Perempuan Sederhana Itu

Sudah dua tahun kami hidup bersama di rumah ini. Sebuah rumah kecil di pinggiran ibukota. Hanya itu yg mampu kuberikan untuknya karena penghasilanku sebagai pelukis dan penulis lepas memanglah tidak seberapa. Tapi dia tidak pernah protes. Yg paling penting aku bisa hidup bersamamu, mas. Begitu dia pernah berbisik padaku, setelah kami bercinta di pagi hari.

Aku tidak salah memilih dia. Dia begitu penuh pengabdian. Prinsip hidupnya sederhana. Tidak neko2, kata orang. Mungkin karena dia seorang perempuan desa.

Suatu pagi dia menemaniku sarapan, di meja makan kecil kami. Selesai makan, aku sorongkan sebuah kotak kecil padanya. Apa ini? Ujarnya sambil tersenyum lebar. Perlahan dia membuka kotak itu. Matanya terbelalak begitu melihat isi kotak itu. Sebuah gelang emas kecil. Dia memelukku erat sambil membisikkan terima kasih. Kau tidak perlu melakukan ini, mas. Katanya setelah dia duduk kembali di sampingku. Matanya ber-kaca2. Tidak apa, kau seharusnya menerima lebih dari itu. Jawabku.

Di hari yg lain, aku menjadikannya sasaran marahku. Sebenarnya bukan dia yg salah, bahkan dia tidak ada sangkut paut apa pun. Semua gara2 aku tidak bisa segera menyelesaikan lukisan pesanan pelanggan. Otakku, entah kenapa, macet. Tidak ada inspirasi dan mood untuk melanjutkan lukisan yg baru setengah jadi itu. Tapi dia tidak marah. Dia begitu sabar dan tetap melayaniku dgn baik. Mungkin kau perlu refreshing sebentar, mas. Katanya.

Pagi itu dia sedang sibuk menjemur pakaian di belakang rumah. Dia perempuan sederhana. Dia tidak terlalu cantik, tapi cukup manis. Rambut hitamnya lurus tergerai sebahu. Kulitnya coklat muda. Matanya seperti pelangi. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, namun padat berisi. Dia perempuan sederhana, tapi mempesona.

Kupeluk tubuhnya dari belakang. Kukecup lehernya. Dia tertawa kecil. Jgn sekarang, aku masih harus membereskan cucian ini, katanya. Ya sudah. Aku kembali ke dalam rumah. Dia memberikan sebuah kecupan hangat di bibirku, sebelum aku meninggalkannya.

Aku membaringkan tubuh di kamar. Mungkin karena semalam aku begadang melanjutkan menulis novel, tak butuh waktu lama aku sudah tertidur.

Pagutan di bibir membangunkanku. Kulihat dia telah berbaring di sampingku. Tubuhnya nyaris telanjang. Tak tahan, kupagut bibirnya. Kutindih tubuhnya. Namun, tiba2 terdengar ketukan keras di pintu kamar.

“Mas, buka pintunya. Dompetku ketinggalan di lemari. Kamu tidur lagi ya? Dasar pemalas!”

Itu suara istriku. Mati aku!

___

Malang, Desember 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: