Benar atau salah?

Bulan ini Bily menginjak usia 2 tahun 6 bulan. Dia mengalami kemajuan yg cukup pesat dalam proses mengenal huruf dan angka. Untuk angka, Bily sudah bisa mengenali angka2 belasan (dua digit dgn angka awalan ‘1’). Juga angka2 puluhan (dua digit dgn angka akhiran ‘0’). Untuk huruf, setelah mengenal seluruh huruf besar sejak usia 2 tahun, sekarang Bily telah juga mengenal sebagian besar huruf kecil. Hanya beberapa huruf kecil yg bentuknya mirip, Bily masih sering salah mengenali, seperti huruf ‘b’, ‘d’, dan ‘q’. Untuk huruf ‘p’ gak ada masalah, kemungkinan krn bentuknya sama persis dgn huruf besarnya.

Selain itu, bulan ini Bily udah bisa sedikit mengeja. Sejak bulan kemaren, aku memang mulai mengenalkan penggunaan vokal a-i-u-e-o. Kata2 mudah dan pendek seperti ‘i-bu’, ‘bu-ku’, ‘a-pi’, ‘bo-la’, dlsb. sudah bisa dibacanya, walaupun harus dieja dulu. Untuk kata2 yg lebih panjang, Bily masih kesulitan untuk merangkainya menjadi kata, walaupun sudah bisa mengejanya. Sekarang, kalo lagi mood membaca, seluruh tulisan dimana pun yg menarik perhatiannya (majalah, koran, televisi, buku, baliho, papan, perangkat elektronik, stiker, dlsb) pasti berusaha dia baca. Akan terdengar lucu kalo Bily membaca kata bhs Inggris dgn cara baca ala bhs Indonesia, misalnya ‘fi-le’, ‘ta-pe’, ‘mu-te’, ‘o-ne’, dlsb.๐Ÿ˜€

Memang gak ada hubungannya.๐Ÿ˜€ Kali ini aku pengen curhat tentang mendidik anak. Menurutku, salah satu hal penting yg perlu diajarkan sejak dini pada anak adalah pemahaman tentang konsep benar dan salah. Berhubung konsep ini masih sulit disampaikan dgn cara yg gamblang, maka pendekatan yg paling mudah adalah dgn metode penghargaan dan hukuman (reward and punishment). Konsep ini mulai aku kenalkan sejak Bily sudah bisa memahami perkataan2 ayah bundanya. Namun demikian, metode ini harus disampaikan dgn cara2 yg baik dan benar untuk menghindari kesalahpahaman anak pada konsep benar dan salah.

Pendekatan yg aku lakukan di awal adalah pengenalan aturan. Metode ini meletakkan aturan sbg penentu benar dan salah. Kalo sesuai aturan, maka itu benar, dan juga sebaliknya. Dalam prakteknya, aku akan memberikan penghargaan jika Bily melakukannya. Sebaliknya, aku akan memberikan hukuman jika Bily melanggarnya.

Krn aturan adalah penentu benar dan salah, maka dalam penerapannya aku berusaha menghindari adanya konteks lain selain aturan itu sendiri. Pertama, tidak memarahi anak jika dia melakukan pelanggaran aturan. Bersikap tegas dan disiplin bukan berarti harus marah (apalagi berupa kata ulang). Hal ini untuk menghindari munculnya kepatuhan krn takut pada pemberi hukuman. Yg harus ditumbuhkan adalah kesadaran untuk mengikuti aturan, bukan takut pada pemberi hukuman. Otomatis, hukuman juga gak boleh berupa hal yg menakutkan bagi anak.

Kedua, tidak mengaitkan aturan pada pemberi hukuman. Penerapan yg salah, misalnya “Bily gak boleh nakal ya, ntar om beri tahu ayah” akan menimbulkan kesalahpahaman bahwa aturan berlaku jika dan hanya jika ada pemberi hukuman. Atau misal “Bily gak boleh nakal, ayah gak suka”, akan menimbulkan kesalahpahaman bahwa nilai benar dan salah tergantung pada subyektifitas pemberi hukuman. Aturan -dalam konteks ini- bertugas untuk menanamkan nilai benar dan salah, maka aturan tidak boleh tergantung pada maunya si pemberi hukuman. Jika pemahaman ini terjadi, maka ini adalah ajaran pertama bagi anak untuk berbohong!๐Ÿ˜ฆ

Ketiga, tidak memberi sebab pada aturan. Ini untuk menghindari kesalahpahaman bahwa aturan adalah sebab-akibat. Jika Bily menanyakan mengapa aturan ini begini-begitu, aku mengarahkannya pada tujuan atau pencapaian. Misal, jika Bily bertanya, “kenapa bungkus kue dibuang ke tempat sampah?”, maka aku menjawab “supaya ruangannya bersih”, bukan “krn bungkus kue itu kotor”. Jika jawaban kedua yg aku berikan, bisa jadi Bily suatu saat menganggap bungkus kue (yg menurutnya) tidak kotor, tidak perlu dibuang ke tempat sampah.๐Ÿ˜‰

Keempat, hindari aturan gak masuk akal. Bait lagu anak yg berbunyi “kalo tidak bobo, digigit nyamuk” adalah contoh bagus dalam kasus ini. Aturan seperti ini buruk, bukan krn adanya “ancaman” hukuman gigitan nyamuk, tapi krn -selain alasan2 di atas- aturan itu gak masuk akal. Apa kalo bobo trus gak digigit nyamuk, gitu?๐Ÿ˜› Aturan juga bisa menjadi latihan bagi anak untuk berpikir kritis dan logis.

Terakhir, jgn terlalu banyak aturan. Usia anak2 adalah masa tumbuh kembangnya kreatifitas dan kecerdasan anak. Jgn sampai aturan2 yg diterapkan akan menghalangi perkembangan kecerdasan dan kreatifitas anak. Aku hanya memberikan dan menerapkan aturan2 yg memang benar2 perlu, khususnya terkait dgn penanaman nilai2 benar dan salah (baik terkait dgn etika, agama, maupun hukum).

Aku jadi curhat tentang masalah ini krn beberapa waktu lalu ada kejadian begini. Aku mendengar Bina tiba2 menangis sementara aku ada di depan rumah. Tau2 Bily lari menghampiriku, tangan kanannya menggenggam sebuah mobil2-an kecil berwarna merah. Itu salah satu mobil favoritnya.

“Ayah, ayah… Bily nakal, Bily mukul adik”, ujarnya sambil menyodorkan tangan kirinya.

Aku langsung memasang tampang serius. Gak boleh memukul adik, adalah salah satu aturanku ke Bily. Dalam hati aku tersenyum, Bily udah ngerti kesalahannya sendiri dan konsekuensi hukumannya, tanpa harus takut melaporkannya ke aku (sering berperan sbg pemberi hukuman). Mudah2-an aku gak kege-eran.๐Ÿ˜€

Kujentik salah satu jarinya, gak terlalu keras. Itu adalah hukuman kalo Bily melanggar aturan itu. Bily cuma meringis.

“Kenapa Bily mukul adik?” aku tanya dia. Kugendong dia ke ruang tengah, dimana adiknya masih menangis.

“Adik Bina ngambil mobil merah Bily.”

“Adik cuma mau pinjem. Adik mau main sama mas. Mas kan masih punya mobil yg lain tuh. Ayo, kasih pinjem adiknya”, kuturunkan dia. Dia kemudian berlari ke tumpukan mobil mainannya.

“Dik… ini dik. Adik pinjem mobil yg kuning ya. Mas mau main mobil merah”, ujarnya sambil menyerahkan sebuah mobil mainan pada adiknya. Tak lama kemudian, mereka sudah main bersama lagi.

Lalu, bagaimana cara mendidik anak agar tidak ber-main2 dgn hal yg berbahaya? Nah, ini perlu bahasan lain terkait dgn pendidikan manajemen resiko pada anak sejak usia dini. Loh, bukan cuman org dewasa aja yg perlu ngerti manajemen resiko, anak2 juga perlu. Tapi, untuk yg ini aku bahas lain kali aja ya. Udah mulai ngantuk nih.๐Ÿ˜€

By the way, selain pendidikan yg diterapkan org tua, lingkungan juga ikut mendidik anak, baik langsung atau gak langsung. Akan jadi masalah jika ternyata lingkungan punya cara yg berbeda dgn cara org tua dalam hal mendidik anak. Kadang, lingkungan juga punya parameter nilai benar dan salah yg berbeda dgn parameter ortu. Bahkan bisa jadi, lingkungan (ortu teman anak, tetangga, anggota keluarga lain, dlsb) akan “mementahkan” pendidikan yg telah ditanamkan oleh ortu. Ini aku sadari, tapi baru aku rasakan langsung ketika beberapa hari yg lalu Bily bilang, “Ayah, Bily takut sama hantu”! Sementara, aku dan bundanya belum pernah sekalipun mengajarinya hantu.๐Ÿ˜ฆ

Menyamakan metode dan pemahaman pendidikan yg dilakukan lingkungan pada anak adalah satu masalah yg aku sendiri masih bingung gimana solusi terbaiknya. Ada saran?๐Ÿ™‚ Jgn bilang itu udah resiko jadi ortu ya!๐Ÿ˜›

7 Responses to Benar atau salah?

  1. Dodo says:

    mending nonton “budi anduk” ketimbang nonton sinetron … hehehehehe

  2. DataQ says:

    Salam Kenal Bang!๐Ÿ™‚

    Bang Aku punya saran, menurutku sebaiknya anak-anak kita dijauhkan dulu dari pengaruh nonton TV.

    Sebabnya adalah karena sebagian besar acara-acara di televisi itu tidak mendidik untuk anak. Dan kita harus memberikan pemahaman bahwa menonton TV itu hanya sekedar sesuai kebutuhan, bukan menjadi kebiasaan setiap saat.

    Sepupuku punya anak semuran dengan Billy juga. Gara-gara ortunya doyan nonton TV dengan acara kayak begituan, akhirnya anaknya juga terpengaruh. Mulai dari bahasa yang diucapkan si anak sampai dengan kebiasaannya juga. Percaya atau tidak anak seumuran keponakanku itu uda bisa ngongong tentang pacaran, walaupun dengan makna yang salah. Pernah lho keponakanku itu ndorong temennya sampai jatuh gara-gara temennya bilang “kamu pacaran sama dia ya”. ckckckck

  3. bee says:

    @dataq:
    Thanks atas sarannya. Di posting terdahulu, aku pernah sedikit menyinggung bahwa kami jarang nonton TV. Yg biasa kami tonton cuman berita (ortu), kartun (anak2), dan musik (all). Selain itu, TV praktis gak nyala. TV lokal kita memang sebagian besar isinya menyedihkan.๐Ÿ˜ฆ Mending nonton TV satelit, pilihannya lebih banyak dan kualitasnya lebih bagus. Asal kuat mbayar aja.๐Ÿ˜€

  4. bprasetio says:

    Menonton film kartun pun juga harus selektif, terkadang kartun pun ada yang kurang mendidik.

    Misalnya, tom and jerry. Di film tersebut ada adegan kekerasan, seperti misalnya memukul (baik dengan anggota tubuh maupun benda2 lainnya), melempar, merusak perkakas dan sebagainya yang menurut saya justru berbahaya bagi si anak.

    Juga robot2an adanya adegan kekerasan, peperangan, dsb. Di sini peran ortu sangatlah vital dalam mendampingi si anak.

    Pengaruh media elektornik bagi Anak saya yang masih berumur 12 bulan saja sudah sangat besar. Tapi untunglah, yang kami sajikan untuk ditonton bukanlah acara TV, melainkan video / film pendidikan untuk merangsang perkembangan Anak.

  5. hmoulinsart says:

    Susah. Persepsi “memberitau” .. “melatih” dan “mengajarkan” sering beda diantara orang tua, lingkungan rumah dan lingkungan sekolah. Memang jadi tantangan yang berat. Mengacu ke berbagai sumber juga tidak selamanya memberikan solusi. Sebagai contoh kasus disini. Bermaennya anak adalah cara dia belajar. Ikutilah pola itu. Eeeh… besoknya ada komentar lagi, cara bermaenya itu perlu diarahkan, jangan diikuti terus. Ada lagi, rangsanglah keingintahuannya dengan berbagai cara. Kenalkan huruf dan bentuk-bentuk trigonometri sedini mungkin. Ntar yang laen komentar, dia belum waktunya belajar. Secara biologis, kepala itu mampu bekerja dengan baek dalam batas waktu tertentu. Jadi kalo kepala udah dipake mulai kecil banget .. ntar waktunya abis alias aus dan nggak bisa dipake lagi sebelum dia bener-bener tua. Ha ha ha. Aneh emang. Nggak tau deh kudu kasih saran gimana. Yang jelas, emang pada akhirnya bentuk pendidikan buat setiap anak pada akhirnya berbeda, karena orang tua, lingkungan, waktu, dan cara meresponnya yang berbeda beda.

  6. bee says:

    @hmoulinsart:
    Betul emang tuh, Pul. Kalo dipikirin terlalu serius, bisa2 stress mulu liat pengaruh lingkungan ke anak. Akhirnya aku pasrah aja lah, yg penting aku sbg ortu (ayah) berusaha menjalankan kewajiban dgn baik semaksimal mungkin. Sisanya serahkan aja pada yg punya hidup anak, toh Dia juga yg bikin. Abis mikir gitu, jadi rada enteng nih pikiran.๐Ÿ˜€

  7. sriwahyuningsih says:

    menurutku segala sesuatu yangberasal dari yang baik akan berakhir dgn baik bila diterapkan dlm menddik anak. hanya saja dlm penerapan apapun dlm hidup; jangan pernah memaksa apapun sebab setiap pemaksaan mengakibatkan sakit tau!minimal sakit hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: