Flipboard: Sebuah Ulasan

Beberapa hari yg lalu seorang teman di Facebook merekomendasikan sebuah aplikasi untuk iPad: Flipboard. Aku kayaknya pernah dengar atau baca aplikasi ini, tapi lupa fungsinya buat apa. Kebetulan tadi pagi lagi ada waktu luang, iseng aku coba unduh dan install aplikasi tsb, sekalian baca2 ulasannya di internet.

Singkat cerita, aplikasi berhasil diunduh, diinstal, dan aku mulai ber-main2 dengannya sepanjang pagi tadi. Langsung saja, berikut ulasannya…

Apa itu Flipboard?

Flipboard pada dasarnya adalah aplikasi pengumpul berita (news aggregator) dan menampilkan berita dengan tata letak ala majalah. Yg unik, berbeda dgn kebanyakan pengumpul berita yg mengambil umpan dari RSS, aplikasi ini mengambil umpan berita dari pesan dari Twitter dan/atau Facebook. Itu sebabnya aplikasi ini menyebut dirinya sebagai “personalized social magazine“. Jika pesan berisi tautan ke situs lain maka aplikasi ini akan mengambil isi berita di tautan tsb dan menampilkannya untuk pengguna. Menarik bukan?

Keistimewaan

Keistimewaan utama aplikasi ini adalah caranya dalam menampilkan berita, yaitu mengatur tata letak berita menyerupai majalah. Algoritma tata letaknya cukup keren karena bisa dinamis dan mampu menyesuaikan dalam peletakan teks panjang, teks singkat, gambar besar, gambar kecil, dan video. Halaman depan (cover) aplikasi secara dinamis memilih dan menampilkan berita secara bergantian (highlight). Dengan cara menampilkan berita ala majalah, pengguna menjadi tidak bosan krn berita tidak lagi tampil sekedar berupa daftar teks dan tautan (seperti di Google Reader, misalnya). Apalagi menikmatinya di iPad, benar2 nyaman dan memanjakan mata. Terlebih lagi membacanya di pagi hari ditemani secangkir kopi panas dan sebatang rokok, sip tenan!😀

Kelebihan lainnya adalah cara penggunaannya yg sangat mudah. Layaknya sebuah majalah, pengguna membuka halaman demi halaman berita yg ada. Krn aplikasi ini berjalan di iPad maka itu pun dilakukan dgn jari, persis seperti kita membuka majalah biasa. Jika ada berita yg menarik, tinggal sentuh saja teksnya maka aplikasi akan menampilkan teks yg lebih panjang. Masih belum puas dgn teks yg muncul, tinggal sentuh saja tautan asal sumber berita maka aplikasi akan mengantar pengguna ke halaman web aslinya. Aplikasi ini benar2 menjadikan iPad sebagai majalah digital yg dinamis.

Buat pengguna yg belum terbiasa membaca berita dari internet, aplikasi ini juga telah menyediakan “paket” sumber berita (disebut category) yg cukup kaya dan beragam. Tentu saja sumber beritanya dari luar negeri (baca: bhs inggris) krn aplikasi ini bikinan orang bule sana. Ada paket warta (news) yg disebut FlipNews, ada FlipFilm yg berisi kumpulan berita seputar filem luar negeri, ada juga kumpulan berita politik, ekonomi, sains, dan sebagainya. Pengguna tinggal pilih dan nikmati.

Bagi pengguna yg sudah punya langganan sumber berita sendiri, khususnya yg lokal (dalam negeri) juga bisa memasukkannya dengan mudah. Syaratnya hanya satu: sumber berita mengumpankan beritanya ke Twitter. Untungnya, hampir seluruh media lokal kita cukup mengikuti perkembangan dunia daring sehingga hampir semuanya punya laman Twitter, sebut saja misalnya detik.com, kompas.com, republika.co.id, dan sebagainya. Jadi, pengguna iPad lokal tidak perlu khawatir. Jika memang sumber berita langganan Anda tidak punya laman Twitter, lontarkan saja saran dan kritik ke pengelolanya (kemudian berharaplah saran Anda dituruti).

Dengan sumber berita dari laman Twitter, ada keunikan kecil dari aplikasi ini. Kadang di antara kolom2 berita, terselip pesan2 singkat yg sifatnya non warta yg bisa berisi apa saja, mulai warta dadakan (breaking news), pengumuman, undangan, ucapan (quote), atau sekedar sapaan. Sebuah sentuhan kecil tapi kadang cukup bermakna, yg tidak kita dapatkan dari umpan berita RSS.

Oh ya, satu lagi, apa saya sudah bilang kalo aplikasi ini gratis?🙂

Kekurangan

Satu kekurangan yg terasa paling mengganggu krn justru bertentangan dgn konsep majalah yg diusung aplikasi ini adalah pemuatan isi berita yg tanggung. Tiap pembaca majalah tentu ingin membaca berita atau artikel secara tuntas, bukan sekedar potongan berita atau satu-dua gambar saja. Kalau cuma sepotong2, tentu tidak layak disebut majalah. Namun hal itulah yg dilakukan oleh aplikasi ini!

Ketika pengguna menyentuh teks dalam kolom berita dan berharap akan muncul tulisan lengkap dan tuntas berikut gambar atau video yg menyertainya (sesuai yg ada di berita aslinya), maka yg diperolehnya hanya kekecewaan. Alih2 tulisan lengkap, yg muncul hanya beberapa paragraf awal saja serta satu gambar utama. Tidak puas dengan itu? Silakan sentuh tombol untuk membuka laman aslinya melalui perambah. Kecewa? Hampir pasti!

Konsep aplikasi yg cukup bagus, bahkan inovatif, namun dgn eksekusi yg tanggung. Tampilan yg menawan, interaksi yg nyaman, kemudahan yg memanjakan, yg dirasakan pengguna sejak awal membuka aplikasi ini menjadi hilang krn kekecewaan akibat isi berita yg tidak tuntas. Kalau akhirnya sama2 membuka sumber berita utama dan membaca berita dari sana, lalu apa bedanya dgn penampil RSS biasa?

Akibat dari eksekusi yg tanggung ini, pengguna hanya akan tertarik di awal2 mengenal aplikasi ini saja. Se-bagus2-nya tampilan, lama-kelamaan toh akan bosan juga. Ketika sudah bosan, bisa dijamin pengguna akan kembali ke penampil RSS konvensional. Dan itu yg saya lakukan setelah sekitar satu jam ber-main2 dengan aplikasi ini. Entah dgn pengguna lain, tapi saya sendiri pesimis akan terus menggunakan aplikasi ini.

Sebenarnya kekurangan ini secara teknis dapat dengan mudah diatasi krn saya lihat teknik pengambilan beritanya mirip dgn fitur reader yg ada di perambah Safari. Aplikasi mengambil satu halaman penuh kemudian menyaring bagian2 penting saja yg merupakan isi dari berita serta membuang elemen lain yg bukan bagian dari berita (iklan, menu, aksesoris tampilan, dlsb). Tapi entah apa alasan pengembangnya mengapa tidak seluruh berita ditampilkan secara tuntas. Alasan legalitas dan hak cipta mungkin?

Kekurangan kedua yg cukup mengganggu adalah tidak adanya fitur penyimpanan luring (offline). Sekali lagi, ini merupakan eksekusi yg tanggung. Teks dan gambar toh sudah diunduh dan ditampilkan, kenapa tidak sekalian disimpan di lokal? Dengan disimpan di lokal, tentu akan lebih nyaman krn pengguna bisa membacanya di lain waktu tanpa harus mengunduh ulang. Cara ini juga lebih hemat bandwidth dan meningkatkan responsivitas aplikasi krn aplikasi cukup mengunduh berita2 terbaru saja. Bagaimana pula jika pengguna sedang asyik membaca lalu koneksi internetnya terputus?

Masih ada kekurangan2 lainnya, seperti pilihan template agar tampilan dan tata letak majalah bisa lebih bervariasi, konfigurasi warna dan font yg lebih personal, opsi untuk membaca umpan berita dari RSS, beberapa bug kecil, dan sebagainya. Namun kekurangan2 tsb tidak sampai mengganggu kenyamanan penggunaan aplikasi secara keseluruhan. Jika aplikasi ini terus dikembangkan, saya percaya kekurangan2 yg sifatnya minor tsb pasti akan ditambahkan dan diperbaiki di kemudian hari.

Kemampuan membaca umpan RSS nampaknya akan ditambahkan di versi selanjutnya krn permintaan untuk itu cukup tinggi. Wajar saja krn tidak semua sumber berita mau repot2 membuat umpan Twitter, paling hanya sumber berita besar dan utama. Di masa keterbukaan informasi ini, dimana nyaris setiap orang bisa menulis berita sendiri, tentu asupan informasi yg hanya mengandalkan sumber berita utama (baca: media konvensional semacam penerbit koran, radio, dan televisi) masih dirasa kurang. Halo para narablog!😉

Kesimpulan

Flipboard adalah aplikasi dengan konsep yg bagus, unik, dan inovatif. Kenyamanan dan kemudahan saat menggunakan (user experience) aplikasi ini cukup bagus. Namun sangat disayangkan eksekusinya justru mencederai konsep yg diusungnya. Dengan mengandalkan umpan berita hanya dari Twitter juga membatasi jangkauan informasi yg bisa diperoleh melalui aplikasi ini. Mungkin pengembang aplikasi ini perlu menyewa teman saya yg menyarankan aplikasi ini ke saya, untuk membantu mereka menjadikan aplikasi ini lebih baik.

Apakah saya akan menjadi pengguna setia aplikasi ini? Nampaknya tidak. Entah jika di kemudian hari aplikasi ini bisa mengatasi dua kekurangan terbesar yg saya ulas di atas. Setelah menulis ini, saya akan kembali ke Google Reader, Twitter app, dan Facebook app di iPad saya.

Nilai: 2,5 / 5

3 Responses to Flipboard: Sebuah Ulasan

  1. bangaip says:

    Maap agak telat. Hore, Masnya nulis lagi🙂

  2. Masih bingung menggunakan aplikasi ini….

  3. Inunk Aleska says:

    cara memasukkan gambar pada flipboard ini gimanah mas ¿¿¿ mohon bantuannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: