KATAKAN CINTA (1): Masa SMA

Pagi itu aku lagi ngantri daftar ulang masuk SMA. Di antrian sebelah, ada seorang cewek manis nan imut. Dia punya satu hal yg sangat menarik hatiku: mata yg indah. Ya, aku pengagum mata. Mata adalah salah satu faktor awal yg membuatku tertarik pada wanita. Matanya lucu menggemaskan, apalagi kalo sedang mengerling. Duh, mak nyess gitu rasa di hati. Rupanya dia sadar kalo ada yg sedang memperhatikan. Dia cuma menatapku sebentar, tapi udah cukup membuatku salting. *doh!* Setelah itu dia cuek aja, melanjutkan rumpian bersama teman di depannya. Aku gak dianggep sama sekali. Apes benar!

MOS (masa orientasi siswa) dimulai beberapa hari kemudian. Dewi fortuna sedang berpihak pada diriku, dia satu kelompok denganku! Senang banget, tentu. Aku tipe cowok pemalu. *dulu, sekarang sih malu2-in* Aku gak punya cukup nyali untuk mendekatinya, bahkan hanya untuk sekedar “say hi” aja gak berani. Aku hanya bisa curi2 pandang, memperhatikan segala tingkah lakunya. Tubuhnya mungil tapi proporsional, rambutnya lurus sebahu. Kadang dia pake bando, jadi tambah manis aja. Tapi teteup, matanya jadi fokus utama perhatianku. Kerlingannya bener2 memikat.

Setelah MOS berakhir, masa belajar pun dimulai. Kejutan berulang, dia satu kelas denganku. Tepatnya di kelas I-B. Sejalan masa belajar, aku mulai berani mendekatinya. Kadang kami dalam satu kelompok untuk mengerjakan tugas sekolah. Cinta pun bersemi di hatiku, mungkin, krn waktu itu aku belum ngerti benar apa itu cinta. *tsah* Tapi dasar katrok, rasa itu cuman aku simpan jauh2 dalam hati. Jadi secret admirer gitu deh. Dalam berbagai kesempatan, aku selalu berusaha gak terlalu jauh darinya, walaupun gak sampe dekat2 banget. Bukan untuk semakin ber-akrab2 ria dengannya, tapi sekedar untuk bisa memandangi keindahan matanya.

Kebetulan aku punya modal otak cukup encer, sehingga bukan hal yg terlalu sulit untuk bisa selalu berada di dekatnya. Alasan belajar jadi andalan utama. Aku sering membantunya mengerjakan pe-er, tugas, praktikum, dlsb. Termasuk saat mencari bahan praktikum. Aku pernah mencarikan kodok untuknya, buat bahan praktikum pelajaran Biologi. Jika ada ujian atau ulangan, aku sering membantunya memberi contekan. Krn itu, semakin lama kami semakin akrab. Tapi tak lebih dari sekedar teman doang. Ya, aku sadar kalo aku sedikit banyak dimanfaatkan olehnya dan teman2 segengnya. Tapi aku gak peduli, yg penting aku bisa dekat dengannya. Bagiku, itu udah jadi “imbalan” yg lebih dari cukup.

Naik kelas dua, kami pisah kelas. Aku ngambil jurusan Fisika, dia ngambil Biologi. Tapi ruang kelas kami dekat, bersebelahan malah. Dari kelasku, aku masih bisa memandanginya, begitu juga sebaliknya. Krn pelajaran kami masih banyak yg sama, aku masih bisa menjaga kedekatan. Nyaris tiap hari aku jalan kaki berangkat dan pulang sekolah bersamanya. Krn kebetulan rumahnya gak terlalu jauh dari sekolah kami, sepeda onthelku jadi alasan. Aku titip sepeda onthelku di rumahnya, alih2 diparkir di sekolah. Banyak teman lain melakukan hal yg sama, jadi itu bukan suatu hal yg istimewa.

Aku merasa dia tau kalo aku menyukainya. Teman2 segengnya sering menggoda kami, begitu juga teman2 segengku. Tapi tetep aja aku gak berani menyatakan cinta. Status hubungan kami belum beranjak dari teman, tak lebih tak kurang. Aku hanya curhat ke seorang sahabatku (cowok) bahwa aku mencintainya. Walaupun sahabatku ini berusaha mendorong dgn berbagai cara agar aku berani menyatakan cinta, aku tetep aja gak punya keberanian. Benar2 pengecut!

Naik kelas tiga, ruang kelas kami terpisah agak jauh. Mata pelajaran juga semakin berbeda. Sepeda onthelku satu2-nya “penyelamat” kedekatan kami. Kegiatan ekstrakurikuler kami juga kurang mendukung. Dia aktif di kegiatan tari dan kerohanian, sementara aku aktif di kegiatan OSIS dan komputer, gak nyambung. Tapi kalo ada kesempatan, aku sering melihatnya latihan tari. Pernah, saat melihat dia latihan menari, mungkin krn terlalu larut dgn perasaan, aku spontan bertepuk tangan begitu dia selesai menari. Sialnya, di aula itu hanya aku aja yg tepuk tangan, otomatis semua org yg ada di situ memandangku. Aku salting abis dan segera lari meninggalkan aula. Aku dengar dia tertawa kecil. Duh… malunya!

Saat kelas tiga, ada seorang cowok mulai melakukan PDKT ke dia. Sebelumnya aku gak merasa “terancam” dgn cowok2 yg lain krn aku tau dia gak suka satu pun dari mereka. Kecuali cowok yg satu ini. Hanya satu cowok ini yg sering jadi bahan obrolan dia saat ngobrol dgnku, gak pernah dia cerita ttg cowok2 yg lain. Setidaknya tidak dgn antusias dan binar di matanya, sebagaimana kalo dia sedang ngobrolin cowok itu.

Oh ya, selama kelas satu dan dua, dia belum pernah pacaran dgn siapa pun, walaupun banyak cowok yg menyatakan cinta. Setidaknya, begitu yg aku dengar dari sahabatnya. Aku jelas belum pernah pacaran, wong selama ini hanya dia cewek yg aku suka. Memang aku pernah nulis surat cinta waktu kelas 1 SD, tapi itu hanya “permainan” anak2. Lain kali aja aku cerita tentang itu. Intinya, boleh dibilang, she’s my first love. *cieee…*

Nah, krn cowok ini mulai PDKT, aku mulai sedikit berani. Aku mulai berani menunjukkan sinyal2 suka padanya. Aku mulai berani men-curi2 kesempatan berduaan sama dia, berani sedikit2 flirting, dlsb. Saat dia ultah, aku berniat akan memberinya kado. Kado yg aku berikan sebenarnya bukan barang yg baru. Aku sudah menyiapkannya sejak ultahnya di kelas dua. Cuman ya itu, waktu kelas dua, aku gak berani memberikannya. *doh!* Kadonya adalah kalung perak dgn liontin berupa ukiran namanya diapit dua burung merpati kecil. Aku pesan itu scr khusus untuk dia.

Aku udah berniat akan “nembak” dia di malam ultahnya dgn bermodal kado itu. Malam yg ditunggu pun tiba, besok adalah ultahnya. Sejak di rumah aku udah mempersiapkan diri se-baik2-nya. Aku bersepeda onthel berangkat ke rumahnya. BTW… jarak dari rumahku ke rumahnya sekitar 3-4 km. Aku berangkat setelah maghrib. Pelan2 aku mengayuh sepeda supaya gak berkeringat dan merusak penampilan terbaikku. *halah!*

Singkat cerita, aku udah duduk berdua di teras depan rumahnya. Setelah ngobrol kesana-kemari, aku mulai mengarahkan perbincangan. Badanku mulai berkeringat dingin, telapak tanganku basah, detak jantung udah seperti orang dikejar setan. Kukumpulkan segenap keberanianku untuk menyatakan cinta. Tapi entah kenapa, lidah dan mulut ini kayaknya gak mau nurut sama perintah otak. Kata2 yg udah aku susun gak bisa keluar, macet sampe tenggorokan. Akhirnya aku hanya bisa menyorongkan kado padanya dgn diam. Ucapan “selamat ulang tahun” menyusul beberapa detik kemudian, itu pun dgn setengah berbisik. Dia membalas “terima kasih”, juga dgn setengah berbisik. Setelah itu kami sama2 diam hingga beberapa menit. Aku kebingungan, gak tau apa yg harus aku lakukan. Saking bingungnya, setelah momen diam itu aku pamit pulang. Gak menunggu jawaban, segera kusambar sepedaku dan kukayuh cepat2 meninggalkan rumahnya. Sepanjang perjalanan aku hanya bisa mengumpat dan mengasihani diri sendiri. Bodoh! Pengecut! Katrok!

Setelah kejadian itu aku agak menjauh darinya. Aku merasa kehilangan muka di hadapannya. Aku butuh waktu untuk berdamai dgn diriku sendiri. Beberapa hari kemudian aku dengar dari sahabatnya kalo dia jadian dgn cowok yg aku ceritakan di atas, cowok yg aku anggap ancaman. Cowok itu menyatakan cintanya sehari setelah aku gagal menyatakan cintaku. Pedih!

Sejak itu, walaupun kami udah “berbaikan” lagi, hubungan pertemanan kami jadi berbeda. Mungkin krn dia udah berstatus “punya pacar”, kami sama2 menjaga jarak. Terasa ada dinding tak tampak di antara kami. Kami sibuk dgn diri kami masing2, apalagi ujian akhir semakin dekat. Tapi aku tetap mencintainya.

Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Kami berdua sama2 lulus. Pada saat hari perpisahan, dia bertingkah agak aneh. Setiap kali aku berusaha mendekatinya, untuk mengucapkan selamat, dia selalu berusaha menghindar dariku. Tapi matanya tak pernah beranjak lama dariku. Jadinya kami hanya saling pandang dari jarak jauh di tengah ramainya perayaan perpisahan. Kami pun berpisah, tanpa ucapan apa pun. Belakangan aku tau bahwa dia udah putus dgn pacarnya beberapa hari sebelum hari pengumuman kelulusan.

Aku kemudian melanjutkan kuliah ke Malang. Dia, aku dengar dari teman2, melanjutkan kuliah ke Surabaya. Sejak hari perpisahan, kami tidak pernah bertemu lagi. Tempat baru, teman baru, dan kegiatan baru di kampus membantuku melupakan dia dan kisah2 selama SMA.

bersambung… Katakan Cinta (2)

3 Responses to KATAKAN CINTA (1): Masa SMA

  1. setia says:

    yah koQ bersambung mana lanjutannya atuh …. seru nih

  2. […] navigation « Previous Post Next Post […]

  3. […] kisah lengkapnya di: – Katakan Cinta (1): Masa SMA – Katakan Cinta (2): Masa Kuliah – Katakan Cinta (3): Akhir Cinta Pertama Like this:LikeBe the […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: