Lebaran Kelabu

Jum’at, 2 hari sebelum Lebaran, 4 tahun yg lalu

Sebelum Dhuhur

Aku sedang asik membaca sebuah majalah di ruang tamu. Di ruang depan, yg jadi toko tempat usaha Papa, kudengar Papa menyuruh adikku mengantar pesanan minyak tanah ke pelanggan.

“Zil, tolong antar truk minyak tanah itu ke pelanggan. Papa lagi kurang enak badan”, perintah Papa.

“Baik, Pa”, jawab adikku.

Papa kemudian menyebutkan nama2 pelanggan yg harus dikirimi minyak tanah. Beberapa kali Papa mengingatkan alamat dan ancer2 lokasi beberapa pelanggan. Aku tau Papa pasti menyebutkan itu sambil menyerahkan catatan nama, alamat, dan jumlah kiriman tiap pelanggan. Adik bungsuku itu memang agak pelupa.

“Jika pengantaran lancar, kamu seharusnya bisa sampai di rumah sebelum Dhuhur. Hanya mengantar ke 4 pelanggan aja kok”, ujar Papa.

“Kalo gak bisa, kamu sholat Jum’at di mesjid terdekat aja, bareng supir truk”, lanjut Papa.

“Iya, Pa”, jawab adikku lagi.

Tak lama kemudian aku dengar suara mesin truk minyak tanah menjauh.

Sampai aku berangkat sholat Jum’at, adikku belum pulang dari mengantar minyak.


Setelah Dhuhur

Baru saja aku selesai mengganti sarung dgn celana, ketika Papa menggamit tanganku sambil berbisik, “Ayo antar Papa, bawa sepeda motor, lakukan dgn diam2.”

“Ada apa, Pa?”

“Udah lakukan aja. Cepetan! Papa dengar kabar gak enak tentang adikmu.”

Aku lihat wajah Papa tegang. Tanpa komentar lebih lanjut, aku segera melakukan perintah Papa. Ah, pasti ada pelanggan yg bermasalah nih, pikirku.

Dengan sepeda motor Suzuki Bravo yg biasa dibawa adik bungsuku, kami meluncur meninggalkan rumah. Dari kaca spion, aku melihat salah seorang adik perempuanku memperhatikan kepergian kami. Wajahnya juga tegang.

“Ayo digas motornya, kita harus cepat sampai disana,” ujar Papa sambil menepuk bahuku.

Gas motor kutarik nyaris penuh. Aku masih belum diberitahu persis lokasi tujuan karena Papa hanya menyebut nama sebuah desa di pinggiran kota, Panglegur.

Desa Panglegur adalah sebuah desa di selatan Kota Pamekasan. Desa ini dibelah oleh sebuah jalan besar lintas kota yg menghubungkan kota2 kabupaten di sepanjang pesisir selatan Pulau Madura.

Mendekati desa Panglegur, dadaku berdesir. Teriknya panas matahari yg menyengat di siang bolong itu tak lagi kupedulikan. Dari kejauhan kulihat sebuah truk pengangkut minyak tanah terguling di tengah jalan besar. Aku tak mau berpikiran buruk. Dalam hati aku berdo’a semoga itu bukan truk yg ditumpangi adikku. Laju motor kutambah tanpa aku sadari, terdorong oleh rasa penasaran. Samar2 aku dengar Papa bergumam, mungkin beliau beristighfar. Papa kemudian menyuruhku berhenti di lokasi tempat truk terguling itu.

Setiba di lokasi kecelakaan, Papa tak sabar menungguku memarkir motor. Beliau melompat saat aku memperlahan laju motor untuk parkir di sebuah pohon di pinggir jalan. Jantungku makin berdebar kencang melihat tingkah Papa. Aku cepat2 memarkir motor dan segera berlari menyusul Papa, menuju kerumunan orang di sekitar truk yg terguling itu. Kunci motor lupa aku cabut dari tempatnya. Aku masih terus berdo’a semoga itu bukan truk adikku.

Truk itu terguling ke kanan, menimpa marka beton di tengah jalan. Salah satu tiang listrik penerangan jalan yg berdiri di atas marka beton, patah setinggi kaca truk. Patahan atasnya terguling di sisi kiri truk. Kaca depan truk pecah berhamburan. Atap truk sebelah kiri, di sisi penumpang, melesak ke bawah nyaris menyentuh jok tempat duduk. Nampaknya bagian atap itu yg ditimpa patahan tiang listrik. Pintu truk sebelah kiri sudah tidak ada di tempatnya lagi. Aku melihat banyak darah di sisi kiri truk. Pikiran buruk menyergapku.

“Bee! Adikmu, Bee! Adikmu!”, Papa menjerit. Badannya limbung.

“Ini truk adikmu, Bee!”

“Ini truk adikmu!”

Aku terdiam di sebelah Papa. Lidahku kelu. Dadaku sesak. Kepalaku mendadak pening. Badanku gemetar. Selama sepersekian detik, pikiranku kosong. Aku gak tau harus berbuat apa. Pertanyaan salah seorang dari kerumunan menyadarkanku.

“Sampeyan keluarga korban, ya?”, tanya seseorang. Tak jelas, dia bertanya padaku atau Papa.

“Iya, kemana supir dan penumpangnya?”, jawab Papa.

“Baru saja dibawa ke RSU, pak. Pake mobilnya orang sekitar”.

Papa masih panik. Badannya masih tampak limbung. Segera kupeluk Papa dan kupapah ke tepi jalan. Aku memberi kode pada seorang tukang becak. Si tukang becak paham, tanpa ber-kata2 dia mendekati kami dan membantuku menaikkan Papa ke tempat duduk.

“Antar bapak ini ke RSU”, kataku pada si tukang becak.

Dia hanya mengangguk dan segera melarikan becaknya ke arah RSU. Aku masih mendengar Papa tak henti2-nya beristighfar.

Segera aku mengambil motor. Kunci motor masih berada di tempatnya. Tanpa mempedulikan pandangan banyak orang, aku segera ngebut meninggalkan lokasi kecelakaan.

Aku tidak menuju rumah sakit. Aku menuju rumah. Dadaku penuh, mataku panas. Aku ingin menangis!

Sesampainya di rumah, aku diam2 menuju pojok toko yg agak tersembunyi. Di situ aku menumpahkan tangisku tanpa suara. Aku butuh menenangkan diri dari gempuran rasa panik, bingung, takut, dan marah. Aku tak mengerti kenapa aku jadi merasa marah.

Seseorang menyentuh bahuku.

“Minum dulu, mas. Biar tenang”, kata salah seorang adik perempuanku, yg tadi menatap kepergian aku dan Papa.

Dia menyodorkan gelas berisi air putih, sambil menangis. Suaranya gemetar.

“Kami udah dengar kabar Zilzal. Ayo kita ke rumah sakit, mas. Aku pengen liat kondisi Zilzal. Kita berangkat berdua aja, Mamik sedang menenangkan Ebok (ibu dalam bhs Madura, pen)”, lanjutnya.

Belakangan aku tau bahwa selama aku pergi bersama Papa, keluargaku di rumah menerima kabar tentang kecelakaan yg menimpa adik bungsu kami dari tetangga. Sedang Ita telah menerima kabar dari temannya yg kebetulan bertempat tinggal di sekitar lokasi kecelakaan, sebelum aku dan Papa meninggalkan rumah tadi. Tapi Ita gak berani memberitahukannya ke keluarga yg lain. Dia tak mau mempercayai kabar itu.

Setelah merasa cukup bisa mengendalikan diri, aku segera berangkat ke rumah sakit. Sebelumnya, aku menengok kondisi ibu di kamar. Beliau menangis sesenggukan sambil dipeluk adik perempuanku yg lain, Mamik, yg juga menangis. Kubiarkan mereka krn aku ingin segera ke RSU untuk melihat kondisi Zilzal. Ita tak jadi kuajak, aku gak yakin aku masih sigap membonceng orang dalam kondisi seperti ini. Kusuruh dia naik becak saja.

Setibanya di rumah sakit, aku segera menuju UGD. Di pintu ruang UGD aku tertegun.

Di salah satu sudut ruang UGD, aku melihat Papa duduk di tepi sebuah ranjang pasien. Pandangan beliau mengarah ke sebuah tubuh yg terbujur kaku di atas ranjang. Kain putih menyelimuti tubuh tsb. Dari ujung kepala hingga ujung kaki. Terlihat bercak darah di beberapa bagian kain, khususnya di sekitar kepala. Aku tak berani menyimpulkan apa yg kulihat. Saat kubergerak mendekati Papa, kudengar jelas Papa bergumam,

“Seharusnya aku yg mati, nak. Seharusnya aku yg terbujur di situ”, gumam Papa. Aku tau aku tak perlu lagi bertanya.

Tiba2 rasa marah yg tak kumengerti tadi, mendadak muncul kembali. Rasa marah itu sangat kuat. Cukup kuat untuk memotivasiku membunuh orang!

“Mana supir truknya? Mana supir truknya? Apa dia mati juga?”, teriakku kalap.

Setengah berlari aku mengelilingi ruang UGD itu. Mencari pasien atau jenazah lain. Herannya, saat itu hanya ada adikku seorang di UGD. Tiba2 ada seseorang yg menyergapku dari belakang.

“Sudah Bee! Tak ada gunanya! Supirnya juga mati! Sudah!” teriaknya sambil menahanku.

Aku tau itu suara pamanku.

“Kalo supirnya juga mati, mana mayatnya, Om? Mana?”, bentakku sambil berbalik.

“Sudah dibawa pulang keluarganya. Baru saja. Sudah, kamu tenangkan dirimu!”, jawab paman berusaha menenangkanku.

“Sekarang bantu paman dan kakakmu mengurus jenazah adikmu”.

Aku terduduk. Menenangkan diri.

Ma’af, aku tak mampu menggambarkan kondisi jenazah adikku. Aku bahkan ingin melupakannya.

Setelah Ashar

Mobil ambulans yg mengantar jenazah adikku baru saja meninggalkan rumah. Papa meminta keluarga untuk memandikan ulang jenazah. Beliau merasa kurang puas melihat hasil dari RSU. Masih terlihat bercak darah di sana-sini.

Kami pun mengulang seluruh prosesi persiapan jenazah. Seluruh anggota keluarga dan tetangga turut membantu.

Ibuku tak mampu sama sekali mengikuti prosesi. Beliau berulang kali pingsan setiap akan melihat kondisi adik kami. Akhirnya, Ibu hanya berdiam di kamar ditemani beberapa orang bibiku.

Seluruh prosesi selesai menjelang maghrib. Jenazah disemayamkan di musholla keluarga kami. Papa memutuskan untuk mengebumikan jenazah selepas maghrib.

Setelah Maghrib

Jenazah diberangkatkan ke pemakaman. Sebuah pemakaman umum di sisi selatan desa kami. Di pemakaman itu, hampir seluruh mendiang keluarga dari pihak ibuku dimakamkan. Tak jauh di sebelah kanan liang lahat adikku, ada makam kakekku. Di sisi kepala liang lahat adikku, ada makam pamanku. Di sebelah kiri liang lahat adikku, ada makam kakek dan nenek buyutku. Sudah ada empat generasi keluargaku mendiami pemakaman itu.

Papa, aku, dan paman adalah kelompok terakhir yg meninggalkan pemakaman. Papa terlihat amat masygul dan terpukul. Begitu seluruh prosesi pemakaman selesai dan orang2 mulai meninggalkan kami, tangis Papa pun pecah. Nampaknya selama seharian tadi beliau memaksakan diri untuk tampak tegar.

“Seharusnya aku yg dikubur malam ini! Bukan kamu, nak!”, bergumam Papa sambil menangis. Aku merasakan ada guratan perasaan bersalah dalam gumamannya.

Di sela2 gumaman do’a dan istighfar, beliau sesekali mengulang ucapan itu. Aku dan paman diam saja. Kami membiarkan Papa melepaskan beban perasaannya.

Saat kami bertiga meninggalkan pemakaman, lamat2 kami mendengar masjid masih mengumandangkan surat Al Fatihah. Malam ini adalah malam terakhir sholat tarawih.

Di rumah, Papa langsung menuju kamar Ibu. Papa kemudian bersimpuh di pangkuan Ibu, meminta ma’af krn telah menjadi salah satu “penyebab” perginya si bungsu.

Ibu menjerit histeris. Lalu pingsan.

Aku pergi meninggalkan rumah, tak tahan menyaksikan adegan2 sedih. Sudah kering mataku menangis terus seharian. Aku pergi dgn alasan mengantarkan zakat keluarga ke mesjid dan tetangga sekitar yg kurang mampu. Biasanya aku melakukan ini berdua dgn si bungsu.

Sabtu, 1 hari sebelum Lebaran, 4 tahun yg lalu

Hari itu keluarga kami telah mendapatkan informasi yg lebih lengkap dan valid tentang kecelakaan adikku. Informasi tsb kami peroleh dari pihak kepolisian, DLLAJR, dan rumah sakit.

Supir truk yg mengemudi saat kecelakaan itu terjadi ternyata bukan supir truk yg seharusnya. Bukan supir truk yg sama saat truk itu berangkat dari toko Papa. Setelah selesai mengantar minyak ke para pelanggan, supir truk yg resmi digantikan oleh salah satu supir training yg baru saja bisa menyetir. Supir training ini masih ada hubungan kerabat dgn supir resmi. Kalo gak salah, masih misan atau keponakannya.

Kecelakaan itu berawal ketika supir berusaha menghindari sebuah lubang. Kondisi jalan memang gak mulus krn separuh jalan dalam kondisi rusak dan sedang dalam proses perbaikan. Tapi krn supir ini masih belum tangkas menyetir, truk justru oleng dan akhirnya menabrak beton marka jalan. Berdasarkan informasi dari saksi mata, truk sedang melaju dalam kecepatan cukup tinggi. Mungkin krn jalanan sedang lengang ditambah kontur jalan yg menurun. Anehnya, tidak ditemukan bekas rem sama sekali di sepanjang jalan lokasi kejadian. Aku curiga, jgn2 ini adalah pengalaman pertama si supir training mengemudi di jalan umum. Dalam kondisi panik, dia gak bisa membedakan mana pedal gas dan pedal rem.

Dan supir truk training tsb ternyata tidak meninggal dunia. Keluarganya segera bertindak “menyelamatkan” dia sebelum keluarga kami datang. Nampaknya mereka khawatir akan menjadi amukan keluarga kami. Kekhawatiran mereka bisa jadi benar. Entah bagaimana cara mereka memaksa petugas ruang UGD untuk mengatakan pada keluarga kami bahwa supir itu telah meninggal dan dibawa pulang oleh keluarganya. Ah, cerita basi di negeri ini, bukan?

Walaupun gak meninggal, supir tsb menderita luka parah. Salah satu dadanya remuk, beberapa tulang rusuk patah dan melukai organ dalamnya. Salah satu tangannya patah, dan dia juga gegar otak. Entah apakah itu benar atau tidak, aku gak peduli. Toh, adikku gak akan kembali hidup kalo mengetahui kondisi sebenarnya.

Anehnya, aku tak lagi merasa marah. Aku sudah bisa menerima bahwa kejadian ini adalah takdir, kehendak Sang Kuasa. Aku juga gak mau mengusik arwah adikku dgn tindakan2 yg bisa mengganggu ketenangannya di alam kubur. Bagaimanapun juga, tak satu pun keluargaku berminat untuk menjenguk si supir training itu. Kami juga tak berminat untuk memperkarakan kasus ini lebih lanjut ke meja hijau.

Ahad, Lebaran, 4 tahun yg lalu

Lebaran tahun itu tak semeriah biasanya. Pertemuan keluarga besar yg biasanya diwarnai tawa dan kabar gembira, kali itu penuh tangis kesedihan. Keluarga dan kerabat jauh yg datang dgn senyum, pulang dgn sedih, bahkan tangis. Tak menyangka bahwa di hari nan fitri itu kami kehilangan salah satu anggota keluarga yg kami cintai.

Sebagai saudara bungsu, Zilzal memang pantas dicintai. Tidak hanya oleh keluargaku sendiri, tapi juga oleh keluarga besar kami, terutama dari pihak Ibu. Tidak hanya keluarga, bahkan tetangga pun banyak yg menyukainya. Dia supel, ramah, dan mudah sekali bergaul dgn org lain. Dia suka membantu org lain, dgn tulus. Sikapnya polos, sederhana, apa adanya, tidak di-buat2. Banyak org menganggap dia lugu.

Sifatnya cenderung berbanding terbalik dgnku. Aku pemberontak, dia penurut. Nyaris tak pernah membantah jika disuruh Papa, Ibu, maupun kakak2-nya. Aku ber-cita2 tinggi, dia sederhana. Apa yg dia inginkan gak muluk2. Misal saat ditawari sepeda motor, dia hanya meminta Suzuki Bravo, itu pun yg bekas. Padahal kami mampu membelikannya sebuah sepeda motor baru, tapi dia gak mau. Katanya, “Yg bekas aja, biar sisa duitnya ditabung atau buat tambahan modal usaha Papa. Lagian mau aku pake kemana sih? Paling2 cuma muter2 di kota ini”. Tapi uniknya, suatu saat dia pernah berkata pada salah seorang kakak perempuannya, “Aku pengen bisa seperti Mas, tapi dgn caraku sendiri”.

Diantara saudara2 yg lain, dia adalah anak kesayangan orang tua kami. Kakak2-nya gak ada yg bermasalah dgn itu krn selain dia anak yg baik, dia juga adik yg baik. Berbeda dgn kakak2-nya yg ngebet pengen kuliah, dia justru enggan kuliah. Beberapa kali mencoba ikut ujian masuk perguruan tinggi, itu pun krn desakan Papa, tapi selalu gagal. Dia sendiri pun sebenarnya ogah2-an mengikutinya. Saat aku tanya kenapa dia enggan kuliah, dia menjawab, “Aku gak sepandai kakak2 yg lain. Lagian kalo semua anak Papa kuliah, sapa yg menemani Papa dan Ebok di rumah? Biar aku aja yg nemani Papa dan Ebok, sambil meneruskan usaha Papa. Biar kakak2 aja yg kuliah”.

Karena dia yg paling disayang di keluarga kami, aku mencoba mengimbangi sikap Ibu dan kakak2 perempuannya dgn cenderung bersikap keras padanya. Aku bermaksud baik, supaya mentalnya gak lembek. Waktu pertama kali dia ingin ke Malang, ke tempat kosku. Krn khawatir, Ibu ingin dia diantar Papa atau aku jemput. Jelas aku gak setuju. Aku bilang pada adikku, “Kalo mau ke Malang, berangkat sendiri. Harus berani! Kalo kamu diantar Papa, mas akan usir kamu begitu Papa kembali!”. Entah bagaimana dia membujuk Ibu, dia berhasil berangkat sendiri. Saat itu, dia baru kelas 2 SMA.

Dia adalah asisten pribadi Papa, nyaris untuk segala urusan. Mulai dari membantu operasional toko Papa, mengantar Papa kesana kemari, juga menjadi muadzin di musholla keluarga kami. Krn dia satu2-nya anak yg masih ngumpul dgn org tua kami, otomatis kasih sayang Ibu juga banyak tercurah untuknya. Kalo dia telat pulang, baik dari sekolah maupun urusan toko, pasti Ibu sudah khawatir dan meminta Papa untuk mencarinya. Padahal dia udah bukan anak kecil lagi.

Usianya baru 20 tahun saat dia pergi meninggalkan kami untuk selama2-nya. Masih sangat muda. Entah kebetulan atau tidak, anak sulung Papa, juga laki2, meninggal dunia saat berusia 20 bulan. Keduanya meninggalkan orang tua kami secara mendadak, tanpa sakit, tanpa tanda2.

Sabtu, seminggu setelah Lebaran, masih 4 tahun yg lalu

Ini malam terakhir aku di rumah orang tuaku. Besok aku sudah harus kembali ke Malang. Masa libur dan cuti telah berakhir.

Aku masih menatap kosong pada baju taqwa putih, sarung merah tua, serta peci hitam yg teronggok di atas meja. Semuanya masih baru. Ukurannya 1 nomor di bawah ukuran bajuku. Istriku membelikannya untuk si bungsu, sbg hadiah Lebaran. Aku belum sempat menyerahkannya.

Entah aku harus apakan semua itu. Tak mungkin aku menyerahkannya ke Ibu. Itu hanya akan membuat beliau menangis. Akhirnya, aku simpan baju2 itu di bagian terbawah lemari pakaian si bungsu. Biarlah sementara di situ. Suatu saat Ibu akan menemukannya. Biar Ibu saja yg memutuskan akan diapakan baju2 itu.

Senin, 2 hari sebelum Lebaran, tahun ini

Entah kenapa, saat istirahat setelah sahur, aku mendadak teringat mendiang adikku. Aku bangun dari tempat tidur. Melongok jam dinding. 5 menit lagi imsak. Segera aku ber-siap2 untuk sholat subuh.

Setelah sholat subuh, aku tetap tak bisa memicingkan mata. Kenangan mendiang adikku memaksa untuk muncul kembali dalam pikiranku. Kuambil laptop, kuaktifkan Telkomsel Flash. Dan kutuliskan semua kenangan tentang kepergiannya di blog. Biarlah semua org tau. Biarlah kenangan ini tersimpan dan bisa aku baca kembali kapan pun aku mau.

Kepergian si bungsu masih menyisakan duka di keluargaku, terutama Ibu. Setiap bulan puasa, menjelang Lebaran, duka itu kembali terbuka. Sejak kepergiannya, Lebaran di keluarga kami selalu diwarnai tangis kerinduan. Bahkan hingga kini, 5 kali lebaran setelah kepergiannya.

Selamat jalan, Dik. Aku yakin kau telah mendapatkan posisi yg tentram di sisi Tuhanmu. Di sisi Dzat yg kau serukan panggilan untuk menyembahNya, 5 kali sehari.

12 Responses to Lebaran Kelabu

  1. Fitri says:

    Bee.. cerita yang sedih. Turut berduka cita.. semoga Adikmu ditempatkan di tempat yang mulia di sisinya.. Semoga ramadhan dan idul Fitri kali ini dan seterusnya membawa kebaikan untuk kamu dan keluargamu..

  2. tenkuken says:

    bee.. bole minta source code flexcel yang bisa jalan dilinux ga ? mumet aku liat kode2 na..😦

  3. WishKnew says:

    Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…
    Kami sekeluarga turut berduka cita atas wafatnya adik tercinta.
    Sing sabar lan tawakal ya Bro..

  4. bprasetio says:

    Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…

    turut bela sungkawa atas wafatnya Zilzal, adik tercinta, semoga amal ibadahnya diterima oleh Allah SWT dan mendapatkan tempat yang tentram dan mulia di sisiNYA.

  5. ulan says:

    minal aidin walfaidzin..
    mohon disalahkan kesalahan ulan..
    eh di maafkan maksud nya..

  6. origami says:

    *gak mampu berkata-kata,

    *nangis…

  7. bloGEsam says:

    Hmm… turut berduka cita n mohon maaf lahir batin

  8. Epat says:

    sungkem kang, minal minul maaf lahir bathin.

  9. Bee says:

    @all:
    Terima kasih. Mohon ma’af lahir dan batin.🙂

  10. Ridwan says:

    kisah yang menyedihkan. semoga arwahnya diterima disisi-Nya. amin

  11. edo says:

    katanya orang baik memang banyak yang “dipanggil” lebih cepat oleh Dia bee. Bahkan mungkin kita masih harus memikirkan nasib kita di hari akhir nanti. karena orang-orang seperti adikmu mungkin sudah lebih dulu berada di Sorga-Nya, menunggu.

    semoga kita bisa amanah ya bee. amanah dengan doa orang-orang baik seperti adikmu, yang merelakan kakak2nya menjadi orang besar, dan merelakan dirinya menjaga rumah.
    thank for sharing bro. butuh energi besar untuk bisa membagi cerita-cerita seperti ini.

    theres no incident without reason, meaning, and wisdom.

  12. n3wb13 says:

    Ya begitulah Oom, aku juga pernah ngerasain hal yang sama,,,kemarahan itu memang tiba2 muncul, apalagi klo yang “meninggalkan” adalah orang yang benar2 kita cintai…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: