Menolak Cinta

December 27, 2009

Suatu malam di salah satu kafe murah meriah di seputaran Kertoraharjo Malang. Kawasan Kertoraharjo adalah pusat kos2-an untuk mahasiswa Unibraw, ITN, STAIN Malang, dan perguruan tinggi lain di sekitar daerah Dinoyo.

“Mas Bee, menurut Mas, hubungan kita gimana sih?”, tanya seorang cewek manis yg sedak duduk di depanku.

“Maksudnya?”, aku berlagak pilon. 😀

“Mas Bee sayang gak sih sama aku?”

“Ya jelas sayang dong! Kamu baik kok, manis lagi.”

“Ah, mas Bee bisa aja.” Si gadis tersenyum malu2. She’s blushing.

“Kok tanya begitu, ada apa?”

“Nggak papa, pengen tau aja.”

“Ooo…”

Pelayan kafe datang mengantarkan makanan pesanan kami. Kami sama2 terdiam beberapa saat. Kemudian si gadis bertanya lagi.

“Errr… Mas…”

“Iya.”

“Errr… Mas…” Dia mulai nampak gugup.

“Ada apa sih, dik? Ngomong aja. Kamu punya masalah sama pacarmu?”

“Aku kan gak punya pacar, Mas. Mas juga udah tau kok.”

“Oh iya, lupa. 😀 Trus kenapa, ada masalah dgn sahabat? dgn dosen?”

“Nggak juga sih. Aku punya masalah sama Mas.”

“Heh? Masalah sama aku? Masalah apa? Kita baik2 aja kan? Lah ini buktinya lagi makan bareng.”

“Iya, aku punya masalah sama Mas.”

“Masalah apa?”

Read the rest of this entry »


Perempuan Sederhana Itu

December 24, 2009

Sudah dua tahun kami hidup bersama di rumah ini. Sebuah rumah kecil di pinggiran ibukota. Hanya itu yg mampu kuberikan untuknya karena penghasilanku sebagai pelukis dan penulis lepas memanglah tidak seberapa. Tapi dia tidak pernah protes. Yg paling penting aku bisa hidup bersamamu, mas. Begitu dia pernah berbisik padaku, setelah kami bercinta di pagi hari.

Aku tidak salah memilih dia. Dia begitu penuh pengabdian. Prinsip hidupnya sederhana. Tidak neko2, kata orang. Mungkin karena dia seorang perempuan desa.

Suatu pagi dia menemaniku sarapan, di meja makan kecil kami. Selesai makan, aku sorongkan sebuah kotak kecil padanya. Apa ini? Ujarnya sambil tersenyum lebar. Perlahan dia membuka kotak itu. Matanya terbelalak begitu melihat isi kotak itu. Sebuah gelang emas kecil. Dia memelukku erat sambil membisikkan terima kasih. Kau tidak perlu melakukan ini, mas. Katanya setelah dia duduk kembali di sampingku. Matanya ber-kaca2. Tidak apa, kau seharusnya menerima lebih dari itu. Jawabku.

Di hari yg lain, aku menjadikannya sasaran marahku. Sebenarnya bukan dia yg salah, bahkan dia tidak ada sangkut paut apa pun. Semua gara2 aku tidak bisa segera menyelesaikan lukisan pesanan pelanggan. Otakku, entah kenapa, macet. Tidak ada inspirasi dan mood untuk melanjutkan lukisan yg baru setengah jadi itu. Tapi dia tidak marah. Dia begitu sabar dan tetap melayaniku dgn baik. Mungkin kau perlu refreshing sebentar, mas. Katanya.

Read the rest of this entry »


KATAKAN CINTA: Epilog

December 20, 2009

“Hei, munyuk. Ayo ikut gue!”, ujarku saat memasuki kamar salah satu sahabat kosku.

“Halah, ini org dateng2 ngajak ribut. Gue lagi ngegame nih. Emang mau kemana sih jam segini?”

“Udah ayo ikut aja, bawa motor lu.”

“Ya elah, mau kemana sih, bos. Lu berangkat sendiri aja deh, tuh kunci motorku di atas meja. Bawa aja.”

“Eee… berani menolak perintah bos ya? Gue cabut colokan komputer lu nih!”, ancamku sambil memegang colokan listrik komputernya.

“Aduh, iya, iya deh. Bentar, gue simpen game dulu nih! Bawel!”

“Nah, gitu dong. Daripada gue ntar bunuh org, kan ada lu yg bisa nahan gue.”

“Alah, bacot lu. Ngebunuh org? Sama kecoa aja lu takut.”, katanya sambil tertawa.

“Diem lu. Berisik!”

“Ada apa sih, nyet? Abis nelpon pacar ber-jam2 kok marah2? Abis berantem ya. Kok gue lagi yg jadi korban? Sial bener.”, lanjutnya.

“Ah, ayo deh berangkat. Lu juga bawel!”

Read the rest of this entry »


KATAKAN CINTA (3): Akhir cinta pertama

December 20, 2009

dari… Katakan Cinta (2)

Statusnya yg sudah bertunangan menjawab keherananku atas sikap induk semang dan beberapa teman kosnya yg sering menatapku dgn curiga dan rasa tidak suka. Termasuk menjawab kenapa seiring dgn semakin akrabnya kami, dia lebih suka ketemuan di luar kosnya. Aku pikir mungkin krn mereka tidak suka padaku atau salah satu dari mereka atau sahabat mereka juga sedang mendekati dirinya. Aku juga tidak mengira bahwa cincin yg melingkar di jari manis kanannya adalah cincin tunangan krn selain modelnya yg biasa, juga krn dia jarang mengenakannya.

Untuk mencari informasi yg lebih lengkap, aku pun bergerilya menghubungi sahabat2-nya, baik sahabat lama dari SMA yg sekampus dgnnya maupun sahabat kuliahnya. Untunglah, strategiku untuk mendekati sahabat2-nya ada manfaatnya. Ternyata memang benar dia sudah bertunangan. Uniknya, tunangannya adalah teman SMA kami juga, bahkan pernah sekelas dgnku. Rupanya dia juga tipikal cowok yg pantang menyerah. Walaupun sempat ditolak waktu SMA, dia tetap melanjutkan perjuangan cintanya hingga akhirnya sukses menjadi tunangannya.

Hmmm… sainganku cukup berat rupanya. Berhubung status mereka sudah tunangan, berarti aku harus menjanjikan lebih dari itu: pernikahan. Terus terang hal ini cukup jadi beban buatku. Memikirkan menikah di awal usia 20-an tentu bukan hal yg mudah, apalagi kami masih sama2 kuliah. Bagi tunangannya mungkin tidak terlalu masalah krn dia berasal dari keluarga berada. Ortunya tentu tidak keberatan membantu mereka di awal2 pernikahan. Sementara aku berasal dari keluarga yg biasa2 saja, plus ortuku masih punya beban tanggungan 3 org adikku. Mengharapkan bantuan ortuku jelas tidak etis. Aku juga harus berpikir realistis. Tapi aku juga tidak mau menyerah begitu saja. Kita lihat saja nanti siapa yg bisa memenangkan hatinya.

Read the rest of this entry »


KATAKAN CINTA (2): Masa Kuliah

December 19, 2009

dari… Katakan Cinta (1)

Setelah lulus SMA, kami berpisah. Aku kuliah di Malang. Dia kuliah di Surabaya. Setelah banyak belajar tentang wanita dari temen2 kampus, aku sadar betapa bodohnya diriku waktu SMA dulu. Aku bertekad untuk mencarinya dan menembaknya, apa pun resikonya. Yg penting aku sudah menyampaikan perasaanku. Aku hanya berharap mudah2-an belum terlambat.

Semester 6 kuliah, aku mencari dia di Surabaya. Info tempat kosnya aku peroleh dari ortunya, kebetulan ortunya masih inget kalo aku temen SMA dia. Berbekal alamat yg diberikan ortunya, walaupun aku belum pernah tau daerah itu, aku optimis aja. Syukurlah, setelah seharian mencari *Surabaya panas!*, akhirnya ketemu juga tempat kosnya.

Hari sudah sore ketika aku duduk di ruang tamu kosnya. Dia belum muncul, sedang dipanggil. Tak lama kemudian, dia sudah berdiri di depan pintu. Dia hanya diam, memandangiku. Raut wajahnya menunjukkan campuran rasa senang, kaget, dan mungkin juga heran atau tak percaya, ntahlah. Dia masih cantik dan gak banyak berubah. Aku menguluk salam. Dia kemudian duduk. Kami hanya saling pandang dalam diam selama beberapa menit.

Read the rest of this entry »