn metode tebak2 buah manggis saya bisa me-ngira2 artinya apa, tapi keheranan tetap muncul. Akhirnya saya bisa mengerti kalo itu artinya adalah perayaan (selebrasi), keamanan (sekuritas), sumbangan (donasi), dan tujuan (destinasi). Pertanyaan saya adalah, apakah bhs Indonesia sedemikian miskin kosakata sehingga perlu menyerap kata2 umum dari bhs asing?๐Ÿ˜ฆ

Tidak, saya gak anti kata serapan dari bahasa asing (apapun itu). Saya juga sepakat bahwa bahasa harus dinamis dan berkembang. Tapi, mbok ya kita ini mencoba memaksimalkan bhs kita (Indonesia) dulu lah, sebelum menggunakan bhs asing sbg kata serapan. Apalagi sampe menggunakan kata serapan (yg sebenarnya gak perlu itu) dalam tulisan2 formal yg dinikmati oleh khalayak (umum), misalnya di koran, televisi, atau portal berita.

Memang, gak semua kata asing yg kita butuhkan mempunyai padanan bhs Indonesianya. Khususnya di bidang teknologi, kita perlu menyerap cukup banyak kata asing. Kosakata bhs Indonesia di bidang tsb memang cukup minim. Namun, bukan berarti seluruh kata asing harus kita serap begitu saja. Kalo memang bhs Indonesia masih memiliki padanannya, kenapa harus menyerap dari bhs asing? Sebenarnya kosakata bhs Indonesia itu sangat kaya kok, dan juga indah. Ini saya tau waktu dulu nyari nama buat anak2 saya.๐Ÿ˜€

Alasan “janggal” atau “aneh” seringkali menjadi alasan untuk menolak penggunaan padanan bhs Indonesia terhadap kata serapan asing yg sudah terlanjur umum dipakai. Menurut saya, itu hanya masalah kebiasaan saja. Jika kata asli Indonesia yg terdengar “janggal” dan “aneh” itu telah biasa kita gunakan, maka gak akan terdengar janggal dan aneh lagi. Kata serapan yg dipaksakan (seperti contoh di atas) juga sama anehnya bagi telinga org awam seperti saya ini. Sementara keanehan contoh kata2 di atas gak perlu dan gak penting sebab kita sudah memiliki padanan katanya yg justru lebih akrab di telinga kita. Sayang sekali jika bhs Indonesia yg kaya ini jadi termiskinkan krn kita lebih suka menyerap kata dari bhs asing.๐Ÿ˜ฆ

Salah satu contoh sukses penggunaan padanan kata Indonesia terhadap istilah asing adalah “suku cadang” untuk kata “spare part”. Andaikata saat ini kita belum mengenal kata “suku cadang”, saya jamin kata itu akan terdengar janggal dan aneh. Mungkin komentar kita akan seperti ini… “suku? suku indian kale?”๐Ÿ˜› Tapi buktinya sekarang? Kita dengan nyaman menggunakan kata itu sbg terjemahan dari “spare part” dan semua org Indonesia paham artinya. Kata2 padanan seperti itu perlu untuk kita biasakan penggunaannya agar kesan aneh dan janggalnya makin berkurang.

Di sisi lain, ironisnya, sebagian besar dari kita masih sering “belepotan” dgn bahasa kita sendiri.๐Ÿ˜ฆ Satu contoh yg paling sering saya temui adalah kesalahan dalam penggunaan kata dasar “ubah” dgn awalan “me-“. Masih banyak kita menulisnya sebagai “merubah”, padahal yg benar adalah “mengubah”, sebab gak ada awalan “mer-“. Kesalahan lain yg sering saya temui adalah kerancuan penggunaan “di” sebagai awalan dan sebagai kata depan.๐Ÿ˜›

Saya sendiri sebenarnya juga bukan pengguna bhs Indonesia yg baik dan benar. Blog ini jelas menjadi buktinya. Namun, saya berusaha untuk menggunakan kata asing dan serapan secara baik, benar, dan tepat. Akhir2 ini saya mulai membiasakan diri dgn kata “daring” (dalam jejaring) sbg padanan kata “online” dan kata “surel” (surat elektronik) sbg padanan kata “email” (electronic mail). They don’t sound too bad anyway. Lagipula, kalo bukan kita (org Indonesia), sapa lagi yg mau menjaga bhs Indonesia?๐Ÿ˜‰

Mungkin ada benarnya juga sebuah ujaran yg kurang lebihnya seperti ini: “Tunjukkan bahasamu, kutunjukkan kebanggaanmu (pada bhs tsb)”. Apakah kita (orang Indonesia) sudah gak bangga lagi pada bahasa Indonesia? Bisa jadi.๐Ÿ˜ฆ

14 Responses to Bangga berbahasa

  1. WishKnew says:

    Coba artikan kalimat berikut bee:

    The server has a plug and play service with joystick interface.

  2. ulan says:

    aku tau arti nya om…
    “om bee punya begituan dan main begituan dengan begituan” iya kan..

  3. ridwan says:

    hak..hak.. iya om bee artikan kalimat dari Wishknew. Pastinya kalimatnya jadi aneh.๐Ÿ™‚

  4. bee says:

    Berdasarkan…

    > Memang, gak semua kata asing yg kita butuhkan mempunyai padanan bhs Indonesianya. Khususnya di bidang teknologi, kita perlu menyerap cukup banyak kata asing. Kosakata bhs Indonesia di bidang tsb memang cukup minim.

    maka, saya menerjemahkan…

    > The server has a plug and play service with joystick interface.

    menjadi…

    Server (tsb) memiliki layanan plug and play dgn antarmuka joystick.

    Rasanya gak janggal, cukup nyaman dibaca dan didengar.๐Ÿ˜›

  5. idham says:

    klo penggemar buku2 wasito ato maniak pengguna transtool menerjemahkannya jadi

    “Pelayan itu memiliki layanan tancap dan mainkan dengan antarmuka tongkat kebahagiaan”

    dan kalimatnya gak jadi aneh biasa aja๐Ÿ˜€ cuman tidak di artikan dengan benar aja

    hehehe

  6. Faiz says:

    Setuju mas. Memang kita harus bangga sama bahasa sendiri. Saya aja sekarang lebih bangga kalo ketemu orang bule terus ngomongnya pake bahasa indonesia bukan english. Hanya saja mas, ternyata mencari padanan kata asing ke dalam bahasa kita itu tidak mudah. Ah, bukan tidak mudah, tapi sulit. Sangat sulit. Apalagi bagi orang kayak saya yang baru belajar menerjemah. Nah, menurut saya salah satu alasan kenapa sekarang ini banyak kata-kata serapan adalah karena memang padanan yang lebih “pas” belum ditemukan. gitu kali……:)

  7. bee says:

    @faiz:
    Sebenarnya saya gak mempermasalahkan kata serapan dari bhs asing. Kalo memang gak ada padanan kata yg pas, atau bahkan mungkin memang gak ada di bhs Indonesia, ya diserap aja, gak ada masalah dgn itu. Yg saya permasalahkan adalah kata serapan yg sebenarnya gak perlu untuk diserap, sebab bhs Indonesia telah punya padanan kata untuk itu. Contoh yg saya berikan di awal tulisan ini adalah beberapa dari banyak kata serapan yg sebenarnya gak perlu.

  8. Abu Fikri says:

    Jujur saja ! Langkah pertama yg saya lakukan setelah install software yg langsung memasang Bhs Indonesia sbg default language adalah menggantinya menjadi English. Begitu juga dg Ponsel, pasti saya pilih English sbg language -nya.
    Ngapain dipaksa bangga dg (bahasa) Endonesia ?

  9. bee says:

    > Begitu juga dg Ponsel, pasti saya pilih English sbg language -nya.

    Memilih setting bhs yg digunakan, baik di HP atau di komputer, gak selalu berarti gak bangga pada bhs Indonesia. Bahkan juga tulisan di blog. Selama itu sifatnya pribadi, bukan untuk kepentingan umum yg formal, maka itu hanya masalah kenyamanan dan kebiasaan. Makanya, setting itu sering disebut dgn “preferences”.๐Ÿ™‚

    > Ngapain dipaksa bangga dg (bahasa) Endonesia ?

    Pertanyaan menarik!๐Ÿ™‚ Wah, kalo ini saya jawab, bisa panjang x lebar x tinggi nih. Terus terang, saya kasian pada bangsa ini jika seluruh rakyatnya berpikiran seperti itu. Ngapain bangga dgn bhs Indonesia? Ngapain bangga jadi orang Indonesia? Ngapain bangga jadi manusia? Ngapain bangga jadi muslim? Ngapain bangga punya Tuhan? Dst, dlsb. Pola pikir putus asa dan kurang percaya diri seperti ini, pantas jika Indonesia gak pernah mampu bangkit. Wong pada dirinya sendiri udah gak ada keinginan untuk exist. Jika keinginan exist aja udah gak ada, gak mungkin berpikir untuk survive. Mudah2-an bung Abu Fikri punya alasan bagus untuk itu.

    BTW, Anda masih membaca dan menulis dalam bahasa Indonesia toh? Atau anak Anda sudah gak bisa lagi bhs Indonesia dan menggantinya dgn bhs Inggris? Mudah2-an Anda bukan seperti temen saya yg sok keminggris, tapi bhs Inggris dan Indonesianya sama2 gak becus.๐Ÿ˜‰

  10. Abu Fikri says:

    > Ngapain dipaksa bangga dg (bahasa) Endonesia ?
    coba pikirkan lagi dg pertanyaan ini …
    Ngapain bangga dg (bahasa) Endonesia ?
    Ini sebenarnya retoris kok … bahkan dari pernyataan sampeyan yg panjang x lebar x tinggi diatas sebenarnya sudah menjawab.
    Jadi ini bukan soal keminggris, kemarab, kesundan, atau kemeduroan …

    Yup.. pilihan bahasa adalah masalah preferensi (atau preference?) setelan (atau setting?) telepon bergerak (atau mobile phone?). Suka-suka yg pakai …

  11. ranggagah says:

    sekedar komentar aja..
    menurut saya bahasa adalah ungkapan untuk menyampaikan sesuatu, sehingga orang lain mengerti maksud yang kita sampaikan..
    bahasa ngga harus pake ribet.. biar simpel asal lawan bicara kita ngerti..
    kenapa juga kita harus memperhatikan kosakata.. sementara maksud dan tujuan kita disalah artikan sama lawan bicara.. y kan?
    Tapi kalo dipandang soal Patriotisme atau nasionalisme atau apalah.. saya kurang tahu juga..
    sebagai warga negara yang berbendera MERAH PUTIH memang sewajarnya dan sepatutnya kita menjaga Kejayaan Bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD.. Masa sebagai warga negara, kita membiarkan Kejayaan Bahasa Indonesia memudar begitu saja oleh pengaruh asing dan sebagainya..
    githu lho..

  12. fitri says:

    Halo Bis.. ketemu lagi di blog ;-p. Bener banget nih tulisannnya.. gw jadi inget waktu masih gawe dulu, bos ku yang expat bilang bahwa dia suka bingung dengan kata-kata campuran kayak ter-update, ke-lock, di-crack dan lain-lain.. Padahal dia gape bahasa Indonesia lo.. jadi sering banget di meeting dia bilang, “Please use Bahasa.. and use it in all terms”๐Ÿ˜€.

  13. okke says:

    yang menurut saya canggih adalah : ATM yang di Indonesia-in jadi Anjungan Tunai Mandiri… bisa gitu lho ngepas-ngepasinnya. Yang malesin : Pusat Lipuran (Amusement Center)

  14. benwal says:

    untuk mencari padanan kata saja banyak yg malas, makanya bangsa ini jadi susah untuk maju ya…๐Ÿ˜€

    salam,
    pengasuh pondok wacana Bahasa, please!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: