Kemana perginya cinta?

Seorang sahabat dari masa SMA yg hilang sekian lama tanpa kabar, tau2 menelponku, lewat telepon rumah. Sore itu, dua hari setelah Lebaran, dia mengajakku ketemu di tempat biasa kami mangkal dulu: terminal.πŸ˜€ Kebetulan malemnya aku gak ada acara, kami sepakat untuk ketemu jam 9:30 malam. Dia yg akan menjemputku, berhubung dia yg bawa mobil.

Terakhir kali aku ketemu dia saat Lebaran 12 th yg lalu. Saat itu dia masih menganggur, belum bekerja, pun belum diterima di PTN manapun setelah lulus SMA. Syukurnya, setahun kemudian dia diterima di salah satu PTN di Jawa Timur. Walaupun jarak antara kota Malang tempatku kuliah dgn kota tempatnya kuliah relatif gak terlalu jauh, tapi dia bener2 hilang tanpa kabar. Bahkan keluarganya sendiri di Pamekasan, gak tau alamat kosnya, apatah lagi nomor teleponnya. Waktu itu masih belum ada telepon genggam. Aku juga malas untuk mencarinya lebih lanjut. Prinsipku, jika seorang sahabat gak berusaha menghubungi (saat seharusnya dia bisa menghubungi), berarti dia gak mau dihubungi. Kalo dia masih mau ketemu aku, pasti dia akan menghubungiku. Dan terbukti toh?πŸ˜‰

Singkat cerita, kami udah nongkrong di salah satu warung yg buka 24 jam, di sebuah sudut di terminal kecil Kota Pamekasan. Kami hanya memesan kopi tubruk. Setelah sedikit berhalal-bihalal, kami ngobrol ngalor-ngidul mengenang kembali nostalgila masa2 SMA. Masa2 SMA bagi sebagian org mungkin jadi masa yg paling indah, termasuk buatku. Itulah masa2 ketika aku, eh, kami lebih tepatnya, lagi nakal2-nya sekaligus lagi cerdik2-nya. Masa2 kami belajar mengenal makhluk terindah ciptaan Tuhan yg bernama wanita. Masa2 kami belajar memahami makhluk teraneh ciptaan Tuhan yg bernama orang tua. Dan tentu, masa2 kami belajar mengendalikan makhluk yg kami sendiri bingung menyebutnya: diri kami sendiri.

Obrolan pun berlanjut ke masa2 kuliah, lulus kuliah, bekerja, kemudian menikah. Obrolan ini gak seseru obrolan nostalgila masa2 SMA, krn kami praktis udah berpisah sejak lulus SMA. Obrolan kami jadi “searah”, gak saling bersahut krn gak berbagi peristiwa yg sama. Pada intinya, boleh dibilang hidupnya sudah sukses. Sekarang dia udah bekerja di sebuah BUMN di ibukota negara, dgn posisi yg lumayan bagus. Penghasilannya lebih dari cukup untuk menghidupi seorang istri dan seorang anak dgn standar kelayakan hidup di atas rata2. Rumahnya berada di salah satu perumahan yg menerapkan one-gate-system, hanya org2 yg memiliki kartu identitas khusus yg bisa bebas keluar masuk perumahan itu.

Mungkin betul kata org, uang bisa membeli apa pun, kecuali kebahagiaan. Walaupun dia secara materi telah sangat berkecukupan, dia gak merasa bahagia. Penyebab utamanya, rumah tangganya gak rukun. Baik dia maupun istrinya, telah sama2 pernah selingkuh. Bahkan saat ini pun, dia masih menjalin perselingkuhan. Padahal, baik dia maupun istrinya, bukan tipikal pekerja yg berangkat-pagi-pulang-pagi, apalagi yg penghasilan-pas-pasan. Berangkat kerja gak pagi2 amat, krn kantor relatif dekat. Selesai kerja pun masih terhitung sore, antara ashar sampe maghrib lah. Apalagi di BUMN yg beban kerjanya gak terlalu berat seperti kebanyakan temen2-ku yg kerja di perusahaan swasta. Tugas luar kota pun gak terlalu sering, paling2 1-2 bulan sekali aja. Waktu luang untuk bercengkrama dgn keluarga sangat banyak.

Aku jadi heran, sekaligus tertarik, apa yg membuatnya merasa gak bahagia. Khususnya tentang hubungannya dgn sang istri. Sapa tau bisa jadi tambahan ilmu buatku, jadi aku gak perlu mengulang kesalahan atau kegagalan yg pernah dilakukan org lain.πŸ˜€

Dia bilang, dia mencintai istrinya, setidaknya hingga awal2 pernikahan mereka. Dia juga yakin, istrinya pun mencintai dirinya, sama juga, setidaknya hingga awal2 pernikahan mereka. Dia bercerita bahwa di awal2 pernikahan mereka, dia sempat merasakan yg menurutnya adalah kebahagiaan. Istri yg cantik, seksi, setia, dan melayani. Dia sendiri mapan dalam pekerjaannya dgn pendapatan yg lebih dari cukup. Belum lagi jika digabungkan dgn pendapatan istrinya, sangat lebih dari cukup. Bahkan untuk ukuran org Jakarta. Lelaki mana yg gak bahagia coba?πŸ˜€

Lalu sekarang, di hampir 5 th usia pernikahan, kemana perginya cinta mereka? Dia hanya bisa menjawab “entah”, saat kutanya apakah dia sekarang masih mencintai istrinya. Jawaban yg sama kuperoleh saat kutanya apakah istrinya sekarang masih mencintainya. Dia pun akhirnya terpancing untuk curhat tentang kehidupan rumah tangganya. Sebuah episode yg dalam obrolan2 sebelumnya terkesan di-tutup2-i. Bendungan itu jebol sudah. Dan aku memainkan peran sebagai seorang pendengar yg baik.πŸ™‚

Di ujung obrolan, aku bisa menarik kesimpulan bahwa sebuah pernikahan yg bahagia membutuhkan lebih dari sekedar cinta. Ada banyak variabel lain yg harus tetap dijaga selama pernikahan itu berlangsung. Dari kasus sahabatku ini, setidaknya aku bisa memetik 2 variabel lain, yaitu: komitmen dan konsistensi. Komitmen untuk menjaga cinta. Dan konsisten untuk menjaga komitmen itu sendiri. Ibarat dalam sebuah persaingan, menjadi pemenang itu sulit, tapi lebih sulit lagi mempertahankan kemenangan yg telah diraih. Berumahtangga memang gak mudah, tapi jauh lebih sulit lagi mempertahankan rumah tangga tetap dalam kebahagiaan. Ya, ya… aku tau kawin itu gampang.πŸ˜›

Aku jadi teringat sebuah anekdot tentang pernikahan. Sebelum menikah, pria berharap wanita nantinya akan tetap seperti masa pacaran. Tetap cantik, tetap merawat diri, tetap setia, tetap perhatian, dst. Sedang wanita berharap pria nantinya akan berubah lebih baik dari masa pacaran. Lebih perhatian, lebih setia, lebih bertanggung jawab, lebih berpenghasilan, dst. Setelah menikah, yg terjadi adalah, pria tetap seperti masa pacaran. Tetap gak perhatian, tetap gak setia, tetap gak bertanggung jawab, tetap gak punya penghasilan, dst. Sedang wanita berubah lebih buruk dari masa pacaran. Lebih jelek, lebih malas merawat diri, lebih gak setia, lebih gak perhatian, lebih malas melayani, dst. Maka pernikahan pun gak lagi seindah masa pacaran.πŸ˜› Kecuali dalam hal penghasilan, anekdot ini ada benarnya juga dalam kasus sahabatku ini. Plus, waktu luang yg berbalik menjadi “kesibukan”, terlepas kegiatan apa yg dilakukan dibalik alibi “kesibukan” tsb.

Jam dinding di warung kopi itu sudah menunjukkan pukul 2:37 dini hari. Kami sudah kehabisan bahan obrolan. Kami hanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing2. Kopi sudah tinggal ampasnya ampas. Rokok sudah tak bersisa lagi, kecuali onggokan puntung dan abunya. Dia beranjak menuju mobilnya, aku mengikutinya. Tak lama kemudian, mobil melaju kembali ke arah Kota Pamekasan.

22 Responses to Kemana perginya cinta?

  1. idur says:

    life oh life….. emang bener mas bee, kebahagiaan selalu datang bukan karena kita membelinya tapi karena kita memeliharanya..
    cint..cinta… hal yang paling sulit dimengerti…hehehe

  2. opphin says:

    sebenarnya kunci kebahagiaan dalam rumah tangga tu yang kayak gimana??

  3. wawan says:

    wah, renungan yang menyentuh kesadaran mas (bukannya pernah selingkuh sih, :D), aku trenyuh dg “keringnya” teman sampean yang begitu berkecukupan ini…

  4. okho says:

    say abaru menikah.. kurang dari setaun.. menurut saya (saat ini) kuncinya kebahagiaan adalah keterbukaan dan kepercayaan.. klo itu udah ga ada.. ya harus di bangkitkan lagi.. dengan cara..

    1. pergi ketempat dimana masih kuat kadar kepercayaan dan keterbukaan..
    2. bicarakan hal2 lucu waktu pacaran.. contohnya.. eh dulu di atm mandiri jalan ijen.. itu pertama kali aku cium kamu.. kita abis keujanan waktu beli oleh2 di wicaksono abm.. dst..

    yah moga2 bisa bermanfaat n ada benernya tips dari pasangan yang belum setaun menikahπŸ˜€

    salam

  5. bee says:

    @okho:
    Ha… kepercayaan dan keterbukaan, salah satu ide posting yg udah lama banget pengen aku bahas, tapi belom sempat2.πŸ˜€ Ntar deh, kapan2 akan coba aku ulas tentang itu. Yg jelas… kepercayaan dan keterbukaan itu hanya jalan atau cara, bukan tujuan atau kunci itu sendiri. Kok bisa? Tunggu pembahasanku ntar, tapi gak janji deh.πŸ˜›

  6. fitri says:

    Menarik nih ceritanya. Isu perselingkuhan emang makin ‘ngetren’πŸ˜‰.

    Btw Bee, aku mo tanya, gimana sih caranya biar bisa pake ‘Read the rest of the entry’? Pake script tertentu kah?

  7. abu fikri says:

    MALAM PERNIKAHAN (Malam pengantin) … Conversation bermula dari Sang Cowok…

    Cowok : Akhirnya… Aku sudah menunggu saat ini tiba sejak lama…
    Cewek : Apakah kau rela kalau aku pergi?
    Cowok : Tentu Tidak! Jangan pernah kau berpikiran seperti itu!
    Cewek : Apakah Kau mencintaiku ?
    Cowok : Tentu! Selamanya akan tetap begitu…
    Cewek : Apakah kau pernah selingkuh?
    Cowok : Tidak! Aku tak akan pernah melakukan hal buruk itu…
    Cewek : Maukah kau menciumku?
    Cowok : Ya…
    Cewek : Sayangku…

    SETELAH 5 TAHUN MENIKAH…. Conversation bermula dari Sang Cewek (tinggal baca dari bawah ke atas)

  8. Epat says:

    cinta memang tak harus memiliki, karena memiliki pun ternyata bisa jadi tidak mencintai huehehe….

  9. Ridwan says:

    well.. that’s life. hela nafasku memikirkan postinganmu ini bee. semua orang bisa mengalaminya.

  10. edo says:

    to epat : ehem ehem…
    *hihihi.. sori bee, numpang ke tape ae kekekek

  11. origami says:

    mas epat bener… setuju… hehehehe…
    to mas Bee, gimana rasanya meyakini jodoh mas?

  12. Qenthank says:

    Emang bener kata orang setelah kita mbulet-mbulet dengan berbagai referensi atau pengalaman hidup akhirnya ujungnya balik lagi pada satu hal yaitu tuntunan yang udah di buat oleh Yang Di Atas sono dan di praktekkan Jendral Besar Bos Muhammad.
    contoh kecil aja :
    – Sang Istri diminta untuk se-jago mungkin berdandan,berpenampilan dan berlaku sesuai keinginan suami (dengan tuntunan agama tentunya)
    – Sang suami di minta untuk se-jago mungkin untuk melindungi, menafkahi dst sang Istri (dan keluarga)
    So, ada masalah apa kalau semua itu bisa dilakukan, “cinta ga akan pergi kemana-mana”

    *Sedikit petuah dari orang yang belum menikah hihihihi

  13. Qenthank says:

    Tambahan dikit lah :

    Sesuai dengan pembicaraan kita :
    Komitmen dan konsistensi juga dapat dijaga jika masing-masing mengendalikan KEINGINAN dan memahami KEBUTUHAN.
    Kalau cewek baru itu sekedar keinginan, yang selingkuhlah akibatnya, kalau cewek baru itu merupakan kebutuhan istri tidak bisa memberikan keturunan, dsb) , usahakanlah kebutuhan tersebut dengan cara yang benar – nikah lagi misalnya

  14. Qenthank says:

    @Epat n edo
    Ini pernyataan atau apologia terhadap diri sendiri ?

    * mungkin juga pernyataan terhadap diri sendiri

  15. fitri says:

    Bee.. sori ga nyambung ama postingannya.. (he he.. kan udah comment di atas ;-)). Ada email atau ym id ga? Boleh kan aku tanya-tanya tentang wp?

    Thanks yaaa..

  16. DataQ says:

    Hmmm posting yang bagus buat pelajaran untuk kami-kami yang belum menikah. Ternyata menikah tu susah, tapi lebih susah lagi u/ menjaga ikatan pernikahan tersebut.

    Kl yang “rakyat sipil” aja kaya gitu gak heran kalo para “selebritis” nikah cerai kayak nembak n mutusin pacar aja!

  17. fitri says:

    Bee.. aku nanya di sini lagi yaaa.. Emailku belum dibales sihπŸ˜‰. Lagi sibuk?

    Di wp, urutan yang bener tuh gimana ya antara install themes, plugins dan widget? Trus, bisakah meng-update themes wp dengan menambahkan table (pake html)?

    Nuhun…πŸ˜€

  18. Chandra MDE says:

    Thanks for hitting me at Me and Miranda. beeography tak masukin Blogroll deh, biar km seneng. Hehehe…

  19. Rafid says:

    Bee, salam kenal. Saya Rafid, dan maaf kalo komentar saya ini nggak nyambung. Saya programmer pemula dan mulai belajar freepascal / lazarus. Saat ini saya hendak mencari cara mengambil isi suatu string dengan delimiter tertentu. Umpama “3,4,5,7,10,45,2”. Saya ingin memasukkannya ke dalam array yaitu umpama a[0]:=3 , a[1]:=4 , a[2]:= 5 dan seterusnya. Tapi saya ttidak tahu caranya. Saya juga terus mencari cara menggunakan regex di lazarus namun belum ketemu. Mohon pencerahannya.

  20. bee says:

    @rafid:
    Ma’af, lebih baik Anda bergabung aja dgn komunitas programmer Delphi di Indonesia. Ada Delphindo atau delphi-id (please googling). Disana akan ada banyak org yg bisa membantu Anda, termasuk saya.πŸ˜‰

  21. Fitri says:

    hehe.. ini ga nyambung lagi.. aku keilangan semua alamat blog teman-teman.. masih punyakah?

  22. […] read more…. by admin January 14th, 2009 « mutest 1.0 freshmeat.net announcements (Global) […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: