7 Tahun 10 Tahun

Hari ini, 7 tahun yg lalu, di sebuah sudut kota kecil di Pulau Garam, aku mengikrarkan diri untuk menjadi pemimpinmu. Demikian pula dirimu, mengikrarkan diri untuk menjadi makmumku. Dunia akhirat. Selamanya. Insya Allah.

Engkau waktu itu begitu indah. Sangat indah. Mungkin bagi sebagian orang, dirimu bukanlah wanita tercantik. Aku pun tahu dirimu bukan wanita tercantik yg pernah aku kenal. Banyak wanita lain yg lebih cantik darimu. Tapi mereka bukan engkau. Dengan ketulusan cintamu, engkau adalah wanita terindah sedunia bagiku. Itu yg membuatmu berbeda dari wanita lain.

Aku waktu itu begitu biasa. Serba biasa. Berasal dari keluarga biasa saja. Pemuda yg baru lulus kuliah dengan nilai biasa saja. Dengan tampang dan gaya yg biasa saja. Baru bekerja dengan penghasilan yg biasa saja. Aku tak tahu apa yg membuat dirimu tertarik padaku bahkan bersedia menjadi istriku. Pokoknya, I’m sooo ordinary, nyaris tanpa keistimewaan apa pun. Kecuali 1 hal: semangat luar biasa untuk menjadi yg terbaik bagimu. Itu saja.

Kita kemudian memulai hidup bersama, dengan sederhana. Aku hanya mampu mengontrak sebuah kamar untuk tempat kita bernaung. Ya, hanya sebuah kamar, bukan sebuah rumah. Itu pun aku peroleh atas kebaikan pemilik rumah yg kebetulan adalah temanku. Aku tahu itu cukup berat bagimu karena engkau bukan berasal dari keluarga miskin. Tapi tak pernah sekali pun aku dengar keluhan darimu. Tak pernah satu kata pun. Oh sayang, betapa aku jadi malu padamu. Namun itu pula yg melecut semangatku mencari nafkah.

Alhamdulillah, Tuhan rupanya menghargai keteguhanmu. Bisnisku meningkat sehingga pendapatan pun bertambah. Hanya 10 bulan kita menikmati keindahan di kamar sempit itu. Bulan kesebelas aku mampu mengontrak sebuah rumah kecil -tipe 36- untukmu. Engkau begitu gembira saat aku sampaikan kabar ini. Ah, mungkin kau sudah terlalu suntuk mendekam di kamar sempit itu.

Engkau sudah mengandung buah cinta kita saat kita pindah ke rumah kontrakan. Aku bersyukur dikelilingi oleh sahabat-sahabat yg begitu peduli pada kita. Dukungan mereka begitu berharga bagi kita yg hidup jauh dari keluarga. Boyongan jadi terasa ringan dengan adanya bantuan dari teman-teman kita. Salah satu dari mereka menghadiahi kita sebuah lemari es yg belum mampu aku beli. Sementara salah satu yg lain menghadiahi kereta dorong untuk calon bayi kita. Terima kasih teman-teman. Terima kasih.

Beberapa bulan kemudian lahirlah buah hati kita yg pertama. Segala hal yg pertama memang sangat berkesan. Sebagaimana cinta pertamamu padaku. Demikian juga anak pertama kita. Kuberi nama jagoan kecil kita Bily yg merupakan singkatan dari “Because I Love You”. Yg juga sekaligus gabungan nama kita berdua: Bee and Lily. Hadirnya Bily membuat kehidupan kita semakin bahagia dan berwarna. Aku merasa menjadi lelaki paling bahagia di dunia.

Entah karena aku yg begitu menggilaimu, atau karena engkau yg suka menggodaku, atau karena candu bahagia dari Bily, tak butuh waktu lama bagi kita untuk memilliki buah hati yg kedua. Dan anak kedua kita menyusul ke dunia menemani kakaknya. Kali ini kuberi nama: Bina. Yg artinya sebuah bunga yg indah. Seindah ibunya.

Mungkin ada benarnya pepatah “banyak anak banyak rejeki” karena seiring usia anak kita, bisnisku pun semakin maju. Walaupun hidup kita belum bisa dibilang berlebihan, tapi juga tak bisa dibilang kekurangan. Jika dulu perlu menabung 2-3 bulan untuk sekedar makan enak di kedai Wong Solo, kali ini bisa kita lakukan setiap bulan tanpa khawatir kekurangan uang di akhir bulan.

Berkat dukunganmu dan senyum-tawa malaikat kecil kita, bisnisku semakin melesat. Hanya butuh waktu 4 tahun untuk mewujudkan keinginanmu memiliki rumah sendiri dengan taman kecil di halaman belakang. Taman kecil dimana anak-anak kita bisa berlari dan bermain sepuasnya. Semua itu sudah berhasil kuwujudkan, sayang. Untukmu, untuk anak-anak kita.

Tak terasa, 7 tahun kita hidup bersama. Dan 10 tahun kita berbagi rasa. Rasanya seperti baru kemaren aku menikmati harum tubuhmu pertama kali. Rasanya seperti baru kemaren lusa engkau menjawab pertanyaanku dengan anggukan malu-malu. Cinta itu masih ada, sayang. Masih bergelora. Aku masih tergila-gila padamu. Bahkan tak ada rasa bosan seperti yg dibilang banyak orang ketika usia perkawinan melewati 5 tahun. Aku yakin engkau pun masih mencintaiku. Masih panas. Sepanas permainan cinta kita semalam.

7 tahun bukan waktu yg singkat. 10 tahun bukan waktu yg sebentar. Namun semua itu terasa sebentar, terasa singkat, ketika kunikmati bersamamu dan anak-anak kita. 7 tahun terasa begitu tentram tanpa masalah yg berarti. Semua berkat keteguhan dan pengabdianmu sebagai istri. 10 tahun terasa begitu damai tanpa ombak yg berarti. Semua berkat cintamu yg begitu indah dan tulus. Tentu ada letupan dan riak sesekali, namun tak pernah ada badai dan huru-hara. Karenamu aku sanggup menghadapi hidup dengan penuh percaya diri sebagai laki-laki. Karenamu aku mampu membahagiakanmu. Membuatmu bahagia adalah kebahagiaan bagiku.

Namun kehidupan kita bukan kehidupan di negeri dongeng yg selalu dijamin berakhir dengan kalimat “live happily ever after”. Kehidupan kita adalah kehidupan manusia biasa. Yg suatu saat ada di atas, namun saat lain ada di bawah. Cobaan itu datang saat kehidupan kita sedang di puncak kebahagiaan. Mungkin kita terlalu hanyut dalam kebahagiaan dan sempat melupakan-Nya. Tuhan sedang menguji kekuatan dan daya tahan cinta kita. Tuhan sedang menguji kekuatan iman dan daya tahan hidup kita. Jika kita bisa melewatinya, percayalah, kesembuhan itu pasti datang.

Sayang, selama kau masih bertahan di sampingku, selama itu pula aku akan terus berjuang. Dan aku yakin aku akan mampu melewati semua ini. Demi kamu. Demi anak-anak kita. Demi Tuhan.

It’s all because I love you, Lily. And it’s all because God loves us, too.


Malang, 5 Juni 2011.

4 Responses to 7 Tahun 10 Tahun

  1. cahyo says:

    not just romantic story….but struggle of live.
    Selamat buat Bisma Jayadi
    Mudah2 an tetap bisa mengikuti keluhuran resi Bisma
    Walaupun bisnis sudah melesat.
    Sekali lagi selamat berbahagia..
    dan bagilah kebahagiaan dengan orang-orang yang kurang beruntung.

    Tx

  2. Abdellah says:

    subhanalloh…
    ungkapan yang sangat indah..
    aku sampek meh mbrebes mili
    walau mungkin ada banyak hal yang kita kurang cocok, namun hati ini tetap terbuka menjadi teman sejati mu mas. sebagai sesama muslim.

  3. sinux3rejo says:

    aku nangis mocone mas… tnan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: