KATAKAN CINTA (3): Akhir cinta pertama

dari… Katakan Cinta (2)

Statusnya yg sudah bertunangan menjawab keherananku atas sikap induk semang dan beberapa teman kosnya yg sering menatapku dgn curiga dan rasa tidak suka. Termasuk menjawab kenapa seiring dgn semakin akrabnya kami, dia lebih suka ketemuan di luar kosnya. Aku pikir mungkin krn mereka tidak suka padaku atau salah satu dari mereka atau sahabat mereka juga sedang mendekati dirinya. Aku juga tidak mengira bahwa cincin yg melingkar di jari manis kanannya adalah cincin tunangan krn selain modelnya yg biasa, juga krn dia jarang mengenakannya.

Untuk mencari informasi yg lebih lengkap, aku pun bergerilya menghubungi sahabat2-nya, baik sahabat lama dari SMA yg sekampus dgnnya maupun sahabat kuliahnya. Untunglah, strategiku untuk mendekati sahabat2-nya ada manfaatnya. Ternyata memang benar dia sudah bertunangan. Uniknya, tunangannya adalah teman SMA kami juga, bahkan pernah sekelas dgnku. Rupanya dia juga tipikal cowok yg pantang menyerah. Walaupun sempat ditolak waktu SMA, dia tetap melanjutkan perjuangan cintanya hingga akhirnya sukses menjadi tunangannya.

Hmmm… sainganku cukup berat rupanya. Berhubung status mereka sudah tunangan, berarti aku harus menjanjikan lebih dari itu: pernikahan. Terus terang hal ini cukup jadi beban buatku. Memikirkan menikah di awal usia 20-an tentu bukan hal yg mudah, apalagi kami masih sama2 kuliah. Bagi tunangannya mungkin tidak terlalu masalah krn dia berasal dari keluarga berada. Ortunya tentu tidak keberatan membantu mereka di awal2 pernikahan. Sementara aku berasal dari keluarga yg biasa2 saja, plus ortuku masih punya beban tanggungan 3 org adikku. Mengharapkan bantuan ortuku jelas tidak etis. Aku juga harus berpikir realistis. Tapi aku juga tidak mau menyerah begitu saja. Kita lihat saja nanti siapa yg bisa memenangkan hatinya.

Sesuai dgn janjinya, dalam “kencan” kami berikutnya, dia bercerita tentang status tunangannya. Secara umum tak beda jauh dgn informasi yg telah kuperoleh dari sahabat2-nya. Tapi ada beberapa hal yg masih jadi pertanyaan bagiku.

“Jadi, kalian sudah serius untuk menikah?”, tanyaku setelah dia bercerita tentang status tunangannya.

“Entahlah, Bee. Sebenarnya aku waktu itu belum ingin ada ikatan resmi. Tapi ortunya mendesak ortuku. Desakan dari ortunya dan juga ortuku membuat aku gak punya banyak pilihan selain setuju.”, jawabnya sambil menerawang.

“Apakah kamu mencintainya?”

“Mungkin.”

“Loh?”

“Aku mengaguminya, mungkin aku salah menafsirkan kekagumanku sbg cinta.”

“Tiap org punya definisi yg berbeda ttg cinta.”

“Ya, tapi rasanya aku harus mendefinisikan ulang arti cinta yg aku pahami selama ini.”

“Kalo boleh tau, gimana sih perasaanmu padaku? Baik dulu waktu SMA maupun sekarang.”

Dia tersenyum. “Krn kamu udah menyatakan perasaanmu, aku akan jujur. Waktu SMA dulu, aku menyukaimu. Kamu teman yg baik dan banyak membantuku. Aku senang jika kamu ada di dekatku.”

“Sebagai teman?”

“Iya”, jawabnya sambil tertawa. Aku meringis kecut.

“Tapi itu mungkin salahku juga”, katanya melanjutkan.

“Maksudmu?”

“Sejak dulu, aku berprinsip bahwa aku harus mengagumi org yg aku cintai. Dia harus bisa menjadi idolaku. Walaupun aku suka padamu, tapi aku gak mengagumimu. Andai kau nembak waktu SMA, mungkin kamu bakal aku tolak juga”, jelasnya diikuti tawa kecil.

“Untung aku gak nembak ya?”

Dia hanya tertawa.

“Kalo sekarang?”, tanyaku lagi.

“Ya masih sama. Aku senang dekat dgnmu, kamu bisa bikin aku ketawa dan terhibur.”

“Emang aku badut? Sialan!”

Dia pun tertawa lagi. Kuketok kepalanya.

“Makanya aku bilang, mungkin aku harus mendefinisikan ulang makna cinta bagi diriku.”

“Berarti aku masih punya peluang nih?”

“Yeee, jgn ge-er dulu dong!”, jawabnya sambil mencibir jenaka.

“Eh, dengerin ya. Kalo kamu mau memutuskan tunangan kalian hari ini, besok aku langsung melamar kamu. Kalo perlu langsung nikah sbg bukti keseriusanku.”

“Ah, sudahlah. Aku gak mau mikirin nikah sekarang. Kita lihat saja nanti deh.”

Begitulah hubungan kami, menggantung tak jelas. HTS atau hubungan tanpa status kalo istilah anak sekarang. Dia memberiku (dan dirinya sendiri) kesempatan untuk dekat, tapi tidak ada penegasan status yg pasti. Kuanggap kesempatan itu sebagai peluang. Siapa tau dia kemudian berubah pikiran, memutuskan tunangannya dan mau menikah dgnku. Aku masih berharap. Berharap banyak malah.

Walaupun sbg org ketiga dalam hubungan mereka kadang terasa menyebalkan, tapi aku menikmatinya. Kadang jika dia tidak bisa menghindari kencan dgn tunangannya, jadilah aku gigit jari di Malang. Dia cukup cerdik mengatur jadwal kencan sehingga kami masih sering bisa kencan di akhir minggu tanpa diketahui tunangannya.

Pernah suatu hari kami sedang jalan2 di salah satu mall terbesar di Malang (waktu itu). Tanpa disangka, kami bertemu dgn keluarga sepupu tunangannya yg kebetulan juga berbelanja di mall yg sama. Kami sudah tidak mungkin menghindar. Dia sudah kebingungan dan panik. Aku membantunya menyiapkan skenario berkelit, walaupun dalam hati ingin rasanya memperkenalkan diri sbg pacarnya. Tapi melihat wajahnya yg pucat, aku gak tega. Jadilah aku dikenalkan sbg sepupunya. Dalam perjalanan pulang ke Surabaya, dgn penuh tawa kami ngobrol ttg kesuksesan kami mengelabui keluarga sepupu tunangannya. Dia bilang kami gila.

Namun se-pandai2-nya dia menutupi, akhirnya tunangannya mencium gelagat hubungan kami. Itu terjadi ketika hubungan kami menginjak usia 1 tahun lebih. Berhubung tidak ada bukti kuat selain gosip2 di sekitar teman2-nya, tunangannya tidak bisa berbuat banyak. Tidak ada perang bharata yudha antara kami bertiga. Yg dilakukan oleh tunangannya adalah mengajak nikah. Kebetulan dia baru saja lulus, tunangannya punya alasan kuat. Apalagi tunangannya menyusul lulus beberapa bulan kemudian. Beragam alasan dia berikan untuk menunda pernikahan. Awalnya dia bilang, menunggu wisuda. Setelah wisuda, dia bilang ingin kerja dulu. Setelah kerja, dia bilang ingin nabung dulu. Namun semuanya hanya untuk menunda waktu saja. Rupanya dia tidak cukup berani memutuskan hubungan dgn tunangannya. Bukan krn dia takut menghadapi tunangannya, tapi takut menghadapi ortunya. Ortu tunangannya telah cukup banyak membantu keluarganya. Dia tidak mau dirinya dan keluarganya dibilang sbg org yg tidak tahu berterimakasih.

Semua informasi terkait ajakan nikah tunangannya aku peroleh dari sahabat2-nya. Dia tidak pernah mau menceritakan apa pun tentang tunangannya padaku. Jika kutanya, dia selalu bilang dia tidak ingin membicarakannya saat sedang bersamaku. Jika kudesak, dia marah dan bilang itu adalah urusannya. Aku pun terpaksa mencari informasi dari pihak ketiga yg bisa dipercaya.

Hingga suatu hari. Hari itu hari Sabtu, malam minggu, jam 11 malam, dia menelponku. Kami ngobrol kesana kemari ttg berbagai hal, sebelum dia menyampaikan keputusan akhir dari hubungan kami.

“Bee, aku ingin ngomong sesuatu tentang hubungan kita.”, ujarnya membuka topik.

“Ya ngomong aja, emang dari tadi kita ngapain? Nyuci piring?”, jawabku sambil tertawa.

“Yeee, ini serius.”

“Iya, iya… ada apa?”

“Sori, mulai besok kita gak bisa ketemuan lagi.”

“Ya udah, gak papa. Kamu ada acara sama tunanganmu kan?”, jawabku. Aku belum menangkap arah pembicaraannya. Maklum, sudah mulai mengantuk.

“Bukan hanya besok, tapi seterusnya, kita gak perlu ketemu lagi.”

“Loh? Maksudnya?”, ujarku mulai serius, baru ngeh. *dasar oon!*

“Aku besok akan balik ke kampung halaman.”

“Ada apa?”

“Aku akan menikah, senin besok.”

“Hah?”

“Aku akan menikah, senin besok.”, katanya lagi lebih keras.

“Iya, aku denger, aku cuman kaget.”, jawabku. Hatiku mulai deg2-an.

“Serius nih? Menikah dgn tunanganmu?”, tanyaku.

“Iya”, suaranya bergetar. Aku tahu dia sedang menahan tangis.

“Kamu yakin?”

“Entahlah, Bee.”, jawabnya diiringi isak kecil.

“Sudah kamu pertimbangkan lagi, dgn matang?”, aku mencoba meyakinkan dirinya. Ah, mungkin lebih tepatnya meyakinkan diriku sendiri.

“Iya”, jawabnya lagi.

Aku diam. Kami sama2 diam. Samar2 aku mendengar suara tangisnya. Perasaanku bergejolak, marah, sedih, kecewa, sakit, kaget, hilang harapan, semuanya bercampur aduk. Cukup lama kami dalam diam, kecuali saling bertukar suara hela nafas.

“Ya sudah, jika itu memang keputusanmu, aku hargai, apa pun resikonya.”, ujarku memecah kebekuan. Suaraku bergetar.

“Maafkan aku, Bee. Aku sudah menyakiti hatimu. Seharusnya kita gak perlu melakukan semua ini. Seharusnya kamu gak perlu mencari dan menemuiku. Seharusnya aku tidak memberimu kesempatan.”

“Sudahlah. Sejak aku tau kamu bertunangan, aku sudah menyiapkan diri untuk segala kemungkinan dari akhir hubungan kita.”, aku mencoba menenangkan diri.

Dia tidak menjawab. Hanya kudengar isakan tangis di ujung sana.

“Udah jam 2 nih. Kamu istirahatlah, aku juga perlu menenangkan diri.”

“Bee, maafkan aku ya.”, ujarnya dgn penuh rasa bersalah.

“Iya, sama2.”

Kami kemudian mengakhiri perbincangan. Seusai telepon itu, pikiran dan hatiku kembali berkecamuk. Aku bingung harus melakukan apa.

Cinta pertamaku berakhir sudah. Tak ada lagi kencan sembunyi2. Tak ada lagi telepon panjang nan mesra. Untunglah aku bukan tipikal cowok yg suka ber-lama2 tenggelam dalam masalah. Aku masih muda. Jalan hidupku masih panjang. Life still goes on. Aku yakin aku bisa menemukan cinta keduaku, ketigaku, dan seterusnya. Bukan tidak mungkin aku akan menemukan cewek yg lebih baik darinya. Masih banyak gadis2 dan janda2 yg merindukan belaian kasih sayangku.😀

Epilog

Malang dan Madura, Ramadhan 1430 H.

8 Responses to KATAKAN CINTA (3): Akhir cinta pertama

  1. Bryan says:

    bagus……
    jangan pernah menyerah, pasti ada yang lebih baik yang sudah disediakan untukmu. sebab jika pakai teori 2 sisi mata uang, seandainya anda jadi tunangannya pasti “ndak mau” khan pasangan anda juga “pacaran” lagi ???

  2. herux says:

    Wah, cinta mu kasian banget ya ? dikit mirip ama diriku hihi..

  3. bprasetio says:

    @bee:
    KATAKAN CINTA untuk episode dengan Istri gimana tuh ? rasanya asik juga tuh .. hehehe..

  4. Anshory says:

    Saya koq ikut2an sedih. . . .Wanita itu juga manusia, perlakukanlah dia sebagai manusia bukan malaikat ato dewi. . .

    Saran buat Mas, bisa baca2 artikel SOLUSIROMANSA.COM..

  5. belt wanita says:

    sometimes perempuan termasuk makhluk yang aneh. maunya macam-macam. Sulit dimengerti. tetapi cewek memang lebih banyak bicara. kata-kata yang dilontarkan rata-rata 2 kali lipat lebih banyak dari laki-laki. Informasi survey – memang begitu, dan harus dipenuhi. biar gak cepat tua kali ya…. :d so dengarkanlah…

  6. hahaha says:

    enaknya ambil yg gadis penjual jamu ..

  7. […] Katakan Cinta (3) LD_AddCustomAttr("AdOpt", "1"); LD_AddCustomAttr("Origin", "other"); […]

  8. […] kisah lengkapnya di: – Katakan Cinta (1): Masa SMA – Katakan Cinta (2): Masa Kuliah – Katakan Cinta (3): Akhir Cinta Pertama Like this:LikeBe the first to like this […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: